DEANA

DEANA
Deana-14


__ADS_3

Deana sedang dalam perjalanan menuju ke kampung. Wanita itu terus saja merasa gelisah. Banyak hal yang mengganjal di pikirannya termasuk Adit yang akan menginap di rumahnya. Kalau benar itu terjadi, bisa jadi saat kembali ke kota, ia sudah resmi menjadi istri majikannya tersebut. 


Deana berusaha menutupi kegelisahan hatinya dengan mengajak Raffi mengobrol. Namun, saat Raffi tertidur pulas maka suasana di mobil akan terasa hening. 


"Mas ...." Deana mengurungkan ucapannya. Terlihat ragu-ragu hingga membuat Adit sekilas menoleh heran ke arah wanita di sampingnya. 


"Kenapa, De? Ada yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Adit tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. Hanya ekor matanya yang sesekali melirik Deana. 


"Em ... apa Mas Adit benar-benar akan menginap di rumah saya?" 


"Memangnya kenapa kalau aku menginap di rumahmu?" Adit menunggingkan senyumnya. Ia tahu apa yang membuat Deana terlihat ragu seperti itu. 


"Saya belum mau jika menikah karena dipaksa, Mas. Saya takut digrebek." Deana mendes*hkan napas ke udara secara kasar. 

__ADS_1


Ia tidak bisa menutupi hal yang membuatnya gelisah. Adit tersenyum simpul. Benar dugaannya kalau Deana takut digrebek.


"Kamu tenang saja, De. Kalau memang kita harus menikah paksa, aku tetap akan menganggap kamu adalah istriku dan aku pun akan berusaha mencintaimu. Aku bahkan akan menghidupimu. Mencukupi nafkah lahir dan batinmu. Kamu tenang saja." Adit tidak sadar berbicara seperti itu. Menggoda Deana yang saat ini sudah terlihat salah tingkah.


Deana melempar pandangan ke luar jendela. Merasa tidak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan Adit yang lebih persis menjadi sebuah rayuan untuknya. 


"Kamu tenang saja, De. Aku akan menginap di hotel. Aku tidak benar-benar serius dengan ucapanku tadi." Adit meralat ucapannya. 


Deana pun mengembuskan napas lega. Setelahnya Adit meminta Deana agar tidur karena perjalanan masih jauh. 


"Assalamualaikum, Bu." Deana mengetuk pintu rumah sambil mengucap salam. Namun, tidak ada sahutan sama sekali. 


Rumah yang baru ia tinggal selama sebulan dan Deana sudah sangat merindukannya. Gadis itu pun memilih untuk membuka pintu rumah yang kebetulan tidak dikunci. Lalu memanggil nama sang ibu berkali-kali. 

__ADS_1


"Dea!" Tinah yang saat itu sedang memasak pun, memekik keras saat melihat putrinya. 


Pisau yang dipegangnya tadi langsung diletakkan secara sembarang lalu berjalan tergesa untuk menyambut putri kesayangannya. Tinah memeluk Deana dengan sangat erat bahkan tanpa terasa bulir-bulir bening mengalir dari setiap sudut mata wanita paruh baya itu. 


Ia sungguh sangat merindukan putrinya. Setiap habis sholat Tinah tidak pernah lelah berdoa agar bisa melihat Deana dan sekarang doa itu sudah dikabulkan oleh Tuhan. 


Deana melerai pelukannya saat mengingat ada Adit dan Raffi yang sedang duduk di ruang tamu. Dengan segera ia mengajak sang ibu agar bertemu dengan majikannya itu. Tinah begitu menyambutnya. Langsung membuatkan minum dan menyiapkan makanan untuk mereka. 


Adit yang melihat betapa antusiasnya Tinah memberi sambutan padanya, membuat lelaki itu merasa senang. Rumah Deana memang sangatlah sederhana, tetapi sikap ramah dari mereka mampu menggetarkan hati Adit dan membuatnya mengagumi kedua wanita itu. 


Setelah cukup lama mengobrol, Deana pun langsung membahas soal kedatangannya ke kampung. Deana tidak bisa menundanya lagi karena Adit hanya memiliki waktu libur tiga hari. 


"Jadi, Mas Adit ke sini mau membantu Deana untuk membayar hutang ibu terlebih dahulu. Sertifikat rumah ini akan dipegang oleh Mas Adit. Nanti Deana akan membayar nyicil dengan sistem potong gaji, Bu. Biar lebih ringan. Kalau sudah lunas, sertifikat rumah ini akan dikembalikan," jelas Deana. 

__ADS_1


Tinah terdiam. Gurat di wajahnya dipenuhi dengan keraguan. Ia bahkan sudah menatap Deana dan Adit secara bergantian. 


"Maafkan ibu, De." Suara Tinah terdengar berat dan penuh penekanan. Wanita itu pun menghela napas panjang berkali-kali sebelum melanjutkan ucapannya. "Sertifikat rumah ini sudah diminta oleh Bang Togar dan ibu terpaksa memberikannya karena dia mengancam akan menculik Rangga. Jika minggu depan ibu tidak bisa membayar maka sertifikat itu akan menjadi miliknya." 


__ADS_2