
Adit baru saja sampai di rumah, tetapi ia langsung ke rumah sang mama untuk menitipkan Raffi. Tidak ingin jika putranya akan mendengar pembicaraannya dengan Deana. Adit tidak ingin jika Raffi terlalu banyak bertanya nanti.
Awalnya Raffi menolak karena bocah itu pun ingin bertemu dengan Deana. Bahkan, sejak dalam perjalanan pulang Raffi terus saja memanggil nama Deana.
"Raffi tidak mau, Pa! Raffi mau bertemu sama Mbak Dea." Raffi merajuk. Bersedekap kesal bahkan sama sekali tidak mau turun dari mobil.
"Sayang, papa mohon. Papa janji hanya sebentar, kalau sudah selesai papa akan langsung menjemputmu. Bahkan, kalau kamu mau tidur di tempat Mbak Dea pun, papa akan memberi izin," rayu Adit.
Wajah Raffi yang tadi terlihat lesu pun kini tampak bersemangat. Tanpa disuruh, Raffi langsung turun dari mobil dan masuk ke rumah Tiara. Adit hanya menggeleng, melihat tingkah putranya yang sangat mudah sekali untuk dibujuk. Jika berkaitan dengan Deana, bocah itu akan langsung bersemangat.
Dengan gegas, Adit menyusul turun. Ia akan menitipkan Raffi terlebih dahulu. Namun, ketika sampai di ruang tamu, langkah Adit terhenti ketika melihat sang mama sedang berdiri menyambutnya tidak jauh dari pintu.
__ADS_1
Adit mengedarkan pandangan untuk melihat keberadaan Raffi, tapi entah pergi ke mana bocah itu. Adit pun menghela napas panjang ketika sang mama memintanya agar segera duduk.
Baru saja duduk, Adit terkejut ketika Tiara sudah membanting foto tepat di depannya. Lagi-lagi foto yang sama. Adit pun merasa yakin kalau memang ada yang ingin menjatuhkan Deana karena bukan hanya dirinya yang mendapat foto tersebut.
"Mama dapat foto ini dari mana?" tanya Adit menuntut jawaban.
"Kamu tidak perlu tahu, intinya kamu harus jauhi wanita ini! Cepat pecat dia dan jangan sekalipun kamu dekat dengan dia lagi. Mama tidak akan sudi!" hardik Tiara penuh amarah.
"Ma, Adit harus memastikan dulu. Adit yakin kalau Deana bukan wanita serendahan ini." Adit bersikukuh. Hal itu sontak membuat amarah Tiara kian membuncah di dada.
"Ma, jangan berbicara seperti itu. Deana itu gadis baik-baik." Adit masih terus membela.
__ADS_1
"Gadis baik? Gadis baik tidak akan mungkin tidur dengan lelaki lain! Benar kata Sonia kalau dia memiliki pekerjaan sampingan yaitu menjadi pelacur!"
"Ma, jangan dengarkan ucapan wanita ular itu!" Adit sungguh tidak terima apalagi saat sang mama mengatai Deana sebagai pelacur. Membuat hatinya merasakan desiran rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Apa! Kamu masih mau membelanya?!"
Adit bungkam. Jika semakin ia membantah maka emosi sang mama akan kian meledak. Adit pun memilih untuk menyudahi perdebatan itu dan pergi meninggalkan sang mama. Ia tidak peduli meskipun mamanya terus berbicara keras. Memintanya agar tetap tinggal dan tidak menemui Deana, tetapi keputusan Adit sudah sangat bulat. Ia harus mendengar penjelasan Deana.
***
Tinah keluar dari kamar setelah beberapa jam mengurung diri. Namun, ketika baru membuat pintu, ia tersentak saat melihat Deana sedang tertidur tepat di depan kamar. Hati Tinah merasa iba melihat putrinya. Ia berjongkok dan menatap Deana yang sedang tertidur lelap. Wajahnya terlihat teduh dan Tinah bisa melihat jejak air mata di wajah putrinya.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu pun mend*sahkan napas ke udara secara kasar. Ia berniat hendak membangunkan Deana, tetapi gerakan tangannya tertahan ketika mendengar suara dari arah depan. Seperti suara Adit.
Dengan gegas, Tinah meninggalkan Deana begitu saja.