DEANA

DEANA
Deana-42


__ADS_3

"Apa! Kecelakaan?" Adit tersentak ketika mendapat panggilan dari kepolisian bahwa ibunya mengalami kecelakaan dan jatuh ke jurang. 


Adit pun segera mematikan panggilan tersebut dan langsung menuju ke rumah sakit karena mamanya sudah dibawa ke sana. Perasaan Adit sangat gelisah dan cemas. Sungguh, ia sangat mengkhawatirkan keadaan sang mama. Tak lupa, Adit pun memberi kabar kepada sang papa. 


Selama dalam perjalanan, Adit terus memukul setir kemudi karena merasa laju kendaraannya sangatlah pelan. Padahal kecepatan mobil tersebut sudah termasuk tinggi. 


Setibanya di rumah sakit, Adit sampai bersamaan dengan sang papa dan mereka langsung menuju ke ruang IGD karena sang mama baru saja masuk ke sana. Kedua lelaki itu menunggu dengan cemas. 


Setelah hampir menunggu selama setengah jam, dokter pun keluar dari sana. Kedua lelaki itu langsung berebut mendekat bahkan saling bertanya tentang keadaan Tiara. Dokter bilang, beruntung Tiara tidak mengalami benturan di kepala hanya saja dalam waktu yang cukup lama, Tiara akan kesulitan berjalan. 


Setidaknya hal tersebut masih membuat kedua lelaki itu mengembuskan napas lega. Soal kaki, mereka yakin Tiara akan kembali sembuh jika rutin melakukan  terapi. Setelah ini, Adit pun langsung menuju ke kantor polisi untuk mengetahui lebih detail soal kecelakaan yang sudah melukai sang mama. 


***

__ADS_1


Hamparan sawah yang luas menjadi pemandangan sejuk kedua mata Deana. Namun, gadis itu merasa ada yang kosong dari hidupnya dan hatinya. Entah, hal apakah itu, Deana tidak tahu. 


Sejak kepulangannya ke kampung, Deana justru merasa kehilangan Raffi dan—Adit. Ia merasa sangat merindukan mereka bukan karena ada perasaan yang spesial, tetapi karena mereka sudah memperlakukan Deana dengan baik selama ini. 


Namun, jika harus kembali ke kota untuk waktu sekarang ini Deana belum sanggup. Ia masih butuh waktu untuk membuat hatinya merasa tenang. Akhirnya, Deana pun hanya berdiam diri di rumah dan menikmati waktu di kampung sebagai seorang pengangguran.


"Ayo, De. Pulang sudah sore." Tinah menyusul putrinya karena sudah sejak siang gadis itu terus saja berada di sawah. Jujur, Tinah merasa khawatir karena sekarang ini Deana sudah tidak lagi seperti dulu. 


Banyak hal yang mereka obrolkan termasuk masa kecil Deana yang sering ikut ke sawah bersama orang tuanya. Tinah kembali mengingatkan di mana Deana kecil naik ke pundak Bagyo dan mereka bertiga ke sawah bersama. Banyak sekali kenangan indah yang membuat bibir Deana hanya bisa terkatup rapat. 


Kenangan itu, sungguh sangat mengusik pikiran Deana. 


"Bu, apakah Dea salah kalau masih marah sama bapak sampai sekarang ini?" tanya Deana. Membuat suasana mereka berdua mendadak sedikit tegang. 

__ADS_1


"Tidak. Manusia kecewa dan marah itu wajar. Karena semua manusia pasti pernah membuat kecewa. Marah boleh, tapi jangan terlalu larut. Tuhan saja, Yang Maha Sempurna masih mau memaafkan hamba-Nya yang penuh dosa." Tinah menjeda ucapannya untuk menghirup napas dalam. "Lalu kenapa kita tidak bisa membuka hati untuk saling memaafkan. De, mungkin Bapak sudah membuat kecewa, tapi apa salahnya memberi kesempatan untuk beliau memperbaiki semuanya? Mumpung belum terlambat." 


Tinah menatap putrinya yang masih saja diam tanpa merespon atau menjawab apa pun. Dengan lembut, Tinah pun mengusap punggung putrinya. 


"Ingat, ketika kamu ingin membenci seseorang maka ingatlah semua kebaikan yang pernah beliau lakukan maka perlahan tapi pasti rasa benci itu akan memudar lalu hilang," ujar Tinah. 


Deana menghirup napas dalam lalu mengembuskan dengan cepat. "Hah!" Deana melakukan itu berulang-ulang. "Bu ... Dea mau minta bantuan Mas Adit untuk keluarin Bapak dari penjara." 


"Alhamdulillah, Ya Allah." 


Kedua mata Tinah tampak berkaca-kaca karena terharu. Akhirnya Deana bersedia memaafkan sang ayah. 


"Terima kasih, De. Ibu sayang kamu." 

__ADS_1


__ADS_2