DEANA

DEANA
Deana-9


__ADS_3

Walaupun Marni mengatakan tidak bisa membantu meminjam uang sebesar sepuluh juta kepada Tuan Akbar, apalagi Deana yang baru mulai bekerja, tetapi Marni memberikan sedikit angin segar. Wanita itu akan berusaha membantu pinjam kepada Adit karena lelaki itu lebih ramah dan baik hati daripada kedua orang tuanya.


Ketika Tiara dan Akbar sedang mengajak Raffi jalan-jalan, Marni memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Adit yang sedang duduk di ruang keluarga. Sepertinya lelaki itu sedang menyelesaikan pekerjaan karena terlihat fokus dengan laptop di depannya. 


Marni dan Deana berdiri di samping sofa dengan perasaan ragu. Takut akan mengganggu Adit. Melihat keberadaan kedua wanita itu pun, Adit menoleh dan menatap heran ke arah mereka. 


"Ada apa?" tanya Adit. Menutup laptopnya sampai setengah bagian lebih. 


"Mas, maaf kalau saya mengganggu waktunya. Saya mau minta bantuan Mas Adit itu kalau bisa. Kalau tidak bisa tidak apa, Mas." Marni duduk bersimpuh di karpet bersama Deana agar lebih sopan. 


"Katakan saja. Kalau bisa bantu maka akan aku bantu." Adit menatap Deana dengan sangat lekat hingga membuat gadis itu kian tertunduk dalam. Jantungnya terasa berdebar sangat kencang. Antara takut dan juga gelisah. 

__ADS_1


Jantungku berdebar kencang seperti ini apakah karena takut Tuan Adit tidak bisa memberi pinjaman. Kalau tidak bisa, mungkin aku akan pasrah setelah ini. Biarlah aku menjadi istri Bang Togar asal rumah ibu tidak dijual. 


"Em ... Mas, jadi gini. Saya mau membantu Deana pinjam uang sepuluh juta. Nanti akan dibayar nyicil saat Deana sudah gajian, Mas. Itu kalau boleh," ucap Marni ragu. Justru jantung Deana yang kian berdebar-debar membuat tubuh gadis tersebut panas dingin rasanya. 


"Banyak sekali," timpal Adit terkejut. "Untuk apa uang sebanyak itu? Kalau tidak mengatakan dengan jujur maka aku tidak akan meminjami." Adit sungguh sangat penasaran. Bahkan, di lubuk hati kecilnya ia menaruh prasangka buruk. 


"Mas ...." 


"Biar dia yang menjawab sendiri, Mbak Marni. Dia yang butuh uangnya bukan?" sela Adit. Marni hanya mengangguk mengiyakan. Ia lantas menyenggol lengan Deana dengan perlahan. 


"Panggil Mas Adit saja. Aku tidak suka dipanggil Tuan seperti itu. Terlalu formal." Adit tidak sekalipun melepaskan pandangan dari Deana. 

__ADS_1


"I-iya, Mas Adit. Jadi, saya mau pinjam uang sepuluh juta untuk melunasi hutang ibu saya. Kebetulan ibu saya pernah pinjam kepada rentenir dan belum bisa membayar, dan saya dikasih waktu satu bulan untuk bisa melunasinya, dan sekarang tanggal jatuh tempo itu tinggal sebentar lagi." Deana yang awalnya sangat gugup, kini mulai terlihat tenang saat ia melihat tatapan Adit yang meneduhkan. 


"Lalu?" 


"Kalau saya tidak bisa membayar maka saya dan ibu saya diberi dua pilihan. Yang pertama kami harus pergi dari rumah itu atau saya harus menikahi rentenir itu sebagai istri ketujuh. Jujur, Mas. Saya tidak mau memilih keduanya." Deana menghela napas panjang lalu mengembuskan dengan perlahan. 


"Kenapa kamu tidak mau memilih keduanya?" Adit seolah sedang menguji tingkat kesabaran Deana dengan membuatnya kesal. Namun, Deana tetap saja terdiam tanpa menunjukkan kekesalannya sama sekali. Gadis itu sengaja menahan emosi karena tidak ingin Adit gagal memberi pinjaman. 


"Mas, rumah itu tidak mungkin saya jual karena itu peninggalan kakek saya dan banyak sekali menyimpan kenangan. Kalau pilihan kedua, lebih baik saya menjadi perawan tua daripada harus menjadi istri ketujuh, dari orang yang tidak saat cintai pula," sahut Deana penuh penekanan dalam setiap ucapannya. 


"Baiklah. Uang sepuluh juta itu tidak banyak buat aku, tapi aku juga tidak mudah percaya pada orang lain. Apalagi kita yang baru mengenal. Aku akan meminjami uang padamu dengan dua syarat." Adit tersenyum licik. Deana pun menjadi curiga kepadanya. 

__ADS_1


"Syarat apa, Mas? Kalau saya bisa melakukannya akan saya lakukan. Tapi, kalau saya tidak bisa ...." 


"Aku yakin kamu pasti bisa melakukan itu asal ada niat," sela Adit membuat bibir Deana terkatup rapat saat itu juga. 


__ADS_2