DEANA

DEANA
Deana-29


__ADS_3

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Deana pun akhirnya menceritakan semuanya. Tentang dirinya yang sudah bertemu dengan sang ayah, tetapi dalam keadaan yang tidak diinginkan. Hal itu pun sontak membuat Adit terkejut. Tidak percaya kalau ayah Deana sekarang menjadi seorang pencopet dan sudah masuk kantor polisi. 


"De, aku akan membantumu membebaskan ayahmu," ucap Adit.


Deana seketika menoleh ke arah Adit. Menatapnya dalam hingga membuat Adit salah tingkah sendiri. Jika boleh meminta, untuk waktu dekat ini jangan sampai Deana menatapnya seperti itu. Tidak baik untuk kesehatan jantungnya. 


"Biarkan saja, Mas. Saya sudah terlanjur kecewa sama Bapak. Bertahun-tahun tidak pulang, saya selalu menunggu dan khawatir pada keadaan Bapak, tapi ternyata dia malah menjadi orang jahat. Suka mencopet." Deana menghirup napas dalam untuk mengurangi rasa sesak di dada. 


"Tapi, De ... bagaimanapun dia tetaplah bapakmu. Apa kamu tahu alasan dia menjadi seorang pencopet?" tanya Adit dan hanya ditanggapi dengan gelengan kepala oleh Deana. "Kalau begitu, lebih baik kamu temui beliau dan bertanyalah apa alasan bisa sampai menjadi pencopet. Aku yakin, bapakmu pasti memiliki alasan tertentu." 


Deana hanya diam karena masih diselimuti oleh kebimbangan. Ia masih ragu jika harus bertemu dengan sang ayah yang sudah membuatnya kecewa. Namun, jika tidak bertemu dan mengobrol berdua, Deana tidak akan pernah tahu ada apa sesungguhnya. 


Akhirnya, Deana pun menyetujui saran Adit dan akan menjenguk sang ayah esok hari.

__ADS_1


***


Sonia tersenyum senang ketika ia mendapat informasi bahwa ayahnya Deana adalah seorang pencopet. Tidak rugi ia menaruh mata-mata selama ini. Dengan gegas ia menemui Tiara untuk mengatakan semuanya. Ia akan membuat Tiara makin benci pada Deana. Memecat wanita itu dan setelahnya Sonia akan kembali mencari perhatian Adit. 


"Kamu yang benar saja!" Suara Tiara menggelegar. Ketika mendengar Sonia yang mengadu. 


"Iya, Ma. Kalau Mama tidak percaya, besok kita ke kantor polisi untuk memastikan. Aku tahu di mana bapaknya gadis kampung itu ditahan," ucap Sonia antusias. 


Ia merasa bersemangat ketika Tiara terlihat marah. Bibirnya tersenyum sinis dan pikirannya pun sudah membayangkan bagaimana jika Adit dan Deana harus berpisah. Sonia sungguh tidak sabar menunggu waktu itu akan datang. 


"Aku menjenguk Mama mertuaku." Sonia menjawab santai bahkan gayanya terlihat manja.


Adit pun berdecih kesal. Lelaki itu sungguh merasa curiga dengan mantan istrinya. Adit pun menoleh dan melihat sang mama yang melayangkan tatapan tajam ke arahnya. 

__ADS_1


"Mama mau kamu memecat wanita kampung itu, Dit! Mama tidak mau ada orang jahat di sekitar kita." Ucapan sang mama sontak membuat Adit terpaku. 


"Maksudnya, Ma?" Adit justru mengerutkan kening karena bingung. 


"Jangan berlagak tidak tahu, Dit! Mama sudah tahu kalau ayah dari wanita kampung itu masuk penjara karena menjadi seorang pencopet. Jadi, lebih baik kamu pecat dia sekarang juga sebelum menjadi pengaruh buruk untuk keluarga kita terutama Raffi. Mama tidak mau kalau ...." 


"Cukup, Ma!" Adit menyela ucapan sang mama karena tidak ingin mendengar sang mama terus menjelekkan Deana. "Deana itu gadis yang baik, Ma." 


"Gadis yang baik? Kamu belum mengenal dia!" bantah Tiara. 


"Mama juga belum mengenal dia bukan? Jadi, jangan asal menilai seseorang apalagi hanya mendengar dari orang lain. Ma, ayahnya Deana memang masuk penjara, yang jahat itu ayahnya, bukan Deana. Deana tidak tahu dan tidak salah apa pun. Jadi, sampai kapan  pun aku tidak akan memecat Deana!" Adit berbicara dengan tegas. 


Hal itu justru membuat Tiara kian meradang. "Kamu sekarang berani berbicara keras kepada Mama ya, Dit! Sejak kenal gadis kampungan itu, kamu menjadi seorang pembangkang dan kurang ajar!" 

__ADS_1


Adit terdiam dan merasa bersalah karena sudah berbicara keras kepada sang mama. Adit sungguh tidak ingin melakukan hal itu. Semua tidak terkendali karena Adit terlampau kesal. 


"Ma-Maafkan Adit, Ma." 


__ADS_2