DEANA

DEANA
Deana-7


__ADS_3

"Raffi, kamu sudah datang?" Tiara yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga segera beranjak bangun saat melihat kedatangan putra sulung dan cucu pertamanya. Wanita paruh baya itu memeluk sang cucu dengan erat dan tak lupa mendaratkan banyak ciuman di wajah anak kecil tersebut.


Setelahnya, Adit menyalami sang mama juga mencium kedua pipi wanita itu secara bergantian. Tiba-tiba Tiara terdiam saat melihat Marni masuk dengan menuntun Deana. Dengan sedikit gugup, Deana berdiri menunduk dengan tangan saling merem*s karena takut.


"Kenapa kakimu pincang?" tanya Tiara penuh selidik.


"Deana ...."


"Dia dorong Raffi, Eyang." Anak kecil itu mengadu dengan penuh kebohongan. Tiara terlihat begitu cemas dan segera meneliti setiap inchi tubuh Raffi takut ada yang terluka. Setelah memastikan tidak ada sedikit pun luka, Tiara bangkit berdiri dan melihat Deana dengan tatapan tajam. Membuat kepala gadis itu kian tertunduk dalam. Padahal ia tahu kalau bukan dirinya yang bersalah di sini. 


"Kamu mendorong cucuku?" tanya Tiara dengan nada bicara sedikit meninggi. Setiap nada bicaranya penuh dengan amarah. Bagaimana tidak, Raffi adalah cucu satu-satunya yang sangat disayang bahkan terlalu dimanja oleh wanita itu. 


"Ma-maafkan saya, Nyonya." Deana menjawab dengan tergagap karena takut. 


"Ma, dia mendorong Raffi karena menolong Raffi yang hampir saja tertabrak motor dan lihatlah kakinya sendiri yang terluka." Adit berusaha menjelaskan. Amarah yang tadi memenuhi hati Tiara kini menguar seketika. Wanita itu terlihat menyesal, tetapi begitu gengsi untuk sekedar meminta maaf.


"Istirahatlah." Akhirnya, Tiara hanya berani menyuruh Deana untuk pergi. Gadis itu pun mengangguk dan berpamitan kembali ke kamar. Tiara terus saja menatap putranya yang sejak tadi tidak melepaskan pandangan dari sosok Deana. 

__ADS_1


"Kamu jatuh cinta dengan gadis itu?" Suara Tiara menyadarkan Adit dari lamunannya.


"Mama bicara apa, sih? Udahlah, Adit mau ke kamar." Adit hendak beranjak pergi, tetapi Tiara segera menahan lengan putranya.


"Ingat, Dit. Dia hanyalah seorang pembantu, berbeda jauh dengan Sonia."


"Jangan sebut nama Sonia, Ma. Adit sangat benci itu!" Adit menyingkirkan tangan Tiara dengan sedikit kasar dan berlalu pergi begitu saja. Jujur, dia paling benci saat sang mama mengungkit nama Sonia. Mantan istrinya yang baru resmi bercerai sekitar enam bulan lalu karena hanya mendengar nama Sonia saja, sudah membuat luka di hati Adit kembali terasa perih. Apalagi ingatan-ingatan menyakitkan tentang wanita itu. 


Adit bergegas masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur begitu saja. Mengingat nama Sonia, hati Adit seperti diremas dengan sangat kuat. Soal cinta, dia masih sangat mencintai wanita itu. Namun, mengingat pengkhianatannya membuat Adit tidak mau menerima lagi dan lebih memilih bercerai. 


Di saat pikirannya sedang kacau dengan Sonia, tiba-tiba sekelebat bayangan Deana yang sedang tersenyum, begitu mengusik hati dan pikirannya. Seolah memberikan ketenangan padanya. Namun, Adit menggeleng dengan cepat untuk mengusir bayangan gadis itu. Tidak sepatutnya ia memikirkan wanita yang baru dikenalnya. Bahkan, tadi merupakan pertemuan  pertama  mereka. Namun, senyum Deana seolah mengganggu hingga Adit memaksa dirinya untuk segera tidur.


"Sepertinya aku butuh banyak istirahat." Adit tetap memejamkan mata meskipun susah untuk terlelap. 


Apalagi malam ini Adit tidur sendirian karena jika sudah berada di rumah itu, Raffi akan selalu bersama dengan Tiara, dan Adit akan menjadi seperti bujangan lagi. 


***

__ADS_1


Tanpa terasa seminggu telah berlalu dan Deana mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Sementara Adit semakin sering memperhatikan gadis itu dan sering mencuri pandang. Deana sadar kalau sering diperhatikan, tetapi dia memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Baru saja Deana berisitirahat, ponselnya sudah berdering keras. Dia segera mengangkat panggilan itu saat melihat nama sang ibu tertera di layar.


"Hallo, Bu."


"De, kamu sedang apa? Sudah makan?" Deana terdiam sesaat ketika mendengar suara ibunya yang sangat dia rindukan. Bahkan tanpa sadar air mata hendak mengalir dari kedua sudut matanya. Ingin sekali ia pulang dan memeluk wanita itu dengan erat. Namun, ia harus sadar bahwa perjuangannya baru saja akan dimulai. 


"De!"


"I-iya, Bu. Dea baru selesai bersih-bersih. Ibu sedang apa?" tanya Deana balik. 


"Habis bantu bersih-bersih di rumah Pak Haji. De ... ada hal penting yang mau ibu bicarakan sama kamu," ucap Tinah ragu. 


Deana kembali membungkam rapat mulutnya. Hatinya mendadak gelisah padahal sang ibu belum mengatakan apa pun. Namun, batin Deana seolah mengetahui apa yang akan dibahas saat ini. 


"Hal penting apa, Bu?" tanya Deana penasaran sekaligus tidak sabar.


"Ibu mau jual rumah ini untuk bayar utang ke Bang Togar. Waktu satu bulan tidak akan cukup untuk kita mengumpulkan uang, De. Nanti kita bisa ngontrak sementara waktu."

__ADS_1


__ADS_2