
Deana merasa kesal sekaligus bimbang. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa semua masih membela Bagyo padahal sudah jelas-jelas lelaki itu salah. Lelaki itu tega meninggalkan anak istrinya. Merantau ke kota dan tidak pernah memberi kabar selama berpuluh tahun. Lalu muncul lagi dengan sebuah keadaan yang tak terduga. Ternyata Bagyo menjadi seorang pencopet.
Seharusnya, ketika sudah berada di dalam penjara, mereka merasa senang. Bukankah orang jahat memang pantasnya tinggal di penjara. Namun, kenapa Adit yang baru mengenal langsung bersedia membebaskan lelaki itu. Bahkan, sang ibu yang sudah disakiti pun masih bersedia menurut kepada orang itu. Persis seperti seorang istri yang sedang berbakti kepada suaminya.
"Bu, mending biarin saja. Itu hukuman yang pantas buat seorang pencopet," ujar Deana asal.
Tinah menggeleng cepat. Sungguh, ini bukan seperti Deana yang biasanya. Bahkan, Tinah seperti tidak mengenali putrinya sendiri. Mungkinkah karena rasa kecewa yang dirasakan oleh Deana sangat dalam sampai membuat gadis itu bersikap seperti itu.
"Astaghfirullah, De. Ibu tidak pernah mengajari kamu menjadi gadis yang seperti ini. Ibu ingin kamu menjadi gadis yang pemaaf. Kita ini hanyalah manusia biasa, De. Jika Tuhan yang Maha Sempurna saja masih mau memaafkan umat-Nya, lantas kenapa kita tidak bisa? Padahal kita hanyalah manusia yang penuh dengan dosa." Tinah mengusap punggung gadisnya.
Ia harus bisa berbicara baik-baik dengan Deana agar gadis itu bersedia memaafkan ayahnya.
"De, mau sesalah apa pun. Sejelek apa pun, Bapak itu tetap bapakmu. Sampai kapan pun. Bahkan, suatu saat ketika kamu menikah nanti, sebenci apa pun kamu padanya. Kamu tetap membutuhkannya sebagai wali. Bahkan, sejauh apa pun bapakmu pergi nanti, jika ia belum tidur di bawah gundukan tanah, kamu tetap harus mendapatkan restunya. Jadi, ibu sangat berharap kamu bersedia memaafkannya."
__ADS_1
"Deana tidak yakin." Deana menjawab lesu.
"Kalau begitu, perbanyaklah berdoa kepada Allah. Mintalah petunjuk dan memohonlah agar Allah membuka pintu maaf untuk bapak. Ibu yakin kamu bisa melakukan itu. Lebih baik, sekarang kamu istirahat saja. Kamu pasti lelah," perintah Tinah.
Deana hanya mengiyakan. Ia memang butuh waktu untuk memikirkan semuanya.
***
Apa pun akan dilakukan oleh Sonia asal ia bisa menyingkirkan Deana dari kehidupan Adit.
"Ma, aku tidak yakin, deh. Gadis kampung itu tidak menggunakan pelet untuk membuat Mas Adit terus nempel padanya. Lihat saja, bagaimana Mas Adit sangat membela dia, Ma." Sonia berbicara setengah merengek. Seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada ibunya.
"Memang. Mama juga berpikir seperti itu. Dulu, waktu Adit masih bersama kamu, Adit sama sekali tidak berani membantah Mama. Tapi, sekarang. Lihatlah, baru menjalin hubungan majikan dan pengasuh saja, Adit sudah berani membela wanita kampung itu dan berani kepada Mama." Tiara membalas dengan menggebu. Seolah menunjukkan kekesalannya kepada Deana dan ingin sekali merem*s wajah wanita itu.
__ADS_1
Hal itu pun membuat Sonia diam-diam menunggingkan senyuman sinis. Ia merasa puas dan senang karena memiliki jalan untuk menyingkirkan Deana.
"Ma, mendingan kita cari tahu lagi soal gadis kampung itu. Aku yakin, dia bukan hanya menjadi pengasuh Raffi saja, tapi bisa jadi dia menjadi wanita malam di kota ini. Mama 'kan tahu seberapa kerasnya hidup di kota ini. Kalau tidak punya sampingan, pasti akan bingung dengan biaya hidup yang mahal." Sonia masih terus mengompori.
"Kamu benar juga. Kalau begitu, bantu mama cari tahu tentang wanita kampung miskin itu selain ayahnya yang masuk penjara," perintah Tiara.
"Tentu saja, Ma." Sonia menunjukkan tanda oke menggunakan jarinya.
Dalam hati wanita itu merasa sangat puas. Ia tidak menyangka kalau Tiara akan semudah itu ditaklukan.
Dasar wanita tua bodoh! Lihat saja, aku bukan hanya akan menghancurkan gadis kampungan itu, tapi juga menghancurkanmu. Haha.
Sonia tertawa jahat di dalam hati.
__ADS_1