
Hidup dekat dengan sang ibu sungguh membuat Deana merasa sangat bahagia dan semakin bersemangat. Jika sedang senggang maka Deana akan mengajak Raffi ke rumah kontrakan ibunya dan akan kembali ke rumah saat waktunya tidur siang atau sore ketika Adit pulang bekerja. Tinah pun merasa sangat bahagia bahkan ia sudah menganggap dan memperlakukan Raffi seperti cucunya sendiri.
Sementara itu, Rangga pun sudah bersekolah di sebuah sekolah yang cukup ternama. Awalnya Deana menolak Rangga masuk ke sekolah tersebut karena khawatir dengan biaya yang besar. Namun, satu fakta yang membuat Deana tercengang, Adit sudah membayar lunas sekolah Rangga sampai lulus.
Deana benar-benar speechless dan tidak tahu lagi harus bagaimana lagi untuk membalas kebaikan Adit.
Deana terus memaksa Adit agar memberi sebuah permintaan sebagai balas budi agar hati Deana merasa lega. Namun, bukan hal macam-macam yang diminta Adit melainkan Deana tetap bekerja di rumahnya sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Jika suatu saat Deana pergi maka Adit akan meminta ganti rugi.
Gadis itu pun hanya bisa mengiyakan dan tidak menyadari kalau Adit secara tidak langsung sudah mengikatnya.
***
"Ibu tidak menyangka kalau bisa tinggal di kota, dekat dengan kamu, De. Mas Adit sungguh sangat baik," puji Tinah.
__ADS_1
"Dia menang orang baik, Bu. Suka menolong dan tidak pernah memandang orang dengan sebelah mata. Dea saja merasa sangat beruntung bisa mendapatkan majikan sebaik Mas Adit," ujar Deana antusias. Suatu kebanggaan bagi Deana memiliki majikan seperti Adit.
"Alhamdulillah. Kalau Marni kerjanya di mana? Katanya di tempat mamanya Mas Adit?" Tinah mulai penasaran.
Deana mengangguk lemah. "Iya, Bu. Kalau ada waktu nanti Dea ajak ketemu sama Lik Marni."
Tinah pun merasa senang dan tidak sabar ingin bertemu dengan Marni yang merupakan tetangganya.
Dikarenakan stok sayur di rumah habis, Deana pun mengajak Tinah untuk belanja ke pasar walaupun ia tidak tahu pasti tentang pasar tradisional. Selama ini, sudah ada orang yang bertugas berbelanja untuk kebutuhan dapur milik Adit.
Sementara itu, sekarang ini Deana dan Tinah sudah berada di pasar tradisional. Mereka begitu antusias memilih sayuran segar untuk persediaan. Lebih dari setengah jam lamanya mereka berkeliling, Deana pun mengajak pulang. Akan tetapi, ketika baru saja sampai di parkiran, mereka terkejut ketika mendengar suara seorang wanita meminta tolong.
Mereka yang berada di sekitar sana pun menoleh dan Deana bisa melihat seorang lelaki sedang berlari kencang mendekat ke arahnya. Tanpa aba-aba, Deana melempar keranjang miliknya hingga tepat mengenai wajah lelaki itu.
__ADS_1
"Dia copet, Mbak!" teriak wanita tadi.
Pencopet itu pun hendak kabur, tetapi Deana dengan cepat menendangnya hingga jatuh tersungkur. Beberapa warga yang tadi hanya melihat pun kini mulai maju untuk menghakimi pencopet tersebut.
"Ya Allah, kamu tidak apa-apa, De?" tanya Tinah tidak sabar saking cemasnya dengan keadaan Deana.
Deana menggeleng lemah. "Dea baik-baik saja, Bu."
Gadis itu masih shock dan tidak menyangka kalau ia berani menendang seseorang. Kedua wanita itu hanya melihat para warga yang sedang berkumpul untuk memberi pelajaran kepada pencopet tersebut. Tinah pun mengajak pergi karena khawatir terhadap putrinya.
"Dea ambil keranjang belanjaan kita dulu, Bu." Deana maju untuk mengambil keranjang belanjaan yang masih tergeletak di lantai.
Namun, ia dibuat tersentak ketika melihat pencopet tersebut sedang dipegang oleh warga dan hendak diarak sebelum di bawa ke kantor polisi.
__ADS_1
"Tunggu!" teriak Deana. Menghentikan langkah para warga tersebut. Tinah yang berdiri tidak jauh pun ikut mengalihkan perhatian setelah mendengar teriakan putrinya. Deana mengamati wajah lelaki itu dengan sangat cermat bahkan kedua alisnya pun sampai terlihat saling bertautan. "Ba-Bapak?"