
Mobil milik Adit berhenti di depan sebuah rumah yang cukup megah dengan pelataran luas. Jika diamati, rumah tersebut merupakan yang paling mewah di kampung itu walaupun lebih mewah rumah Adit di kota.
Bisa dipastikan kalau Bang Togar adalah orang paling kaya di kampung itu.
Setelah memarkirkan mobilnya di pintu gerbang, Adit dan Deana pun segera turun dan langsung masuk ke halaman rumah itu. Beberapa orang yang merupakan anak buah Bang Togar, langsung berdiri dan menatap heran ke arah dua orang itu.
"Di mana Bang Togar?" tanya Deana gugup. Ia takut jika harus berhadapan dengan pria-pria seperti mereka yang memiliki tampang seperti preman. Sangat garang. Apalagi tatto yang memenuhi hampir seluruh tubuh mereka. Di kampung tersebut, orang yang memiliki tatto itu biasanya sangat ditakuti. Mungkin hal itu yang membuat Bang Togar menarik mereka sebagai anak buah.
Tidak ada yang menyahuti pertanyaan Deana, tetapi salah seorang dari mereka berjalan masuk dan selang beberapa saat, Bang Togar keluar dari rumah itu. Tatapannya terlihat mengejek ke arah Deana dan Adit.
"Kenapa kamu mencariku?" tanya Bang Togar tanpa mempersilakan duduk.
"Aku mau menebus sertifikat milik ibu." Deana menunduk dalam saat melihat tatapan Bang Togar yang tampak menyeramkan untuknya.
"Memangnya kau sudah punya uang berapa?" Pertanyaan Bang Togar terdengar seperti ledekan untuk Deana. Sementara itu, Adit masih diam mendengarkan percakapan mereka. Ada saatnya ia membuka suara nanti.
Deana menoleh ke arah Adit dengan bimbang. Jika harus berkata ia punya berapa sekarang ini, gadis itu sama sekali tidak memiliki uang. Namun, jika ia menjawab tidak memiliki uang, sudah bisa dipastikan dirinya akan menjadi bahan ledekan pria-pria itu.
"Hei, kenapa kau diam saja? Kamu sudah punya uang berapa sampai berani mengambil sertifikat itu?" Suara Bang Togar yang meninggi membuat Deana tersentak karenanya.
__ADS_1
"Se-sepuluh juta." Deana menjawab terbata. Keringat dingin sudah mulai membasahi dahi gadis itu.
"Sepuluh juta? Hahahaha." Tawa Bang Togar menggelegar. Membuat tubuh Deana merinding karenanya. "Hutang ibumu bukan lagi sepuluh juta, tapi sebelas juta karena ada bunga tambahan yang harus kau bayar."
Bola mata Deana membulat penuh. Ini sungguh seperti lelucon baginya. Belum ada waktu sebulan, tetapi hutang ibunya sudah bertambah satu juta. Sungguh, pria di depannya ini sangat keparat!
"Kalau kamu tidak mampu bayar maka sertifikat rumah akan menjadi milikku termasuk rumahnya. Jadi, genapi dulu uang itu baru kamu bayar padaku. Ngomong-ngomong, siapa lelaki ini? Apa kamu menyuruh orang untuk melindungimu?" Bang Togar menatap sinis ke arah Adit yang masih terlihat sangat tenang.
"Aku datang ke sini untuk menebus sertifikat itu." Adit mengambil uang dari saku jaket yang dikenakannya karena tidak mau berbasa-basi lagi. Bang Togar pun sontak terheran. "Ini uang sepuluh juta. Tunggu dulu, biar aku genapi."
Adit meminta Deana untuk membantu memegang uang tersebut terlebih dahulu. Lalu ia mengambil uang dari dalam dompet sejumlah satu juta dan menggabungkan dengan uang tadi.
"Sekarang ambilkan sertifikat itu barulah aku akan menyerahkan semua uang ini." Adit tersenyum sinis. Sama sekali tidak takut meskipun Bang Togar terlihat sangat garang.
Merasa geram, Bang Togar pun menyuruh salah seorang anak buahnya untuk mengambil sertifikat rumah milik Tinah. Lalu mereka pun bertukar. Bang Togar menghitung jumlah uang itu dan jumlahnya genap sebelas juta.
"Sudah lunas bukan? Jadi, kuharap kamu tidak lagi mengganggu keluarga Deana!" ucap Adit penuh dengan ketegasan.
Bang Togar menyimpan uang tersebut sambil tersenyum senang. "Baiklah. Aku tidak menyangka kalau kamu pergi ke kota untuk menjual diri, De. Padahal kalau kamu bersedia menjadi istriku maka aku akan menghidupimu. Bukan hanya hutang ibumu saja yang kuhitung lunas."
__ADS_1
Deana mengepalkan tangan erat saat mendengar ucapan Bang Togar yang sangat melukai hatinya. Namun, demi menghindari masalah, Deana pun memilih untuk pergi dari sana, sedangkan Adit masih bergeming di tempatnya. Rahang lelaki itu sudah terlihat mengetat. Menonjolkan otot-ototnya di lehernya yang seolah membuatnya akan mencuat keluar.
"Kau mau ke mana pelacur," teriak Togar sambil memandang punggung Deana yang perlahan menjauh dari padangan.
Namun, tiba-tiba lelaki itu mengerang saat tubuhnya jatuh terpental karena mendapat pukulan cukup keras dari Adit. Dengan sigap anak buah Bang Togar pun langsung menolong bosnya.
"Bedebah sialan!" umpatnya geram.
Adit sama sekali tidak takut meskipun tatapan Bang Togar seperti akan mengulitinya hidup-hidup. Ia masih terlihat tenang dan mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan lalu melemparkan tepat di wajah Bang Togar.
"Ini uang untukmu berobat. Kalau kau masih tidak terima, silakan laporkan saja ke polisi. Tapi jika kamu berani melakukannya maka jangan salahkan aku kalau kamu akan kehilangan semua hartamu ini." Adit tersenyum sinis.
Kemudian, ia mengajak Deana agar pergi sana. Sudah cukup ia berurusan dengan lelaki itu. Kalau sampai Bang Togar berani bertindak hal yang tidak-tidak apalagi kepada keluarga Deana maka Adit berjanji tidak akan tinggal diam.
"Mas, bagaimana kalau ...."
"Kamu tenang saja. Dia tidak akan berani mengganggu kamu dan keluargamu lagi," sela Adit.
Deana pun hanya mengangguk paham.
__ADS_1