
"Nak Adit," panggil Tinah lirih saat baru saja membuka pintu.
"Bu, di mana Deana?" tanya Adit langsung. Tinah tidak langsung menjawab, ia menghela napas panjangnya terlebih dahulu. Menatap Adit dengan tatapan yang susah dijelaskan.
"Dia sedang tidur di depan kamar ibu." Tinah pun menyuruh Adit agar masuk dan melihat Deana yang masih terlelap. Rasa lelah yang begitu mendera juga terlalu lama menangis membuat Deana tidur sangat lelap bahkan tidak terusik sama sekali.
Adit hendak membangunkan, tetapi Tinah justru melarang. Wanita itu mengajak Adit untuk duduk di ruang tamu. Adit pun hanya menurut.
"Nak, ibu sedang marah dengan Dea." Tinah bisa menyembunyikan kegelisahan hatinya. Jujur, walaupun marah dan kecewa kepada Deana, tetapi jauh di dalam lubuk hati kecilnya, ada sebersit rasa tidak percaya kalau Deana seliar itu. Tinah paham putrinya adalah gadis yang polos.
"Marah kenapa, Bu?" tanya Adit penasaran.
Tinah pun menyerahkan foto Deana yang sedang tidur bersama seorang lelaki. Hal itu pun sontak membuat Adit membulatkan mata penuh. Lalu mencengkeram foto tersebut hingga tak berbentuk.
__ADS_1
"Ibu dapat foto ini dari mana?" tanya Adit penuh penekanan.
Tinah menggeleng cepat. "Tidak tahu, karena tiba-tiba ada paket datang dan itu isinya. Nak ...." Tinah menghentikan ucapannya sesaat untuk menghirup napas dalam. "Ibu sedang marah kepada Deana, tapi jujur ibu tidak percaya sepenuhnya kalau Deana berbuat seperti itu."
"Bu, saya juga mendapat foto yang sama seperti ini. Bahkan, mama saya juga sama. Saya yakin kalau ada orang yang akan menjatuhkan Deana dan saya akan menyelidikinya," kata Adit sangat yakin.
"Bisa jadi seperti itu. Tapi, siapa yang sudah membenci Deana? Atau Deana pernah membuat masalah dengan orang lain," gumam Tinah masih bingung.
Adit pun meminta Tinah untuk menyudahi semuanya dan biarlah nanti waktu yang akan menjawab. Ia pun merasa yakin kalau Deana tidak akan mungkin melakukan hal sekotor itu. Dalam hati Adit berjanji akan memberi pelajaran untuk siapa pun yang sudah berani memfitnah Deana.
***
"Bu, maafin Dea, Bu."
__ADS_1
Deana mendekati Tinah yang sedang memasak di dapur. Saat bangun tadi, Deana tidak melihat ibunya di kamar lalu ia pun bergegas mencari ibunya. Sejak tadi, gadis itu terus saja menggoyangkan lengan sang ibu untuk meminta maaf.
"Bu, jangan diem saja. Dea mohon, maafin Dea, Bu. Sumpah, Dea tidak melakukan hal itu." Deana menunjukkan dua jari tanda bersumpah. Namun, Tinah tetap bersikap seolah tidak peduli. Ia bahkan menganggap tidak ada Deana di sana hingga membuat gadis itu pun memasang wajah memelas.
"Ya sudah, kalau Ibu tidak mau memaafkan Dea." Deana mendudukkan tubuhnya di kursi secara kasar lalu beberapa kali terlihat menghela napas panjang. Tinah hanya meliriknya tanpa membuka suara sama sekali.
"Bu, kenapa Ibu tidak mau memaafkan Deana padahal Dea bersumpah tidak melakukan hal itu. Lantas, kenapa Ibu justru memaafkan Bapak yang jelas-jelas menjadi seorang pencopet. Apa itu artinya kesalahan Dea lebih besar dari Bapak, Bu?" tanya Deana tiba-tiba.
Tinah pun menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong sayuran. Ia terpaku. Memikirkan jawaban untuk pertanyaan Deana.
"De, bagaimana perasaanmu ketika orang yang kamu sayang kecewa dan mendiamkan mu. Padahal kamu sudah meminta maaf padanya." Tinah balik bertanya. Kali ini ia menatap putrinya dengan sangat lekat. "Apa kamu merasa sakit?"
Deana mengangguk lemah. "Ya."
__ADS_1
"Itulah yang dirasakan oleh bapak kamu sekarang, De."