
Deana berdecak kesal. Mendengar sang ibu yang mengkhawatirkan ayahnya. Walaupun dalam hati kecil Deana ingin sekali menemui Bagyo, tetapi ego masih memaksa untuk menjauh. Deana masih belum siap untuk bertemu dengan sang ayah yang sebenarnya sudah menunggu kedatangannya sejak lama.
"Biarlah, Bu. Ngapain mikirin Bapak," cebik Deana. Memasang wajah tidak suka.
Tinah beristighfar. Sungguh, ia tidak tahu lagi cara apa yang harus ditempuh agar Deana mau memaafkan Bagyo. Akhirnya, Tinah pun menuruti keinginan putrinya. Kembali ke kampung hanya berdua karena Adit memaksa agar Tinah memberi izin untuk Rangga tetap sekolah di kota dan tinggal bersamanya.
Bagi Adit, sayang sekali kalau sampai Rangga harus putus sekolah. Apalagi ia sudah membayar biaya sekolah Rangga sampai lulus.
"Papa, Mbak Dea mana?" tanya Raffi. Ia sudah mengedarkan pandangan untuk mencari Deana, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis tersebut.
"Mbak Dea sedang pulang kampung dulu."
"Pulang kampung? Kenapa tidak mengajakku?" tanya Raffi merajuk.
Adit pun menjelaskan berbagai cara agar Raffi mau mengerti bahwa sementara ini mereka harus jauh dari Deana. Dalam hati Adit berjanji akan membawa Deana kembali tinggal di kota bersamanya. Semoga ia bisa menepati janji tersebut suatu saat nanti.
__ADS_1
***
Setelah mengetahui Deana sudah kembali ke kota, Tiara tersenyum sangat puas. Ia pun tak lupa mengabarkan hal itu kepada Sonia. Tentu saja, hal itu disambut bahagia oleh wanita itu. Ia tidak menyangka kalau semudah itu membuat Deana menyingkir dari kehidupan Adit.
Sonia tersenyum licik. Tinggal satu langkah lagi maka ia bisa merebut Adit dan membuat lelaki itu bertekuk lutut padanya. Membuat lelaki itu menjadi miliknya seutuhnya.
Untuk merayakan keberhasilannya membuat Deana pergi, Sonia pun mengajak Tiara untuk pergi ke mall. Ia menyuruh wanita itu untuk membeli apa pun yang dimau. Hal itu pun membuat Tiara merasa girang tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.
Kedua perempuan itu masuk ke toko baju, perhiasan dan semua hal yang berkaitan dengan kecantikan wanita. Sonia masih paham apa kesukaan mama mertuanya.
Sonia kian tersenyum licik. Tidak menyangka kalau Tiara akan menjadi wanita tua yang sebodoh itu. "Tentu saja, Tante. Wanita kampungan kayak gitu sudah pasti bisa ditebak."
Tiara pun mengangguk mengiyakan lalu mereka berdua menghabiskan makanannya sebelum akhirnya pulang.
Saking bahagianya sejak tadi mereka terus tertawa dan mengobrol banyak hal. Namun, ketika sudah sampai di parkiran dan hendak masuk mobil, Sonia dibuat terkejut ketika ada yang memanggilnya. Ia pun menoleh dan tersentak ketika melihat lelaki yang sedang berjalan mendekat padanya.
__ADS_1
Sebelum lelaki itu sampai, Sonia langsung berlari dan menarik lengan lelaki tersebut agar menjauh dari Tiara. Tidak ingin jika wanita itu tahu tentang lelaki yang saat ini sedang bersamanya.
"Nona, saya butuh uang sekarang. Kapan Nona akan membayar penuh," kata lelaki tersebut mulai kesal.
"Jangan sekarang. Bukankah sudah kubilang padamu untuk menunggu sebentar lagi? Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya muda lagi." Sonia pun ikutan kesal. Bahkan, beberapa kali wanita itu terdengar berdecak keras.
"Bukan begitu, Nona. Bukankah Anda bilang akan memberi uang jika saya sudah selesai melakukan tugas," ujar lelaki itu. Sangat menuntut.
"Ya, tapi jangan sekarang. Uangku belum cukup. Lagi pula, tugasmu itu gampang 'kan. Tinggal tidur aja. Jadinya, jangan terlalu banyak menuntut."
"Tapi Anda sendiri yang bilang akan membayar saya dengan mahal bukan? Jadi, jangan pernah mengingkari janji Anda!"
"Ini ada apa, Sonia?" tanya Tiara. Ikut bergabung dan hal itu sontak membuat Sonia terkejut.
Begitupun dengan Tiara yang terkejut karena wajah lelaki yang bersama Sonia saat ini, sama persis seperti wajah lelaki yang berada di foto bersama Deana.
__ADS_1
"Bukankah dia adalah...."