
Jantung Deana berdebar kencang ketika masuk ke ruangan di mana Tiara dirawat. Gadis itu masih merasa cemas kehadirannya ditolak oleh wanita tersebut. Mengingat bagaimana Tiara sangat membencinya. Namun, Adit justru tersenyum simpul dan meminta Deana agar tetap tenang. Semua bisa diatasi oleh lelaki itu.
"Ma, Adit senang akhirnya Mama sudah sadar." Adit mencium kening sang mama.
Tiara hanya menanggapi dengan senyuman karena wanita itu masih lemah. Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tersebut dan ia terkejut ketika melihat ada keberadaan Deana di sana.
Wajah Tiara pun mendadak terlihat geram bahkan matanya yang sayu mulai menajam. "Untuk apa ada gadis kampungan itu di sini!"
Deana menunduk dalam saat telunjuk Tiara mengarah tepat ke wajahnya. Gadis itu benar-benar takut. Walaupun sekarang ini Tiara masih lemah, tetapi sorot matanya sudah membuat Deana merasa takut.
"Ma, jangan seperti itu. Deana itu tidak salah. Bahkan, dia adalah korban. Sama seperti Mama," ujar Adit. Berusaha menenangkan hati sang mama.
"Korban? Kamu jangan percaya pada ucapannya, Dit! Bagaimana kalau dia hanya berpura-pura baik di depanmu," tukas Tiara. Masih menatap Deana dengan penuh benci.
Adit yang mulai kehilangan kesabaran pun langsung memutar rekaman Sonia. Agar Tiara menjadi percaya. Seusai mendengar rekaman tersebut, bola mata Tiara membulat penuh. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Jadi, lelaki itu memang yang menjebak Deana?" tanya Tiara lirih.
__ADS_1
"Mama tahu?" tanya Adit balik.
Tiara pun mengangguk lemah dan menceritakan saat ia memergoki Sonia sedang bersama lelaki yang ada di foto. Hal itu pun sontak membuat Adit makin kesal dan berjanji akan membuat Sonia mendekam lama di penjara.
***
Dua Minggu kemudian.
Tiara sudah diperbolehkan untuk pulang dan menjalani perawatan di rumah. Walaupun harus sering terapi agar bisa berjalan dengan normal lagi. Melihat keadaan sang mama yang butuh ditemani. Adit pun memilih tinggal di rumah sang mama sampai wanita itu kembali sembuh. Deana dan Raffi pun ikut tinggal di sana.
"Dimakan dulu, Nyonya. Setelah ini kita akan ke rumah sakit untuk terapi lagi," kata Deana. Menyiapkan sepiring nasi dan memberikan kepada Tiara.
Setelah selesai makan, Deana pun langsung mengantar Tiara ke rumah. Dengan telaten Deana menemani sampai Tiara selesai melakukan terapi.
"Aku mau jalan-jalan," kata Tiara setengah ketus.
"Baik, Nyonya. Anda mau ke mana?" tanya Deana lembut.
__ADS_1
"Butik."
Deana pun mengangguk mengiyakan. Lalu meminta pak sopir untuk pergi ke butik sesuai dengan permintaan dari Tiara.
Tiara memandangi gaun-gaun dari segala bentuk dan ukuran. Modelnya pun sangat bagus dan kekinian.
"Kamu suka warna apa?" tanya Tiara. Namun, Deana justru diam. Membuat Tiara menjadi gemas. "Kamu tidak dengar?"
"I-iya, Nyonya." Deana menjawab terbata karena memang dirinya sedang tidak fokus. Perhatian Deana teralihkan pada toko sebelah di mana ada tulisan Sale di sana.
"Kamu suka warna apa?" tanya Tiara lagi.
"Putih, Nyonya. Lebih suci. Em ... Nyonya." Deana tampak ragu. Tiara pun hanya menatap wanita itu dengan kening mengerut dalam. "Bolehkah saya ke toko sebelah?"
"Untuk apa?" Tiara menoleh ke toko yang dimaksud oleh Tiara.
"Saya mau membelikan baju untuk Ibu saya. Mumpung sedang ada diskon." Deana cengengesan. Hal itu justru menunjukkan betapa polosnya seorang Deana. "Saya mohon, Nyonya. Hanya lima menit. Setelah ini saya akan mengantar ke mana pun Anda mau." Deana terus memohon sambil menangkup kedua tangan di depan dada.
__ADS_1
Tiara pun menghela napas panjang. "Baiklah."