DEANA

DEANA
Deana-41


__ADS_3

"Dia orang yang mau jahatin aku, Ma." Sonia langsung menarik tangan Tiara agar pergi dari sana. Tak lupa ia memberi kode dengan kedipan mata kepada lelaki tersebut. 


Tiara hanya menurut masuk ke mobil walaupun masih sangat penasaran dan curiga. Apalagi saat melihat gerak-gerik Sonia yang lebih seperti orang yang ketahuan mencuri. 


"Sonia, jelaskan pada mama. Kenapa bisa kebetulan sekali kamu bertemu dengan lelaki itu? Bukankah dia lelaki yang ada di foto bersama gadis kampungan." Tiara tidak mampu lagi memendam kecurigaannya. 


"Aku tidak tahu, Ma. Tiba-tiba dia datang dan berniat mau menyakitiku. Sepertinya dia memang seorang penjahat wanita," sahut Sonia. Berusaha terlihat tenang padahal dalam hari dipenuhi oleh kegelisahan. 


"Kamu yakin?" Tiara menatap Sonia penuh selidik. 


Dengan cepat Sonia mengangguk. 


Tiara pun hanya mengangguk walaupun hatinya dipenuhi kecurigaan. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh mantan anak menantunya. Tiara akan menyelidiki semuanya setelah ini. Sepertinya, ia harus bertemu dengan lelaki tadi, tapi bagaimana caranya, Tiara belum memikirkan.


Setelah mengantar Tiara sampai rumah, Sonia langsung berpamitan pulang. Padahal wanita itu hendak menemui lelaki tadi. Tiara yang masih merasa curiga pun akhirnya mengikut di belakang secara diam-diam. 

__ADS_1


***


"Kamu ini gila! Hampir saja ketahuan!" Sonia meradang. Mengumpati lelaki yang masih terlihat sangat tenang. "Kalau sampai ketahuan aku adalah dalang di balik foto itu, bisa hancur semua rencananya dan aku tidak memberi uang sepeserpun kepadamu."


"Nona, itu bukan murni kesalahan saya. Apa yang saya lakukan adalah untuk meminta hak. Anda berjanji akan memberi uang jika sudah melakukan tugas, tapi apa? Anda hanya memberi setengahnya saja." Lelaki itu sama sekali tidak takut kepada Sonia. 


"Ya, tapi jangan sekarang. Kekurangan itu aku bayar nanti setelah resmi rujuk dengan Adit. Kamu sungguh tidak sabaran!" umpat Sonia. Ia tidak menyadari kalau hal itu mampu membuat lelaki tadi geram. Merasa marah karena Sonia ternyata sangat plin-plan. 


"Nona, kalau sampai Anda tidak mau memberikan uang kekurangannya maka jangan salahkan saya kalau nanti akan saya bongkar semuanya." Lelaki itu mengancam. Bibirnya menyunggingkan senyuman licik saat melihat Sonia berdecak kesal. 


Krak!


Terdengar bunyi dari arah luar. Kedua orang itu pun tersentak dan langsung berlari karena merasa curiga ada yang menguping pembicaraan mereka tadi. 


"Sialan!" Sonia mengumpat marah ketika melihat Tiara sedang berlari menjauh. Ia tidak menyangka kalau Tiara akan mengikutinya sekarang ini. "Cepat kejar wanita itu." 

__ADS_1


Sonia memberi perintah. Mereka pun langsung masuk ke mobil karena Tiara juga sudah masuk ke mobil. Dengan cepat, lelaki tadi memacu kendaraan dengan cukup kencang. 


"Tabrak saja!" perintah Sonia. Tidak sabar. 


"Tapi, Nona ...." 


"Tabrak saja! Apa kau tuli dan bodoh!" hardik Sonia. 


Akhirnya lelaki itu pun menabrak mobil Tiara dari arah belakang hingga mobil tersebut menabrak pembatas jalan dan jatuh ke jurang. Sementara mobil milik Sonia masih berhenti di atas. Sebelum ada banyak orang yang datang, kedua orang itu pun segera kabur dari sana. 


"Apa dia mati?" tanya Sonia saat merasa sudah aman. 


"Mungkin saja, Nona. Apalagi untuk wanita setua itu, terjatuh dari ketinggian sudah pasti membuat jantungnya berhenti berdetak," sahut lelaki itu menenangkan. 


Sonia pun menghela napas lega. Ia sangat berharap semoga Tiara benar-benar mati dan mereka menganggap kalau apa yang menimpa wanita paruh baya itu murni kecelakaan. 

__ADS_1


__ADS_2