DEANA

DEANA
Deana-49


__ADS_3

Tiara tersenyum simpul. Melihat Adit dan Deana sama-sama terlihat terkejut. Seperti sebuah hiburan untuknya. Setelah memikirkan semua dengan matang, Tiara pun akhirnya menerima Deana sebagai calon anak menantunya. Melihat bagaimana Deana memperlakukan dirinya dengan baik selama sakit, membuat Tiara perlahan membuka hati. Mencoba untuk menerima gadis itu terlepas dari mana keluarganya berasal. Tiara tidak lagi peduli meskipun Deana hanyalah gadis kampung.


"Ma, jangan bercanda." Adit masih belum percaya.


"Mama tidak bercanda, Sayang. Mama serius. Setelah memikirkan semuanya dengan matang, kini mama sadar kalau Deana memang yang terbaik untukmu." Tiara mengulas senyumnya. Menatap Adit dan Deana secara bergantian.


Begitupun dengan Adit yang langsung menoleh ke arah Deana. Gadis itu masih saja tertunduk dalam. Jemarinya saling merem*s. Tampak sekali kegugupannya.


"De, angkat kepalamu," suruh Adit.


Deana pun dengan perlahan mengangkat kepala dan bertatapan langsung dengan Adit.


"Kamu dengar? Mama sudah setuju kalau kita dekat." Adit berbicara sangat antusias. Berbeda dengan Deana yang masih terlihat seperti orang bingung. "De ...."

__ADS_1


"Mas, saya tidak pantas untuk kamu. Saya hanyalah seorang pengasuh. Tidak akan pernah pantas, Mas," ucap Deana lirih.


Adit menghela napas panjang. "De, aku tidak peduli pada statusmu. Karena Mama sudah memberi restu, jadi aku akan mengungkapkan semuanya kalau aku sayang padamu, De. Sejak pertama kali kita bertemu."


"Mas ...."


"Selama ini aku memang sudah memendam semuanya. Banyak hal yang harus aku pertimbangkan untuk mengungkapkan, De. Menunggu waktu yang benar-benar pas dan semua siap untuk menerima. Sepertinya waktu ini adalah waktu yang tepat. De, maukah kamu menjadi istriku? Menjadi ibu sambung Rafi, dan ibu dari anak-anakku nanti?"


"De, kenapa kamu diam saja? Kalau memang kamu tidak mencintaiku, tidak apa. Jangan dipaksa. Itu lebih baik." Adit berbicara lirih, tetapi ada kekecewaan yang tersirat dari nada bicaranya.


"Mas, saya belum bisa memberi jawaban sekarang ini. Saya harus memikirkan dengan matang-matang," ucap Deana. Merasa tidak enak hati apalagi saat bertatapan dengan Adit. Deana pun segera memalingkan wajah.


"Baiklah. Aku akan selalu menunggu keputusan darimu," pungkas Adit.

__ADS_1


Pembicaraan itu pun berhenti. Tiara berusaha mengalihkan pembicaraan mereka karena tidak ingin suasana makin terasa canggung. Terlihat jelas, sikap Deana yang terkesan menjaga jarak dari Adit.


***


Setelah Adit mengungkapkan perasaannya kepada Deana, entah mengapa Adit merasa kalau gadis itu menjaga jarak darinya. Hubungan mereka tidak lagi seperti dulu Bahkan, Adit merasa Deana seperti menghindar darinya.


Tentu saja hal tersebut membuat Adit kalang kabut. Merasa cemas jika Deana justru menjauh darinya. Ketika sedang bersama, Adit berusaha mencairkan suasana, tetapi Deana justru tetap saja terlihat canggung.


"De, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Adit. Menahan Deana yang hendak pergi.


"Maaf, Mas. Saya harus segera pulang karena Ibu sudah menunggu di rumah." Deana beralasan. Padahal ia hanya ingin menghindar dari Adit.


"De, jangan menghindar terus dariku. Aku hanya butuh kepastian. Kalau memang kamu tidak suka padaku, tidak apa. Lebih baik kamu tolak saja daripada menggantungkan seperti ini. De, apa pun keputusanmu. Aku akan terima meskipun itu sebuah penolakan sekalipun."

__ADS_1


__ADS_2