DEANA

DEANA
Deana-12


__ADS_3

Adit merasa sangat tidak tenang ketika harus meninggalkan Raffi bersama dengan Deana. Walaupun ia yakin Deana bisa menjaga putranya dengan baik, tetapi Adit tetap saja kepikiran mereka. 


Ketika sudah sampai di hotel tempatnya menginap, Adit langsung membuka ponsel tanpa beristirahat atau sekadar membersihkan diri. Ia harus memastikan keadaan Raffi terlebih dahulu. Memastikan bahwa putranya dalam keadaan baik-baik saja. 


Tubuh Adit terpaku ketika ia memutar rekaman CCTV dari awal meninggalkan putranya. Hatinya merasa tersentuh saat melihat apa yang dilakukan oleh Deana. Bagaimana wanita itu dengan sabar meladeni Raffi, menenangkan bocah itu bahkan bagaimana Deana menjaga Raffi dengan baik. 


"Ya Tuhan, mungkinkah Engkau mengirimkan malaikat untukku dan Raffi," gumam Adit. Menghentikan rekaman tersebut tepat saat Deana sedang tersenyum. 


Sungguh, Adit sama sekali tidak bisa berpaling. Ia mengusap perlahan layar ponselnya dan terus memuji kecantikan Deana. Juga senyum tulusnya yang mampu menggetarkan hati seorang Aditya. Padahal, selama ini tidak ada satu pun wanita yang mampu membuat hatinya bergetar seperti sekarang ini. 


Dengan tidak sabarnya, Adit menelepon rumah. Sekadar ingin mendengar kabar Raffi juga suara Deana. Namun, sampai dua kali ia menghubungi, tidak ada satu pun panggilannya yang terhubung. 


Lelaki itu mendes*h kasar. Sungguh, rasanya begitu frustasi padahal belum ada sehari ia tidak bertukar kabar baik dengan Raffi maupun Deana. Tidak mau makin resah, Adit pun memilih untuk membersihkan diri. Namun, saat baru saja membuka pintu kamar mandi, langkah Adit terhenti saat ia mendengar ponselnya yang berdering. Dengan langkah lebar ia kembali mendekati ranjang dan segera menerima panggilan tersebut. 


"Hallo," sapa Adit. 


"Ha-Hallo, Mas Adit." 

__ADS_1


Mendengar balasan dari seberang, sontak membuat Adit merem*s dada saat merasakan gelayar aneh di sana. Padahal ia hanya mendengar suara Deana, belum menatap mata bening gadis tersebut. Akan tetapi, kenapa rasanya sudah tidak karuan seperti ini.


"Hallo, Mas. Kok tidak ada suaranya," gumam Deana. "Apa teleponnya rusak ya." 


Adit tak kuasa menahan senyuman. Ia membayangkan wajah polos Deana dan segala tingkahnya yang ah ... sudahlah. Adit lupa tujuannya adalah untuk mengetahui kabar Raffi bukan untuk terus-menerus mengagumi gadis itu. 


"Iya, De. Teleponnya belum rusak, kok. Oh iya, di mana Raffi. Kenapa suaranya tidak terdengar sama sekali?" tanya Adit. Mengusir pembicaraan canggung di antara mereka. 


"Den Raffi sedang tidur, Mas. Baru saja. Makanya saya tidak bisa mengangkat telepon dari Mas Adit tadi." Deana menjawab sopan. 


"Alhamdulillah, mau, Mas. Den Raffi justru makan dengan lahap." 


"Makan sama apa dia, De? Apa dengan telur ceplok?" Adit menyebutkan makanan kesukaan putranya. Biasanya Raffi akan meminta makan telur ceplok dengan kecap dan sedikit saus tomat.


"Iya, Mas. Bahkan, Den Raffi waktu makan itu sampai nambah. Katanya telur ceplok buatan saya lebih enak daripada buatan Mas Adit." 


"Kenapa begitu? Selama ini dia selalu makan buatanku dengan lahap." Adit merasa heran. Sama sekali tidak tersinggung. 

__ADS_1


"Katanya buatan Papa Adit itu asin." Deana terkekeh. Hal itu sontak membuat Adit yang mendengarnya pun ikut mengulas senyum. 


"Tapi, Mas Adit jangan bilang sama Den Raffi, ya. Soalnya Den Raffi ngelarang saya mengadu. Mungkin Den Raffi ingin menjaga perasaan Mas Adit." 


Dari nada bicara Deana, terdengar penuh dengan kekhawatiran dan Adit bisa menangkap jelas hal itu. 


"Baiklah. Kamu tenang saja. Kalau begitu, aku matikan dulu. Terima kasih banyak sudah mau menjaga putraku, De," ujar Adit disertai helaan napas panjang. 


"Sama-sama, Mas. Sudah menjadi tugas saya. Saya juga mengucapkan terima kasih karena Mas Adit sudah berniat akan membantu saya," balas Deana dengan sopan. 


"Sama-sama. Setelah aku pulang dari sini, kita akan langsung ke rumahmu di kampung. Aku matikan dulu." 


Adit pun mematikan panggilan tersebut. Ia menatap layar ponselnya yang masih menyala dan menunjukkan gambar Raffi saat masih bayi. 


"Doakan papa bisa menemukan wanita pengganti mama mu, Sayang. Yang lebih baik daripada Mama Sonia pastinya," gumamnya lirih. 


Adit kembali tersenyum tidak jelas saat mengingat obrolan dengan Deana tadi. Lebih tepat seperti obrolan suami istri yang sedang membicarakan putra mereka. 

__ADS_1


__ADS_2