DEANA

DEANA
Deana-11


__ADS_3

"Aku tidak mau, Pa! Aku mau ikut Papa!" Raffi meronta saat Adit berpamitan untuk keluar kota selama tiga hari. Biasanya ia akan mengajak Raffi, tetapi kali ini Adit sengaja tidak mengajak bocah itu karena ada sesuatu hal. Ia tidak mau jika terjadi apa-apa pada putranya. Apalagi sekarang ini sudah ada Deana yang menjaga bocah itu. 


"Sayang, dengarkan papa. Akan papa usahakan secepat mungkin menyelesaikan pekerjaan papa agar bisa segera pulang. Kamu di rumah dulu sama Mbak Deana." 


"Aku tidak mau, Pa! Dia wanita jahat sama seperti mama!" tukas Raffi menunjuk-nunjuk wajah Deana sebelum akhirnya kembali tatrum. 


"Sayang, plis. Papa mohon, jangan sampai papa marah padamu. Mengertilah. Papa pergi mencari uang untuk masa depanmu." Adit mulai frustrasi. Jika sedang tatrum seperti ini, Adit terkadang sampai kewalahan sendiri. 


"Den Raffi, sama Mbak Dea dulu ya. Papa Adit biar bekerja. 'Kan Papa Adit mencari uang untuk beli jajan dan mainan buat Den Raffi." Deana mulai merayu bocah itu. Namun, yang didapatkannya justru tatapan sengit darinya. 


"Aku tidak mau denganmu!" tolak Raffi mentah-mentah. 


"Bagaimana kalau kita main bersama nanti. Mbak Dea akan menemani kamu bermain sampai Papa Adit pulang." Deana masih terus berusaha merayu. 


"Sayang, papa sudah ditunggu oleh rekan papa. Maafkan papa harus berangkat. Papa sayang kamu." Adit mencium kening Raffi sampai beberapa kali lalu bergegas pergi dan meminta Deana agar bisa menenangkan Raffi. 


Sebenarnya Adit tidak tega, tetapi dia juga tidak memiliki waktu lagi. Adit merasa yakin kalau Deana pasti bisa membuat Raffi tenang. Dia akan memantau semuanya dari CCTV. 

__ADS_1


Selepas kepergian Adit, tangisan Raffi begitu memekakkan telinga. Bocah itu mengamuk dan meminta sang papa untuk kembali. Meskipun Deana sudah memakai segala cara untuk menenangkan bocah itu. 


"Ya Tuhan, sakit sekali." Deana merintih lirih saat Raffi sudah menjambak rambutnya. Bahkan seperti akan membuatnya lepas dari kulit kepala. Deana hanya bisa meringis kesakitan dan menahan air mata. 


"Aku mau papa! Aku tidak mau kamu!" Bocah itu berontak, tetapi Deana masih berusaha agar tetap tenang. 


"Em, bagaimana kalau Mbak Dea buatkan susu untukmu. Setelah itu kita tidur siang," ajak Deana dengan lembut. 


"Apa kamu bisa buat susu untukku? Aku yakin pasti rasanya tidak enak," cemooh Raffi. Bocah sekecil itu sudah sangat menguji kesabaran Deana. 


Raffi pun menurut meski dengan ragu. Naik ke punggung Deana dan berpegangan erat pada leher wanita itu, seperti akan mencekik. 


"Kamu jangan berpegangan seperti itu. Nanti Mbak Dea mati." Deana terkekeh, sedangkan Raffi hanya menatap dengan bingung. "Kamu berpegangan di pundak Mbak Dea gini." 


Deana pun menuntun tangan kecil Raffi agar berpegangan di pundaknya lalu setelahnya gadis itu berjalan sambil berjingkrak. Seperti seekor kuda yang sedang ditunggangi. Awalnya Raffi hanya diam saja, tetapi setelahnya bocah itu tertawa girang. 


"Ah, Mbak Dea capek sekali." Deana menurunkan Raffi di meja dapur. Napas gadis itu tersengal karena menggedong Raffi tidaklah ringan. 

__ADS_1


Setelahnya, Deana membuatkan susu untuk Raffi sesuai dengan takaran yang diajari oleh Adit. Ia merasa semua sudah benar dan sesuai takaran, tetapi ketika memberikan susu tersebut kepada Raffi, bocah itu justru membuangnya hingga gelas itu pecah berhamburan. 


"Tidak enak!" teriak Raffi. Bersedekap kesal. 


"Kamu jangan turun, biar Mbak Dea bersihkan dulu pecahan gelas ini." Deana menahan tubuh Raffi, tetapi bocah itu terus saja meronta. Memaksa agar turun sampai membuat Deana kewalahan. "Awas!" 


Raffi hampir saja terjatuh dari meja. Beruntung Deana segera memeluk bocah itu, tetapi justru kakinya yang terluka karena tanpa sengaja menginjak pecahan gelas itu. 


"Aku tidak mau minum susu!" Raffi terus merajuk, tidak peduli pada kaki Deana yang sudah berdarah. 


"Baiklah. Kita ke kamar sekarang. Mbak Dea akan membacakan dongeng sampai kamu tidur." Raffi mulai diam mendengar ajakan Deana. "Kamu tunggu dulu, Mbak Dea akan bersihkan kaki Mbak Dea dulu ya." 


Dengan perlahan, Deana mendudukkan Raffi di kursi, lalu ia mencabut pecahan gelas yang menancap di kaki. Ia bahkan sampai meringis karena rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhnya. 


"Mbak Dea, kaki Mbak Dea berdarah, apa itu sakit?" tanya Raffi. Deana menggeleng cepat. 


"Tidak, hanya sakit sedikit seperti digigit semut," balas Deana sambil tersenyum simpul. 

__ADS_1


__ADS_2