DEANA

DEANA
Deana-26


__ADS_3

Semua orang tercengang, termasuk Tinah juga lelaki itu sendiri. Wajahnya yang berkulit sawo matang dan mendapatkan cukup banyak luka karena pukulan pun terlihat mengerut dalam. Seolah sedang mencermati wajah gadis yang berdiri terpaku di depannya. 


Mendengar putrinya memanggil bapak, dengan gegas Tinah mendekat untuk memastikan. Namun, sepersekian detik selanjutnya, wanita itu membulatkan mata penuh bahkan kedua tangannya menutup mulut yang sudah terbuka lebar.


"Mas Bagyo," panggilnya tidak percaya. 


Tanpa terasa air mata wanita itu berderai. Mengalir dari kedua sudut matanya dengan jelas. 


"Tinah, apa ini kamu? Apa aku tidak mimpi?" Lelaki itu meronta meminta lepas. Namun, warga tetap memegangnya dengan kuat. "Lepaskan aku!" 


"Mas, kenapa kamu seperti ini?" Tinah menggeleng berkali-kali. Terlalu susah mempercayai semuanya. Sementara Bagyo, menatap Tinah dan Deana secara bergantian. 


"Tinah, apa dia putri kita? Apa dia adalah Deana?" Bibir lelaki itu bergetar hebat. Bahkan kedua matanya sudah basah. Apalagi saat melihat putrinya yang sedang menangis.


"Bapak jadi pencopet? Jadi, bapak tidak pernah pulang karena sekarang sudah jadi orang jahat? Aku kecewa sama bapak!" teriak Deana. 


Ia menghempaskan keranjang belanjaan begitu saja lalu pergi membawa rasa sakit dan kecewa. Bagyo terus berteriak memanggil nama Deana, tetapi gadis itu tetap tidak acuh. Sementara Tinah masih bergeming di tempatnya. Ia tidak bisa melakukan apa pun ketika melihat para warga menyeret Bagyo menuju ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. 


Jika bicara soal kecewa. Tinah merasa sangat kecewa melebihi Deana. Namun, ia tidak bisa melakukan apa pun. Ia harus berbicara dengan suaminya setelah ini. 


***


Ketika Deana sudah sampai di rumah kontrakan, gadis itu langsung masuk kamar. Membenamkan wajah di bawah bantal dan berusaha untuk meredam tangisannya. Ini sungguh sangat menyakitkan untuk Deana. Sekian lama ia kehilangan kabar sang ayah dan sekarang sedang terus mencarinya. Ternyata ia harus mendapati fakta bahwa sang ayah adalah seorang pencopet.

__ADS_1


"Mbak Dea kenapa?" tanya Rangga masuk kamar. Disusul oleh Raffi di belakang. Rangga tadi sedang bermain bersama Raffi di ruang tengah, tetapi ia terkejut ketika mendengar isakan Deana. 


"Tidak papa, Ngga." Deana tidak berani bangun karena cemas Rangga akan mengetahui kalau ia sedang menangis. Sekuat tenaga Deana berusaha meredam isakannya. 


"Mbak sudah berani berbohong?" Suara Rangga terdengar berat dan menyiratkan kecewa. 


"Mas Rangga, kenapa Mbak Deana nangis? Apa ada yang nakal sama Mbak Dea?" tanya Raffi menyela obrolan mereka. 


Deana yang menyadari keberadaan Raffi pun langsung mengusap air mata dengan cepat. Kemudian, ia duduk di depan bocah itu dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, dari mata Deana saja sudah terlihat jelas bahwa wanita itu habis menangis. 


"Mbak Dea tidak nangis, Sayang. Tapi kelilipan. Tadi, waktu Mbak Dea pulang pasar, ada debu yang berterbangan dan masuk ke mata Mbak Dea. Jadi, perih banget," ujar Deana diselingi helaan napas panjang. 


Deana tahu, ini tidak baik karena ia sudah berbohong di depan Raffi. Namun, di sisi lain ia juga tidak bisa mengatakan sejujurnya kepada bocah itu. Deana pun memberi kode kepada Rangga untuk membawa Raffi pergi terlebih dahulu. Wanita itu akan membersihkan diri agar lebih segar dan Adit tidak curiga ketika pulang nanti. 


Tinah duduk berhadapan dengan suaminya. Ia tadi sudah memohon-mohon kepada polisi agar memberi waktu padanya untuk berbicara berdua dengan suaminya karena lelaki itu sudah berpuluh-puluh tahun tidak pulang. Sejak tadi, mereka berdua hanya duduk saling berhadapan. Bukan hanya soal rindu saja yang dirasakan oleh Tinah, tetapi rasa penasaran. 


Ia sama sekali tidak percaya kalau suaminya sekarang adalah seorang pencopet. Padahal yang ia tahu, Bagyo adalah orang baik dan taat beribadah. Bahkan, selama tinggal di kampung Bagyo tidak pernah neko-neko. 


"Katakan padaku kenapa kamu jadi seperti ini, Mas? Kamu sudah membuat anak dan istrimu sangat kecewa." Tinah memfokuskan pandangannya ke arah Bagyo yang juga sedang menatap penuh ke arahnya. Tatapan mereka sama-sama nanar. 


"Maafkan aku, Tin. Aku sudah membuat kalian sangat kecewa dan aku tidak pantas untuk hidup." Bagyo menghirup napas panjang berkali-kali. "Aku terpaksa melakukan ini." 


"Terpaksa?" Tinah bertanya dengan tidak sabar. 

__ADS_1


"Ya, aku sudah berhenti bekerja di tempat bos yang dulu sudah lama sekali karena aku sudah bekerja di tempat yang lebih baik dan gajiku lebih besar, tetapi aku salah berteman di tempat yang baru." Bagyo menjeda ucapannya untuk menghirup napas dalam. "Aku diajari main judi. Pertama main aku langsung menang, akhirnya aku pun ketagihan." 


Tinah makin tidak percaya. Ia sungguh tidak menyangka kalau suaminya justru melakukan hal-hal yang paling dibencinya dulu..


"Lalu? Kenapa sekarang kamu jadi pencopet, Mas? Jangan bilang kalau untuk memasang taruhan," tukas Tinah. Mati-matian ia menahan emosi yang terasa membuncah di dada.


"Tidak, aku mencopet untuk bertahan hidup karena semua yang kumiliki sudah hilang termasuk pekerjaanku. Sementara aku, sama sekali tidak mendapatkan pekerjaan padahal sudah mencari ke mana-mana." Suara Bagyo terdengar penuh sesal hingga membuat Tinah mulai merasa iba padanya. 


"Mas, seharusnya kamu bisa berpikir ketika sedang melakukan itu. Seharusnya kalau memang kau tidak memiliki perkerjaan halal di sini, kamu bisa pulang kampung, Mas. Berkumpul dengan anak istrimu. Makan hanya dengan garam dan ikan asin tidak apa-apa. Asal, kita berkumpul bersama. Daripada kamu tidak pulang bertahun-tahun dan ternyata menjadi orang jahat. Aku tidak bisa membayangkan sekecewa apa putri kita. Padahal Deana selalu menunggu kepulanganmu." Tinah mengusap air mata yang mulai mengalir. 


Ini sungguh sangat menyakitkan untuknya. Namun, Tinah juga tidak bisa melakukan apa pun lagi  selain pasrah. 


"Aku benar-benar minta maaf, Tin." Bagyo meraih tangan Tinah untuk digenggam, tetapi wanita itu langsung menyingkir dengan cepat. 


"Mas, kamu harus mempertanggungjawabkan semua kejahatanmu itu dan merenungi semuanya. Aku akan pulang untuk melihat keadaan putri kita yang masih shock. Aku berharap kamu bisa hidup dengan baik di sini." Tinah bangkit berdiri dan hendak pergi dari sana. Sudah cukup ia berbicara dengan suaminya yang ternyata menorehkan kecewa dan luka yang sangat dalam. 


Namun, baru satu langkah berjalan, Bagyo sudah langsung menahan lengan wanita itu hingga membuat langkah Tinah terhenti kala itu juga. 


"Tin, bolehkah aku memelukmu sebentar saja?" pintanya lirih. 


Tinah mematung di tempatnya dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya wanita itu pun mengangguk lemah. Dengan gegas, Bagyo membalik tubuh Tinah dan memeluknya dengan erat. 


"Maafkan aku, Tin. Aku sungguh sangat menyesal. Aku berjanji akan berubah. Aku akan merenungi semuanya." Bagyo merapatkan pelukan tersebut sembari menangis. 

__ADS_1


Lelaki itu sungguh sangat menyesal.


__ADS_2