
Dengan berjalan terpincang, Deana mendekati anak kecil yang saat ini sedang menangis sembari memanggil nama ayahnya. Deana pun segera membopong anak itu dan berusaha untuk menenangkan.
"Jangan menangis lagi. Ayo kita cari papa kamu," ajak Deana sambil terus berusaha membuat tangisan bocah itu mereda.
"De, kamu ... loh! Den Raffi!" pekik Marni saat melihat wajah anak yang saat ini masih berada di gendongan Deana. "Aden baik-baik saja?"
Deana hanya terpaku saat Marni mengambil alih anak kecil itu dari gendongannya. Dia hanya menatap Marni yang juga langsung menenangkan Raffi. Selang beberapa saat, seorang lelaki tampan dengan tubuh tinggi tegap datang mendekati mereka. Raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran. Deana sedikit memundurkan tubuhnya, memberi ruang untuk lelaki itu.
"Raffi, kenapa kamu pergi tidak bilang papa?" tanya Adit, mengambil alih Raffi dari gendongan Marni. Raffi tidak menjawab. Hanya isakan bocah itu yang masih terdengar. "Mbak Marni, terima kasih banyak."
"Tidak perlu berterima kasih, Mas. Saya juga tidak tahu kalau yang ditolong Dea tadi adalah Den Raffi. Untung saja Den Raffi baik-baik saja, mungkin dia menangis karena sedikit kaget," papar Marni.
__ADS_1
"Dea?" Pandangan Adit tertuju pada gadis cantik dengan pakaian sederhana yang saat ini berdiri tepat di samping Marni dengan kepala tertunduk dalam. Jemari gadis itu terlihat saling merem*s. Entah mengapa, Adit merasakan sebuah perasaan aneh yang menyusup masuk ke hatinya yang membuat jantungnya berdegup kencang. Padahal baru pertama kali ia melihat Deana.
"De, ini Mas Adit, anak majikan kita."
Deana mendongak, dan menatap Adit dengan sangat lekat. Tatapan mereka berdua bertemu untuk sesaat sebelum akhirnya Deana segera kembali menunduk dalam. Jantung Adit semakin berdegup kencang bahkan rasanya seperti tidak terkendali. Tanpa sadar, dia mengulurkan tangan tepat di depan Deana yang akhirnya kembali mengangkat kepala. Deana terlihat begitu ragu, tetapi saat melihat Marni mengangguk lemah. Gadis tersebut segera menangkup tangan di depan dada sambil tersenyum simpul. Melihat itu, Adit kembali menarik tangannya karena paham apa maksud Deana.
"Salam kenal, Tuan. Saya Deana."
"Salam kenal juga. Namaku Aditya, dan ini putraku Raffi. Terima kasih kamu sudah menolong putraku," ucap Adit dengan lembut.
Adit kembali terpaku saat melihat bibir Deana yang saat ini sedang tersenyum manis. Dia benar-benar terpikat dengan pesona gadis itu. Bahkan ketika suara merdu gadis tersebut menyentuh gendang telinganya, dia menjadi semakin terpesona. Marni berdeham dan membuat kesadaran Adit kembali. Lelaki itu memalingkan wajah dan terlihat salah tingkah sendiri.
__ADS_1
"Papa." Rengekan Rafii membuat perhatian mereka teralihkan. Adit segera mengajak pulang karena sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya. Dia berjalan terlebih dahulu bersama Raffi dan disusul Marni, sedangkan Deana berjalan dengan tertatih karena merasakan perih di kaki kanannya.
Ketika sudah sampai di parkiran, Adit segera membuka pintu mobil, dan menyuruh Marni untuk masuk. Namun, ketika tersadar ia menoleh dan melihat Deana yang masih berjarak cukup jauh dari mobilnya. Langkah gadis tersebut masih tertatih. Begitu pun dengan Marni yang terkejut saat melihat Deana.
"Astaghfirullah, maafkan lik melupakanmu, De." Marni meletakkan keranjang belanjaan di samping mobil lalu berjalan cepat mendekati Deana dan menuntunnya. "Kakimu sangat sakit?"
"Tidak, Lik. Cuman agak sakit karena pakai sepatu gini." Deana sedikit merintih saat memaksa kakinya untuk tetap bisa berdiri tegak.
"Lepaskan saja sepatumu, De," suruh Marni, tetapi Deana menggeleng lemah. Dia tetap berjalan mendekati mobil dengan dibantu Marni.
"Kita ke rumah sakit dulu," ucap Adit sembari mendudukkan Raffi di samping kursi kemudi.
__ADS_1
"Tidak usah, Tuan. Saya baik-baik saja." Deana menyahuti dengan sopan. Adit tidak berbicara dan hanya menyuruh mereka untuk masuk ke mobil.
Adit melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang, dan ketika melewati sebuah klinik kesehatan, Adit segera menghentikan lajunya dan menyuruh Deana untuk segera turun. Awalnya gadis itu menolak, tetapi karena paksaan dari Adit dan juga Marni, gadis itu pun akhirnya menyetujui.