
"Papa! Aku mau Papa!" Raffi menangis keras. Sudah dua hari bocah itu ditinggal oleh sang papa. Walaupun sehari tidak cukup video call sampai tiga kali, nyatanya Raffi tetap saja merasakan rindu. Ingin bertemu langsung dengan papanya.
Deana terkadang sampai kewalahan saat berusaha menenangkan bocah itu. Seperti saat ini, Raffi sudah menangis sejak tadi sampai sesegukan. Deana pun sudah melakukan berbagai cara untuk membuatnya diam. Namun, tidak bisa. Bocah itu justru makin mengamuk.
Deana ingin sekali menghubungi Adit, tetapi khawatir jika menganggu lelaki tersebut.
"Loh, Raffi kenapa?" Suara Tiara dari ambang pintu seketika membuat Deana kian merasa bingung. Terlebih lagi, sorot mata wanita itu yang terlihat begitu mengintimidasi. Seperti mata elang yang sedang memburu mangsanya.
"Eyang, aku mau sama papa," rengeknya sambil berlari mendekati wanita paruh baya itu dan langsung meminta gendong.
"Memangnya papa belum pulang juga?" tanya Tiara. Dengan cepat Raffi menggeleng sambil terus menangis.
"Kalau begitu, Eyang telepon Papa Adit dulu, tapi kamu harus diam," kata Tiara.
Bocah itu mengangguk cepat. Lalu mengusap air matanya dan duduk tenang di pangkuan Tiara. Melihat hal tersebut, Tiara mengembuskan napas lega. Merasa senang karena akhirnya Raffi bisa diam. Kalau tidak ada Tiara yang datang berkunjung, sudah pasti Deana makin kewalahan menghadapi Raffi.
"Ini ada apa?"
__ADS_1
Semua mata tertuju pada Adit yang sudah berdiri di ambang pintu. Padahal Tiara belum juga menghubungi putranya. Melihat kedatangan sang papa, Raffi langsung berteriak dan berlari mendekati sang papa. Memeluknya erat untuk melepaskan rindu yang terasa menggebu.
"Papa, aku mau sama Papa." Bocah itu masih suka sekali merengek. Adit pun menciumnya sampai beberapa kali.
"Papa sangat merindukanmu, Sayang. Papa sengaja pulang tidak bilang-bilang karena ingin membuat kejutan untukmu," ucap Adit. "Papa juga punya mainan untukmu."
Adit memberikan sebuah mobilan remot dan langsung disambut antusias oleh Raffi. Bocah itu langsung berlari ke ruang bermain. Melupakan hal bahwa ia habis mengamuk tadi. Deana pun membungkuk hormat dan berpamitan pergi untuk menemani Raffi bermain.
"Dit, apa kamu tidak bisa mengganti pengasuh Raffi. Gadis kampung itu tidak becus," cibir Tiara saat punggung Deana sudah tidak terlihat lagi.
"Tapi, tadi waktu mama datang ke sini. Raffi sedang menangis keras sampai sesenggukan dan gadis kampung itu sama sekali tidak bisa memenangkan." Tiara mulai memanasi, tetapi Adit tetap saja bersikap tenang.
"Mungkin karena Raffi saking kangennya sama Adit, Ma. Bukankah ketika bersama Mama juga seperti itu. Raffi akan mengamuk jika sampai beberapa hari tidak melihatku," balas Adit. Membuat Tiara merasa terpojok.
Wanita itu mengepalkan tangan kesal. Sungguh, ia tidak habis pikir bagaimana bisa Adit sangat membela Deana padahal mereka belum lama kenal. Kebencian Tiara kepada Deana pun kian mendarah daging. Ia menyalahkan Deana sebagai wanita yang pandai merayu putranya.
Adit pun mengalihkan obrolan mereka karena tidak mau jika terus membahas soal Deana. Pasti akan ada ucapan yang menyakitkan lagi karena seorang Tiara, jika sudah tidak suka pada seseorang maka akan selalu bersikap tidak bersahabat. Sebaik apa pun orang itu.
__ADS_1
***
"De, Raffi sudah tidur?" tanya Adit saat Deana baru saja keluar dari kamar Raffi.
"Sudah, Tuan. Baru saja." Deana menjawab sopan tanpa mengangkat kepala. Adit pun melihat jam di pergelangan tangan yang sudah menunjuk angka sembilan.
"Apa kamu sudah ngantuk, De?" tanya Adit lagi. Deana hanya menanggapi dengan gelengan lemah. "Ya sudah, sekarang kamu bersiap dulu dan kemas juga beberapa baju milik Raffi karena besok pagi kita akan berangkat ke kampung. Mumpung aku masih libur."
Deana mendongak, menatap tidak percaya ke arah majikannya. Namun, saat tatapannya beradu dengan milik Adit, seketika Deana menunduk dalam.
"Apa Mas Adit akan menginap?" tanya Deana hati-hati.
"Tentu saja. Kalau tidak menginap sepertinya aku tidak akan sanggup karena pasti melelahkan jika harus menyetir sampai berjam-jam," balas Adit.
"Tapi, Mas. Kalau di kampung saya. Jika ada seorang pria yang menginap di rumah seorang wanita, belum ada ikatan apa pun. Maka akan digrebek dan dinikahkan paksa, Mas." Deana berbicara dengan hati-hati. Gurat wajahnya menunjukkan kecemasan hingga membuat Adit mengulas senyum.
"Tidak papa. Aku justru senang," celetuk Adit. Membuat Deana membungkam rapat mulutnya.
__ADS_1