DEANA

DEANA
Deana-28


__ADS_3

Deana merasa tidak bersemangat menjalani hari-hari meskipun di depan Raffi dan Adit, ia berusaha terlihat biasa saja seolah tidak ada apa-apa. Namun, Adit bisa merasakan ada sesuatu yang mengusik Deana apalagi saat melihat sorot mata gadis itu yang sendu. Tidak seperti biasanya. 


Tak kuasa menahan rasa penasaran, Adit mengajak Deana untuk makan bersama dan hanya berdua. Ia menitipkan Raffi kepada Tinah dan Rangga. Sebenarnya, Deana sudah menolak karena tidak tenang jika harus meninggalkan Raffi. Namun, Adit terus saja memaksa hingga membuat Deana pun akhirnya menyanggupi. 


Ternyata, Adit mengajak ke sebuah tepian danau yang sepi. Bahkan, sepertinya hanya ada mereka berdua di sana. Deana pun mulai merasa was-was dan takut Adit memiliki niat jahat padanya. Akan tetapi, Deana segera menepis prasangka buruk tersebut karena yakin bahwa Adit tidak mungkin melakukan hal tersebut. 


Buktinya, selama ini mereka hidup bersama dan Adit tidak melakukan hal buruk kepadanya. Bahkan, Adit begitu menjaga Deana dengan sepenuh hati. 


"Ada apa Mas Adit mengajak saya ke sini?" tanya Deana berusaha memecah keheningan di antara mereka. 


"Em, ada yang ingin aku bahas dan hanya berdua saja denganmu. De, aku tahu hatimu pasti sedang tidak baik-baik saja. Jadi, aku sengaja mengajakmu ke sini. Kalau memang kamu merasa ada yang mengganjal di hatimu. Cobalah berteriak di sini," ucap Adit. Akan tetapi, Deana justru menggeleng cepat.


"Tidak, Mas. Saya tidak akan melakukan itu," tolak Deana cepat.


"Kenapa?" 


"Karena saya tidak ingin mengganggu orang lain. Ini di tempat umum, Mas." Deana menghirup napas dalam. Tidak habis pikir dengan ide Adit tersebut. 


"Tidak ada salahnya mencoba. Di sini sepi. Jadi, kamu tenang saja. Kalau kamu tidak percaya, biarkan aku mencobanya lebih dulu." 

__ADS_1


Adit berjalan tiga langkah lalu berhenti tepat di tepi danau. Lalu ia pun berteriak sekeras  mungkin. 


"Deana!! Apa kamu baik-baik saja!" teriak lelaki itu dengan lantang. 


Deana awalnya melongo saat mendengarnya, tetapi setelahnya ia pun tersenyum simpul. 


Ada-ada saja, Mas Adit. Batinnya terhibur sendiri.


"Ayo, De. Kamu harus mencobanya." Adit antusias sendiri. Bahkan, tanpa sadar lelaki itu sudah menarik tangan Deana agar segera bangkit. 


Lalu mereka berdiri sejajar dan menatap ke tepi danau secara bersamaan. Namun, sampai cukup lama waktu berlalu, mereka berdua hanya diam saja. Deana merasa bingung apa yang akan ia katakan. Padahal banyak beban yang serasa menghimpit dadanya yang ingin sekali ia keluarkan.


Tubuh Deana mematung saat itu juga. Wajahnya memucat hingga membuat Adit mendadak khawatir. Adit hendak menyentuh bahu Deana, tetapi wanita itu menyingkir dengan cepat.


Bapak ....


Deana memejamkan mata dan menghirup napas secara dalam lalu mengembuskan dengan cepat. Tidak ada yang dilakukan oleh Adit selain menatap wanita itu. 


"Bapaaakkk!!! Dea kecewa sama Bapak! Dea benci bapak!" 

__ADS_1


Tubuh Deana langsung luruh begitu saja hingga membuat Adit sangat khawatir. Adit pun memegang kedua bahu Deana, tetapi setelahnya ia terdiam ketika mendengar isakan gadis itu. 


"De, kamu kenapa?" tanya Adit cemas. 


"Saya benci bapak, Mas. Saya sangat membencinya. Bapak sudah membuat saya sangat kecewa," sahut Deana sembari menangis kencang. 


Adit pun tidak lagi bertanya. Ia memilih untuk membiarkan gadis itu menangis sekeras dan semaunya. Karena Adit yakin hanya itulah yang bisa dilakukan oleh Deana agar beban di hatinya sedikit berkurang. 


Hampir sepuluh menit berlalu, tangisan Deana mulai mereda hanya isakannya yang terdengar. Adit pun dengan perlahan mengangkat wajah Deana yang sudah dipenuhi dengan air mata. 


"De, katakan padaku ada apa? Apa ada masalah yang sedang kamu hadapi?" tanya Adit lembut. Namun, Deana menggeleng dengan cepat. "Jangan berbohong padaku, De. Aku tahu kamu sedang ada masalah." 


Deana masih belum mau menjawab, justru mengusap air mata dengan cepat dan hendak pergi dari sana. Namun, Adit langsung menahan langkahnya. 


"De, katakan sejujurnya ada apa. Jangan biasakan memendam  masalahmu sendiri. Setidaknya, dengan bercerita padaku, beban di hatimu bisa sedikit berkurang meskipun aku belum tentu bisa membantu masalahmu," ucap Adit penuh memohon. 


"Tapi, Mas ...." 


"Anggap saja aku adalah teman atau sahabatmu. Bukan majikanmu. Jadi, kamu bisa nyaman bercerita," sela Adit. 

__ADS_1


Deana pun diam dan terlihat bimbang. 


__ADS_2