
"Ini apa!" Adit meradang. Melihat foto yang berada dalam genggaman.
Entah datangnya dari mana, ada sebuah paket masuk dan ketika dibuka ternyata isinya adalah foto Deana yang sedang tidur bersama lelaki lain dalam keadaan tanpa busana. Adit tidak percaya dan berusaha mencermati foto tersebut. Khawatir itu adalah sebuah editan, tetapi foto itu terlihat sangat nyata.
Tangan Adit mencengkeram foto tersebut dengan kuat. Dadanya terlihat naik turun karena dipenuhi amarah. Walaupun tidak ada editan dalam foto tersebut, entah mengapa Adit justru merasa kalau Deana adalah korban di sini. Ia sama sekali tidak percaya Deana berbuat semurahan ini.
"Aku harus memastikan semuanya." Adit pun menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu tentang foto tersebut.
Kemudian, Adit langsung bersiap pulang untuk mendengar penjelasan langsung dari Deana. Untuk saat ini, Adit benar-benar tidak memikirkan pekerjaan sama sekali. Bahkan, ketika Raffi bertanya kenapa pulang cepat, Adit hanya menjawab tidak ada apa-apa.
Raffi masih terlalu kecil untuk mengerti urusan orang dewasa.
***
Deana berdiri di depan rumah sembari menatap pintu dengan ragu. Bayangan saat berada di hotel tadi masih sangat mengusik pikirannya. Ia masih terus berusaha mengingat apa yang terjadi padanya. Namun, ingatannya benar-benar sangat buruk.
"Bu ...."
__ADS_1
Ucapan Deana tertahan di tenggorokan karena pintu terbuka dan Tinah keluar dari sana. Namun, Deana merasa aneh karena sang ibu hanya diam saja bahkan raut wajahnya terlihat dipenuhi emosi.
"Kamu dari mana, De?" Suara Tinah memang terdengar biasa, tetapi ada penekanan di dalamnya.
"Deana ...."
"Bertemu dan tidur dengan pria asing?" sela Tinah dengan suara meninggi.
Deana tersentak. Terkejut mendengar sang ibu melontarkan pertanyaan seperti itu. Pikiran Deana pun mulai berkelana, mungkinkah sang ibu sudah mengetahui kalau ia tidur dengan lelaki yang ia sendiri tidak tahu orangnya.
"I-Ibu ...."
"Jelaskan pada ibu, De. Apa maksud foto ini. Bukankah ini kamu?" Tinah terus mendesak putrinya, sedangkan Deana masih termangu karena berusaha mempercayai semua ini.
"Bu, Dea tidak tahu apa pun."
"Tidak tahu apa pun?" Tinah mengulangi ucapan Deana dengan nada tinggi. Membuat tubuh Deana seketika beringsut takut.
__ADS_1
"Bu, sumpah Dea tidak tahu menahu soal ini. Bahkan, Dea tidak ingat sama sekali tentang kejadian ini. Hanya saja ...." Deana menghentikan ucapannya sesaat untuk mengambil napas dalam. "Deana bangun tanpa memakai baju saat di hotel tadi."
"Astaghfirullah." Tinah mengusap dada sembari meneteskan air mata. Tidak diragukan lagi kalau foto tersebut memanglah foto Deana. "Ya Allah, De. Kamu sudah buat ibu sangat kecewa."
"Maafkan Dea, Bu." Deana menangis, merasa sangat bersalah apalagi saat melihat ibunya menitikkan air mata. Sungguh, Deana seketika merasa gagal menjadi seorang anak. "Deana tidak tahu apa pun, Bu. Deana sedang jajan, tiba-tiba Deana sangat ngantuk dan tidak tahu apa pun lagi. Saat bangun, Dea sudah berada di hotel. Sumpah, Demi Allah, Bu."
"Jangan bersumpah membawa nama Allah!" bentak Tinah. Sorot matanya yang dipenuhi dengan kekecewaan seketika membuat hati Deana serasa remuk redam.
"Bu ...."
"De, masuklah. Ibu tidak mau ada orang lain yang melihat dan salah paham."
Deana pun masuk menuruti perintah ibunya. Ketika Deana hendak berbicara, Tinah sudah masuk ke kamar terlebih dahulu tanpa berbicara apa pun. Bahkan, ketika Deana memanggil namanya berulang kali, Tinah sama sekali tidak keluar ataupun sekadar menyahut.
"Maafkan Dea, Bu."
Deana duduk di depan pintu menunggu sang ibu bersedia membukakkan pintu itu untuknya. Ia terus mengetuk pintu tersebut meskipun sang ibu tidak mau membukanya.
__ADS_1