DEANA

DEANA
Deana-24


__ADS_3

Mulut Adit terbungkam rapat saat mendengar ucapan sang mama tersebut. Ia sadar kalaupun jatuh cinta dengan seorang Deana, pasti semua tidak akan semudah yang dibayangkan. Adit sudah sangat paham atas sikap mamanya. Jika sang mama sudah berkata tidak maka seterusnya akan tidak selama pintu hati mamanya belum terketuk. 


"Terserah Mama mau setuju atau tidak. Intinya, aku tetap akan memperkerjakan Deana karena dia bisa mengasuh Raffi dengan baik, Ma. Di usianya yang muda dan belum memiliki anak, dia sangat telaten saat mengasuh Raffi." Adit berusaha menyudahi pembicaraan itu. Tidak ingin jika sang mama terus menghina Deana. 


Namun, Tiara rasanya belum puas. Hati wanita tersebut belum merasa rela jika putranya harus dekat dengan wanita kampung. Bagi Tiara, kalaupun Adit tidak berjodoh ataupun balikan dengan Sonia, setidaknya Adit mencari jodoh yang sepadan atau kalau perlu lebih tinggi status sosialnya daripada Sonia. 


Bukan malah banting setir ke gadis kampungan. 


"Kamu mau ke mana, Dit?" tanya Tiara ketika Adit bangkit berdiri. 


"Ke kantor lagi, Ma. Aku cuma mau bilang itu aja. Jangan lagi ikut campur urusanku, Ma. Apalagi sampai menyakiti Deana dan keluarganya. Kalau sampai Mama melakukan hal itu maka Adit tidak akan tinggal diam," ucap Adit penuh ketegasan.  


Adit pun bergegas bangkit dan pergi dari rumah orang tuanya. Ia tidak ingin jika sampai ada pertengkaran di antara mereka. Seberapa kesal pun Adit terhadap sikap sang mama yang begitu mengekang, tetapi Adit memilih untuk mengalah. Lebih baik ia pergi daripada harus berdebat apalagi bertengkar dengan mamanya sendiri. 


***

__ADS_1


Seperti apa yang dikatakan oleh Adit, Deana tidak menyangka kalau ibu dan adiknya, benar-benar diboyong oleh lelaki tersebut. Mereka dijemput oleh suruhan Adit untuk pindahan ke kota. Awalnya Tinah menolak karena cemas kalau orang tersebut adalah orang jahat, tetapi ketika Adit sendiri yang menelepon  dan berbicara panjang lebar dengan Tinah, akhirnya wanita itu pun mengiyakan. 


Dalam rencana, mereka akan tinggal di sebuah rumah kontrakan yang juga sudah dicarikan Adit sebelumnya. Rumah itu memang tidak terlalu mewah, sedikit lebih besar daripada rumah Deana di kampung. Saat mengetahui hal tersebut, Deana merasa sangat bersyukur atas hal itu. Apalagi rumah tersebut hanya berjarak lima rumah saja dari rumah Adit sehingga Deana benar-benar bisa tetap bekerja dan dekat dengan orang tuanya. 


"Mas, tapi bagaimana kalau Nyonya Tiara sampai tahu kalau ibu dan adik saya tinggal di sini. Maaf, Mas. Saya takut kalau Nyonya akan menyakiti keluarga saya," ucap Deana jujur dan tidak bisa menutupi semua kegelisahan hatinya. 


"Kamu tenang saja, De. Aku sudah menaruh pengawal yang akan menyamar. Bahkan mereka tinggal tepat di samping rumah ibumu. Yang jadi tetanggamu," ungkap Adit disertai senyuman puas. 


Deana menatapnya dengan tidak percaya. Ia sungguh tidak menyangka jika Adit akan sangat peduli seperti itu kepadanya. Bahkan, sangat melindungi hingga membuat Deana tidak mampu berkata apa pun atas kebaikan Adit. 


"Mulai besok, aku akan membebaskanmu. Kamu boleh pulang setelah makan malam dan datang sehabis Shubuh. Atau mau menginap juga dengan sangat senang hati aku akan setuju, De. Terserah kamu saja, senyamannya kamu saja dan anggap saja seperti rumah sendiri," kata Adit. 


"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Aku ikhlas membantu kamu." Adit ikut tersenyum. Rasanya ia merasa begitu bahagia ketika melihat Deana yang terlihat senang seperti itu. 


"Iya, Mas. Tapi bantuan Mas Adit itu sudah sangat banyak. Saya sampai tidak percaya dengan semua ini. Mas, katakan apa permintaan Mas Adit untuk saya. Anggap saja sebagai balasan semua ini. Jujur, walaupun Mas Adit bilang ikhlas, tetap saja tidak enak hati," ucap Deana sembari menghirup napas dalam berkali-kali. 

__ADS_1


"Bukankah sudah kubilang kalau aku ikhlas. Tapi, kalau kamu memaksa yang sudah. Kamu tidak perlu membalas susah-susah, De. Kalau memang kamu ingin membalas maka jadilah ibu untuk Raffi," ucap  Adit tanpa sadar. 


Hening sesaat. 


Deana menatap Adit dengan sangat lekat. Keningnya pun sampai mengerut dalam. "Ma-maksudnya, Mas?" 


Adit menggeleng cepat dan merutuki dirinya sendiri. "Maksudku, kamu harus mengasuh dan merawat Raffi seperti putramu sendiri." 


Deana mengangguk sambil membulatkan bibir. "Oh, kalau itu tenang saja, Mas. Saya pasti akan memperlakukan Raffi seperti putra saya sendiri. Walaupun saya belum pernah memiliki anak, tapi rasanya saya sangat sayang kepada Raffi." 


Adit terkekeh saat mendengar jawaban Deana. Dalam hati ia merasa bersyukur karena Deana tidak terlalu berpikir jauh lagi. Adit belum siap kalau Deana sampai tahu ia ingin sekali wanita itu menjadi ibu sambung untuk Raffi. Ia khawatir Deana akan menolak dan hubungan mereka justru akan menjadi canggung setelahnya. Jadi, untuk sementara ini Adit akan menikmati waktu bersama wanita tersebut. 


Biarlah skenario Tuhan yang berjalan. Aku yakin, kalau memang aku dan Deana berjodoh, pasti ada jalan untuk kita bersatu. Kalau memang tidak berjodoh ya ... sudahlah. Bagaimana lagi.


Adit mengembuskan napas berkali-kali secara kasar. Kemudian, ia meminta Deana agar beristirahat saja karena tidak ingin jika pembicaraan mereka terlalu jauh lagi. 

__ADS_1


Berbahaya. 


Bisa-bisa Adit akan terus keceplosan. 


__ADS_2