
Dua hari ini Deana merasa bebas karena Adit ke luar kota membawa Raffi. Kebetulan Raffi tidak bersekolah, sehingga membuat Adit mengajaknya jalan-jalan. Deana memang sengaja tidak diajak karena lelaki tersebut ingin menghabiskan waktu hanya berdua. Bersama putranya karena sudah lama sekali Adit merasa tidak melakukan itu.
Walaupun sedang tidak mengasuh Raffi, tetapi Deana tetap tidak menjenguk ayahnya. Padahal ibunya setiap hari ke sana. Namun, Deana belum tergerak hatinya sama sekali. Rasa kecewa kepada sang ayah benar-benar sudah sampai di relung hati terdalam.
"Bosan juga di rumah terus. Biasanya ada Den Raffi, eh sekarang sepi." Deana mengeluh.
Ia pun mengambil jaket dan berniat untuk jalan-jalan. Sekadar menghilangkan rasa suntuk dan mencari angin segar. Langkah gadis itu berjalan tanpa tujuan, pandangannya memandang ke sekitar. Mencari jajanan yang sekiranya cocok untuk lidahnya.
"Ah, es boba!" Deana terlihat semringah ketika melihat penjual es boba di tempat yang sepi. Tidak ada satu pun pembeli yang mendekat. Merasa kasihan, Deana pun segera mendekati lelaki itu dan memesan satu cup es boba.
Setelah mendapatkan apa yang dimau, Deana pun segera mencari tempat untuk berteduh sembari menikmati segarnya es boba tersebut. Di saat sedang asyik menikmati waktu, ponsel Deana berdering.
Ada nama Mas Adit yang tertera di layar. Dengan gegas, Deana segera menerima panggilan tersebut. Tidak ada hal penting yang diobrolkan oleh mereka selain pertanyaan seputar Raffi. Deana bahkan tanpa malu mengungkapkan rasa rindunya kepada Raffi.
__ADS_1
Hal itulah yang membuat Adit berjanji akan segera pulang karena jujur lelaki itu pun merasa sangat rindu. Setelah puas mengobrol, Deana pun segera mematikan panggilan tersebut.
Kemudian, ia menghabiskan es boba yang tersisa. Namun, selang beberapa saat keanehan terjadi. Deana merasakan kantuk yang sangat hebat bahkan tidak bisa ditahan lagi. Gadis itu pun bangkit berdiri dan hendak pergi, tetapi tubuhnya justru limbung dan jatuh tidak sadarkan diri.
"Dia sudah pingsan. Bawa dia ke hotel dan jangan sampai ada yang curiga."
"Baik, Nona."
***
Setelah merasakan tubuhnya sudah baik, Deana pun kembali membuka mata dengan perlahan. Mengamati area sekitar dan ia merasa sangat asing. Ini bukan di kamarnya.
Deana pun langsung duduk tegak, tetapi ia tersentak setelahnya ketika melihat dirinya tidak memakai pakaian sama sekali.
__ADS_1
Ia telanjang.
Deana berusaha mengingat apa yang terjadi padanya sebelum ini. Namun, ia tidak mengingat apa pun selain minum es boba dan bertukar suara dengan Mas Adit. Setelah itu, ia tidak mengingat apa pun lagi.
Deana sungguh merasa gelisah dan pikirannya pun kacau. Ia segera turun dari ranjang dan mengambil bajunya yang berserakan di lantai. Ia melihat ke sprei tidak ada bercak darah sedikit pun. Bahkan, daerah kehormatannya pun tidak merasa perih sama sekali.
Deana langsung memakai pakaiannya kembali dan berniat hendak pergi dari sana. Namun, perhatiannya teralihkan pada satu amplop coklat yang tergeletak di meja. Merasa penasaran, Deana pun segera mengambil amplop tersebut dan membukanya.
Ia tersentak ketika melihat ada segepok uang di dalam sana juga secarik kertas.
Hai, Nona. Di saat kamu membaca surat ini, itu artinya kamu sudah terbangun. Maaf, aku harus meninggalkanmu karena sedang ada urusan penting. Aku sudah meninggalkan uang sebagai bayaran karena kamu sudah memuaskanku di ranjang. Kamu tenang saja, kalau kamu hamil nanti aku akan memberikanmu uang lagi untuk menggugurkannya. Terima kasih, Cantik. Kupikir kamu masih perawan, ternyata sudah tidak.
Deg!
__ADS_1
Jantung Deana berdebar sangat kencang ketika membaca pesan tersebut. Tidak perawan? Deana sungguh tidak percaya karena selama ini ia sudah menjaga keperawanannya dengan sangat baik. Jangankan bercumbu, berciuman saja Deana belum pernah melakukannya.
"Ini tidak mungkin!" Deana menyobek kertas tersebut lalu menangis terisak.