DEANA

DEANA
Deana-45


__ADS_3

"Apa kamu bodoh! Kamu yakin wanita tua itu belum mati?" 


"Sialan! Seharusnya kamu menabraknya lebih kencang lagi. Atau datanglah ke rumah sakit dan bunuh wanita itu. Aku tidak akan membayar murah untuk ini." 


"Tenang saja. Aku akan membayar dengan yang kemarin, waktu kamu menjebak gadis kampungan itu. Kamu memang bodoh, seharusnya kamu memerkosanya sekalian waktu itu. Agar Adit membencinya." 


***


Tangan Adit terkepal erat mendengar pembicaraan itu. Ia mematikan rekaman dan menyimpannya sebagai bukti. Rahangnya terlihat mengetat dan ingin sekali mencekik wanita itu sampai mati. Namun, Adit masih menahan diri. Jangan sampai ia lepas kendali dan itu justru akan berakibat buruk pada banyak hal di hidupnya.


Adit berdeham keras untuk mengalihkan perhatian Sonia. Benar saja, wanita itu terkejut melihat keberadaan Adit. Bahkan langsung melempar ponselnya secara sembarang. Wajah Sonia pun terlihat memucat karena saking takutnya. 


"A-Adit ... Arggh!" Sonia mengerang saat Adit sudah mencekik lehernya. Membuat pasokan udara menuju ke paru-paru mulai menipis. Jika Adit terus mencekiknya seperti ini, sudah pasti sebentar lagi Sonia akan mati. 

__ADS_1


"Bedebah sialan!" umpatnya penuh emosi. "Ternyata kamu yang sudah bersikap seperti iblis!" 


"Adit. Maafkan aku, Dit." Sonia menangis. Ia takut apalagi saat melihat sorot mata Adit yang menajam. 


Adit tidak menjawab apa pun. Ia melepaskan cekikan itu hingga membuat Sonia langsung menghirup napasnya dengan cepat. Agar ia bisa kembali bernapas normal dan tidak mati. 


Sonia pun kembali dibuat terkejut dengan gerakan Adit yang tiba-tiba menarik tangannya sangat kencang. Bahkan lelaki itu tidak memedulikan panggilan dari Raffi. Adit lebih memilih meminta pelayan agar mengurus Raffi dalam beberapa saat. 


"Arrgh!" Sonia kembali mengerang ketika Adit sudah menghempaskan tubuhnya ke kursi mobil. Lelaki itu pun langsung duduk di balik setir dan melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi. 


***


"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai." 

__ADS_1


Deana mengulas senyum saat ia dan Tinah baru saja sampai di kota. Akhirnya mereka kembali ke sini setelah Adit bersedia membebaskan ayahnya Deana. 


Gadis itu mungkin belum terbiasa, tapi ia berjanji akan benar-benar membuka hati dan lembaran baru. Memperbaiki semuanya dari awal lagi. 


Kedatangan mereka disambut Rangga yang sudah menunggu sejak tadi. Ketiga orang itu saling memeluk untuk melepaskan rindu. Lalu pulang ke rumah lama yang sebelumnya ditempati. 


Deana menghela napas panjang. Ia sangat berharap semoga ini adalah awal kebahagiaan yang sejak dulu ingin diraihnya. Baru saja duduk mengobrol, Deana tertegun ketika mendengar kabar dari Rangga bahwa Tiara dirawat di rumah sakit dan belum sadarkan diri karena kecelakaan. 


Dengan tergesa, Deana meminta diantar ke sana. Ia ingin menjenguk wanita itu. Namun, Rangga menolak karena tidak tahu di rumah sakit mana Tiara dirawat. Ia hanya mendengar kabar itu dari Adit. Kemudian, Deana pun berusaha menghubungi Adit untuk mencari tahu. 


Namun, bukan informasi di rumah sakit mana Tiara dirawat, Adit justru berkata akan datang ke rumah sekitar satu jam lagi sampai urusannya selesai. Adit juga berjanji akan menemani Deana bertemu dengan sang mama. 


"Kenapa Mas Adit lama sekali, Bu." Deana gelisah sendiri. Menunggu Adit belum juga datang padahal sudah satu jam berlalu. 

__ADS_1


Tinah hanya menggeleng sambil meminta putrinya agar lebih bersabar lagi. Selang beberapa saat, terdengar bunyi pintu diketuk, Deana pun dengan gegas membuka pintu. Namun, ia justru mematung hingga ponsel yang dipegangnya jatuh ke lantai. 


"Ba-Bapak." 


__ADS_2