
Hampir setengah jam mereka bertukar suara. Sampai akhirnya Deana mematikan panggilan tersebut. Setidaknya hal itu sudah bisa mengobati sedikit rasa rindu yang menggebu. Jujur, dalam hati Adit merasa sangat senang karena ia memiliki kesempatan untuk tinggal bersama Deana lagi.
Selain itu, ia pun merasa bersyukur karena Deana sudah mulai memaafkan Bagyo dan jauh di dalam lubuk hatinya, Adit berharap semoga suatu saat hubungan Deana dan Tiara pun akan ikut membaik. Ia ingin semua orang yang dekat dengannya itu akur.
***
Hari ini, setelah dari rumah sakit untuk menjenguk ibunya yang belum juga sadar, Adit pun langsung ke kantor polisi. Selain untuk mengurus Bagyo agar terbebas dari penjara, Adit juga ingin tahu siapa yang sudah berani mencelakai mamanya.
Rasanya Adit tidak sabar ketika melihat rekaman CCTV di jalan yang dilewati oleh mobil mamanya. Keningnya mengerut dalam ketika melihat mobil yang tidak asing, melaju di belakang mobil sang mama.
Ia meminta untuk menjeda video tersebut.u mengamati dengan sangat teliti. Tidak salah lagi, itu seperti mobil milik Sonia. Adit pun mengatakan bahwa mobil tersebut sepertinya milik mantan istrinya.
"Kalau begitu, kemungkinan besar dia adalah pelakunya, tapi kita harus mencari bukti lagi," ujar polisi tersebut.
__ADS_1
Adit pun mengiyakan. Dalam hati ada rasa amarah yang begitu membuncah di dada. Kalau memang benar Sonia yang sudah membuat ibunya terluka, sudah pasti Adit akan memberi balasan kepada wanita tersebut. Setelahnya, Adit pun menemui Pak Bagyo untuk mengatakan kepada lelaki itu bahwa ia akan dibebaskan dalam waktu dekat.
Sontak, hal itu membuat Bagyo sujud syukur. Lelaki itu bahkan sampai menitikkan air mata haru. Entah sudah berapa kali Bagyo mengucapkan kata terima kasih.
***
"Kita mau ke mana, Pa?" tanya Raffi.
"Ke rumah Mama Sonia. Papa sudah lama sekali tidak berkunjung ke sana." Adit menjawab sambil tersenyum simpul apalagi saat melihat Raffi yang bersorak kegirangan.
Melihat sang mantan suami majikannya yang datang, satpam yang bertugas di depan pun hanya mengangguk sopan. Setelahnya, Adit pun hendak masuk, tetapi ketika mengingat satu hal, ia langsung mendekati mobil milik Sonia terlebih dahulu. Yang terparkir tepat di depannya.
Tangan Adit terkepal erat ketika melihat mobil tersebut rusak di bagian depan. Tidak salah lagi, Adit sangat yakin kalau kerusakan mobil itu ada hubungannya dengan kecelakaan sang mama.
__ADS_1
"Ayo, Pa!" ajak Raffi. Menyadarkan Adit.
Lelaki itu pun bersikap tidak tahu apa pun lalu menuntun Raffi masuk ke rumah. Namun, di rumah itu sangatlah sepi. Bahkan seperti tidak berpenghuni. Hanya ada beberapa pelayan yang menyambut karena mereka sudah tahu siapa yang datang.
"Di mana Ibu Sonia?" tanya Adit kepada salah seorang pelayan.
"Sedang di kamar, Pak. Biar saya panggilkan," sahutnya lembut.
Namun, Adit menahan dan mengatakan bahwa ia sendiri yang akan menemui Sonia ke kamar. Beberapa tahun tinggal bersama membuat Adit sudah tidak asing lagi dengan rumah itu. Ia pun naik ke lantai atas di mana kamar Sonia berada.
Pintu kamar wanita itu terbuka sedikit dan Adit bisa melihat Sonia sedang duduk di ranjang dengan posisi membelakangi pintu. Adit pun berjalan mendekat dengan mengendap-endap agar wanita itu tidak tahu.
"Akhirnya kamu menerima panggilanku!" Suara Sonia terdengar penuh emosi.
__ADS_1
Adit yang merasa memiliki kesempatan pun langsung mengambil ponsel untuk merekam percakapan mereka.