
"Apakah Anda yakin, Pak?" Adit bertanya dengan nada tinggi ketika mendengar pihak kepolisian mengatakan bahwa kemungkinan besar mobil yang dikendarai oleh Tiara, sebelum jatuh ke jurang, ditabrak terlebih dahulu dari belakang. Terbukti dari kerusakan parah bagian belakang mobil. "Apa ada CCTV di daerah sekitar sana, Pak?"
"Kami belum mencari tahu. Mungkin ada, dan akan kami usahakan secepatnya, Pak Adit." Polisi tersebut menjawab sopan.
Adit pun mengucapkan terima kasih dan langsung berpamitan setelah urusannya selesai. Walaupun pihak kepolisian akan menyelidiki semuanya, tetapi Adit pun akan ikut mencari tahu semuanya juga.
Lebih cepat lebih baik. Begitulah pikir Adit.
Setelahnya, lelaki itu pun langsung menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang mama yang belum sadarkan diri. Walaupun akhir-akhir ini Adit sering berselisih paham, tetapi melihat keadaan sang mama tetap membuat Adit merasa tidak tega.
Wanita paruh baya yang sudah melahirkannya ke dunia, terlihat sangat pucat dan masih betah memejamkan mata.
Adit pun mengecup kening sang mama sangat lama sambil berjanji dalam hati akan mencari tahu dengan cepat siapa yang sudah tega membuat mamanya terluka seperti itu.
***
__ADS_1
"Papa!" Raffi menyambut kepulangan Adit. Anak itu belum tahu kalau sang nenek dirawat di rumah sakit. Adit pun tidak akan memberi tahu terlebih dahulu karena tidak mau Raffi akan melontarkan banyak pertanyaan di saat keadaan masih seperti ini.
Setelah menciumi seluruh wajah Raffi, Adit pun langsung duduk di sofa dan melihat Rangga yang sedang mengerjakan tugas sekolah. Sungguh, Adit merasa salut atas kegigihan Rangga dalam menimba ilmu.
"Mas Adit," panggil Rangga.
"Selesaikan saja tugasmu, Rangga." Adit duduk bersandar.
"Baru saja selesai, Mas." Rangga pun menutup bukunya, menumpuk dan merapikannya menjadi satu. "Mas, aku mau bicara sama Mas Adit."
"Mas, tadi Mbak Dea telepon."
"Dia bilang apa?" Adit menyela dengan tidak sabar. Mendengar nama Deana disebut, selalu saja membuat Adit penasaran.
"Em ...." Rangga terlihat ragu-ragu bahkan bingung. Hal itu pun sontak membuat Adit mendadak curiga.
__ADS_1
"Kenapa, Ngga?"
"Em ... gini, Mas. Mbak Dea pesan sama aku. Suruh tanyain Mas Adit kalau Mbak Dea minta bantuan, Mas Adit masih mau membantu tidak."
"Tentu saja. Kapan dan apa pun bantuan yang dibutuhkan, aku pasti membantu." Adit berbicara sangat yakin. Tanpa ada sedikit pun keraguan. Hal itu pun membuat Rangga sedikit bernapas lega dan tidak segugup tadi.
"Jadi gini, Mas. Mbak Dea mau minta tolong sama Mas Adit buat bebasin Bapak dari penjara. Apa Mas Adit mau?" tanya Rangga. Adit justru diam dalam waktu yang cukup lama mendengar permintaan itu. Rangga yang awalnya semringah pun kini terlihat ragu. "Kata Mbak Dea lagi, kalau Mas Adit tidak bisa, tidak papa, Mas. Mbak Dea tidak akan maksa."
"Tentu saja, Ngga. Aku akan membantu kalian. Kalau begitu aku telepon Dea saja biar lebih jelas." Adit bangkit berdiri lalu ke kamar. Ia ingin mengobrol dengan Dea tanpa ada siapa pun.
Dua kali menghubungi Deana, belum ada satu pun panggilannya yang terhubung. Adit pun tidak menyerah. Baru dua kali panggilan, belum sampai puluhan kali.
Tepat ketika panggilan ke lima, Adit bisa mendengar suara Deana. Jantungnya yang tadi berdetak biasa saja, kini kecepatannya bertambah. Ada perasaan gugup yang dirasakan oleh Adit padahal mereka tidak bertemu secara langsung.
Ah, rasanya Adit sangat merindukan gadis ini. Ingin sekali ia bertemu untuk melepas rindu. Tapi ... Ah, sudahlah.
__ADS_1