DEANA

DEANA
Deana-23


__ADS_3

Deana sungguh tidak menyangka bagaimana bisa Adit menebak dengan benar. Kegugupan di wajah Deana pun kian terlihat jelas. Ia khawatir jika akan ada hal yang tidak baik setelah ini. Dengan gerakan perlahan, Deana menurunkan tangan Adit dari lengannya.


"Bu-bukan, Mas." Deana memalingkan wajah karena tidak ingin jika Adit sampai mengetahui kebohongannya. "Bagaimana bisa Mas Adit menuduh mama kamu sendiri." 


"Tentu saja bisa." Adit mendes*hkan napas ke udara secara kasar. "Selama ini mama yang selalu mengaturku harus dekat dan jauh dengan siapa. Berapa kali saja pengasuh Raffi berhenti karena mama yang menuduh mereka bekerja untuk merayuku." 


Deana hanya diam dan mendengarkan. 


"Sudahlah, lebih baik sekarang kamu tidur dan jangan pergi dari sini jika bukan karena aku yang memecatmu. Aku yang menggajimu, bukan mama." 


"Tapi, bagaimana kalau Nyonya Tiara tahu saya masih di sini, Mas. Saya khawatir Ibu dan Rangga di rumah akan celaka," ucap Deana dengan jujurnya.


Gadis itu sungguh polos sampai tidak bisa berbohong atau sekadar menutupi semuanya. 


"Kamu tenang saja. Mama tidak akan pernah melakukan itu. Dia hanya sedang menakut-nakutimu," ucap Adit berusaha menenangkan hati Deana. 


"Tapi, Mas ...." 


"Daripada kamu terus khawatir seperti ini. Bagaimana kalau ibu dan Rangga suruh ke sini saja. Kalau kalian tidak tinggal di sini, nanti aku akan mencarikan kontrakan yang dekat sini dan kamu tidak perlu menginap lagi. Kamu bisa datang ke sini pagi dan pulang setelah makan malam," saran Adit.


Deana menatap lelaki itu dengan tidak percaya. Bagaimana bisa Adit memiliki pemikiran sejauh itu yang bahkan Deana saja tidak pernah memikirkannya. Deana benar-benar merasa sangat bimbang dan ia meminta waktu untuk memikirkan semuanya. 

__ADS_1


Namun, dalam hati Deana merasa kalau saran Adit itu adalah yang terbaik. Ia yakin kalau Adit pasti akan menjaganya dan Deana bisa tetap dekat dengan orang tuanya. Selain itu, ia juga tetap bisa mencari keberadaan ayahnya. 


"Mas, kalau semisal ibu dan Rangga pindah ke sini. Bagaimana dengan sekolah Rangga? Sementara kalau pindah ke sini ...." 


"Kamu tidak perlu cemas, De. Karena kamu bekerja untukku dengan baik maka semua kebutuhanmu aku yang akan menanggung. Soal sekolah Rangga, aku akan membantu mencarikan sekolah yang baik dan soal biaya kamu tidak perlu memikirkannya." 


"Pasti mahal, Mas." Deana berbicara lirih bahkan nyaris tidak terdengar. 


"Sudah, kamu tidak perlu memikirkan itu. Lebih baik sekarang kamu istirahat dan jangan memikirkan apa pun. Soal mama, biar aku yang urus," pungkas Adit. 


Deana masih ingin berbicara lagi, tetapi Adit sudah keburu pergi dari sana. Gadis itu pun hanya diam dan melihat punggung Adit yang perlahan menjauh dari pandangan sembari menghela napas berkali-kali. 


"Raffi mana, Dit?" tanya Tiara menyambut kedatangan putranya tanpa rasa curiga. 


Wanita paruh baya tersebut justru terlihat semringah saat melihat wajah Adit yang terlihat lesu. Tiara merasa yakin kalau raut wajah Adit yang tidak bersemangat tersebut dikarenakan Deana yang sudah berhenti bekerja. 


"Sekolah sama Deana," sahut Adit sambil mendudukkan tubuhnya di sofa. 


Wajah Tiara yang barusan semringah pun kini mulai datar dengan tiba-tiba. Wanita itu merasa kesal karena ternyata tebakannya salah. 


"Oh, lalu kenapa kamu tumben sekali ke sini waktu masih jam kerja?" Tiara mulai menaruh curiga apalagi melihat putranya yang sejak tadi terlihat sangat serius. 

__ADS_1


"Ma, aku cuma mau bilang sama Mama. Jangan terlalu ikut campur urusanku, Ma. Adit ini sudah besar dan bukan anak kecil yang harus selalu diatur." Adit mulai mengutarakan semuanya. Ia tidak ingin jika sang mama makin keterlaluan. 


"Apa maksud kamu? Jangan bilang karena wanita itu, kamu jadi membangkang sama mama. Kamu berani sama mama. Ingat, Dit. Dia hanyalah wanita rendahan!" Tiara mulai meninggikan nada bicaranya. 


"Wanita rendahan? Ma, kalau wanita baik-baik seperti Deana saja, Mama bilang wanita rendahan. Lalu bagaimana dengan Sonia? Apa menurut Mama wanita yang baik itu seperti Sonia? Tidak peduli terhadap anak dan suami. Sibuk dengan dunianya sendiri dan yang penting selingkuh. Apa wanita baik seperti itu?" 


Adit berusaha keras menahan emosi agar tidak meluap. Ia tahu, tidak seharusnya melawan dan berbicara merasa kepada sang mama. Namun, ia juga tidak bisa jika hanya diam seperti ini.


"Deana hanyalah anak kampung dan miskin." Tiara masih saja mencemooh Deana tanpa peduli pada Adit yang sudah terlihat makin geram. 


"Deana mungkin miskin harta, Ma. Tapi dia tidak miskin akhlak," ucap Adit penuh ketegasan.


"Kamu bilang apa? Entah pelet apa yang digunakan oleh wanita kampung itu sampai-sampai kamu berani memujinya. Padahal mama yakin kalau dia bekerja itu memiliki maksud tertentu," tukas Tiara belum merasa puas. 


"Ya, dia memang punya maksud tertentu berkerja di kota, Ma. Yang pertama untuk melunasi hutang ibunya dan membantu perekonomian keluarganya. Yang kedua karena ingin mencari ayahnya yang tidak pulang selama berpuluh-puluh tahun. Lalu, apakah ada yang salah dengan maksud itu?" Adit dengan berani mendebat. 


Jika biasanya Adit akan diam saat sang mama menjelekkan siapa pun yang menjadi pengasuh Raffi, tetapi tidak kali ini. Adit justru membela Deana habis-habisan dan menunjukkan betapa hebatnya seorang Deana yang bisa menaklukkan hati Raffi dan ... hatinya. 


Eh! Adit menggeleng untuk menangkis pemikirannya sendiri. 


"Jangan bilang kamu sudah jatuh cinta dengan wanita itu, Dit? Mama tidak pernah setuju!" 

__ADS_1


__ADS_2