Dear AURORA

Dear AURORA
1 : Salah Paham


__ADS_3

Aurora mendesah lelah. Kepalanya ia sembunyikan dalam tekukan tangan. Sedikit pusing dengan keadaan kantin yang riuh ricuh. Berteriak sana-sini hanya untuk sesuap nasi dan setetes es hijau khas kantin Bu Ijah.


"Nih." Sellena—sahabat Aurora—meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas es hijau.


Aurora segera menegakkan badan. "Wih, makasih ya. Terbaik emang sahabat gue yang satu ini."


"Kalau kayak gini aja muji-muji, kemarin kemana ya, si mbaknya?" cibir Sellena.


"Ya maaf, Sel." Aurora menunjukan cengiran khas. "Lo gak makan?" tanyanya saat melihat Sellena hanya membawa sebotol air mineral.


"Gak laper."


"Lagi diet?" tebak Aurora.


Anggukan kepala Sellena membuat Aurora menggeleng bingung. "Lo itu ya, badan udah sekecil Udin juga, masih diet aja. Itu si Edo yang badannya segede gedung biasa aja."


"Ya kan gue cewek, Ra. Beda." Sellena membela diri.


Aurora tak menanggapi lebih jauh, meminum es hijaunya sedikit lalu mulai melahap nasi goreng. Sesekali Aurora akan melihat ke sekeliling, memperhatikan siswa lain yang tak jauh beda dengannya. Lapar dan haus setelah memperkerjakan otak selama empat jam tanpa henti.


"Sel, lo liat deh. Si playboy cap gajah berdiri itu udah gandeng baru aja. Perasaan baru dua hari lalu mutusin kak Lail."


Sellena mengikuti arah pandang Aurora, menemukan pemuda bertubuh tinggi yang begitu tampan. Menggandeng tangan adik kelas yang kalau tidak salah bernama Wulan. Sellena tahu karena gadis itu ada dalam satu ekstrakurikuler dengannya.


"Ya udah lah, mau dia pacaran sama siapa aja gue gak peduli. Lagian setiap liat Reiga gandeng cewek baru pasti lo nyinyirin. Suka sama dia?"


Hampir saja Aurora memuntahkan nasi goreng yang ia kunyah. Melotot pada Sellena. "Gak mungkin dan gak akan pernah. Gila kali gue kalau suka sama playboy abal-abal kaya dia. Mending Udin, ya walaupun otaknya cuma setengah."


"Awas jilat ludah sendiri. Gue yang bakal ketawa paling keras." Sellena memperingati.


Aurora mendecak, tak menanggapi peringatan Sellena karena netranya menangkap sosok yang ia hindari beberapa hari ini. Seseorang yang berjalan dari pintu selatan kantin.


"Astaga! Kok ketemu dia di sini sih? Mati gu!" Aurora bangkit dari duduknya. Hendak pergi, tapi Sellena sigap meraih tangan gadis itu.


"Kenapa lo?" tanya Sellena tak mengerti.


"Kak Bintang, gue habis kalahin dia kemarin waktu seleksi buat kejuaran taekwondo dua bulan lagi. Aduh, dia marah banget pasti." Aurora menjelaskan, panik sekali raut wajahnya.


"Lo gak curang kan?" Sellena bertanya, Aurora menggeleng. Seingin-inginnya ia ikut lomba, curang jelas bukan pilihan yang diambilnya. "Ya terus apa yang ditakutin, dalam lomba pasti ada menang ada kalah."


Aurora menggeleng tegas. "Gue kemarin ngatain dia, gue bilang 'gitu aja terkecoh, khas petarung amatir. Dasar anak-anak'. Mati beneran deh gue hari ini."


"Mati beneran deh lo, Ra. Kak Bintang, kan, gak suka harga dirinya direndahin."


Aurora menepuk keningnya. Ucapan Sellena membuat dirinya semakin ketakutan.  "Udah ah, gue mau ke kelas. Awas lo bilang ke kak Bintang."

__ADS_1


"Hm." Sellena berdehem malas.


Aurora segera beranjak dari tempatnya. Berlari secepat mungkin agar Bintang tidak menemukannya. Padahal, sejak tadi Bintang sudah memeperhatikan Aurora dari jauh. Jadi, apa gunanya kabur?


"Sel, Aurora kemana tuh?" Bintang yang baru sampai langsung bertanya.


Sellena mendongak lalu menggeleng. "Gak tau, Kak. Takut kali liat Kak Bintang."


"Emang muka gue nyeremin?" Bintang bertanya heran. Sedikit tidak terima karena secara tidak langsung Sellena mengatakan kalau dirinya jelek atau lebih buruk, menyeramkan.


"Dih, siapa yang bilang Kak Bintang serem? Tapi kalau paham sih gak apa-apa." Sellena bangkit dari duduk. "Bye Kak, mau balik ke kelas."


"Eh, tunggu Sel! Gue ikut." Bintang berjalan cepat mengikuti Sellena.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Aurora baru menghela napas lega saat sampai kelas, mendudukkan dirinya di bangku pojok belakang. Bangku Udin sambil berteriak, "Udin, gue pinjem bangku ya!"


"Santai, pakai aja." Udin mengiyakan permintaan Aurora.


Sang gadis tak menjawab lebih jauh. Kembali menjatuhkan kepala pada tekukan tangan. Berlari dari kantin ke kelas bukan hal yang mudah.


Kelasnya berada di ujung utara, sementara kantin berada di ujung selatan sekolah. Selain itu fakta bahwa kelasnya ada di lantai dua menambah daftar lari dari Bintang menjadi lari menaiki tangga.


Rasanya perut Aurora kembali lapar. Nasi goreng yang sempat ia makan tiga per empatnya langsung hilang tak bersisa setelah digunakan menghindar dari Bintang—senior di ekstrakurikuler taekwondo.


Udin mengalihkan pamdangan sejenak sebelum berteriak menyahuti. "Ambil, Ra! Kayak baru pertama kali aja!"


Detik selanjutnya umpatan Udin dan siswa laki-laki lain memenuhi kelas Aurora.


"Lo ya, Din! Pakai gak fokus segala! Kalah, kan!" Edo berteriak tak terima. Menatap sinis Udin yang hampir membanting ponselnya. Lalu beralih pada Aurora yang masih minum."Lo juga, Ra. Pakai manggil Udin! Kalah kan tim kita!"


Aurora hampir tersedak karena kelanjutan ucapan Edo. "Kok gue?" tunjuknya pada diri sendiri. "Sorry ya, gue gak punya salah apa-apa sama lo bertiga!"


"Lah, songong nih bocah. Kalau bukan cewek udah gue tonjok dari tadi." Doni menimpali. Melotot tajam ke arah Aurora.


"Emang berani?" tantang Aurora.


"Ya, gak lah." Udin, Edo dan Doni kompak menjawab.


Bayangkan saja tiga orang pemuda yang hanya tahu cara memukul satu sama lain tanpa keahlian melawan anggota ekstrakukuler taekwondo. Bisa-bisa berakhir mengenaskan di salah satu bangsal rumah sakit jika tetap melawan.


Aurora tersenyum jumawa.


"Ra, dicari Kak Bintang tuh!" Sellena yang baru masuk kelas berteriak memangil Aurora.

__ADS_1


Wajah Aurora yang tadi sumringah berubah suram. Sial, kenapa kakak kelasnnya itu bisa di sini? Tamat sudah riwayatnya. "Kok bisa di sini? Lo yang bawa ya?" tuduh Aurora.


"Sembarangan, dia ngikutin gue dari kantin," sinis Sellena. Lantas mendorong bahu Aurora agar segera menemui Bintang di depan kelas. "Lo temuin gih, daripada kabur-kaburan kayak mau dinikahin paksa aja."


"Temenin." Aurora menarik tangan Sellena, menghiraukan protesan yang dilayangkan gadis itu.


Di depan kelas, Bintang berdiri dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku. Sementara tangan lain sibuk memainkan ponsel.


"Ah, hai Kak," sapa Aurora kaku.


Jujur, tangan Aurora sudah berkeringan karena menyapa Bintang. Menatap pemuda yang lebih tinggi tiga belas sentimeter darinya itu benar-benar membuat jantungnya berolahraga sekali lagi. Belum lagi raut wajah tegas yang langsung menyerang Aurora. Tatapan setajam elang sukses membuat Aurora menjadi ayam yang siap diterkam. Entah pergi kemana senyum kemenangan saat Udin, Edo dan Doni takut padanya.


"Gak usah gugup gitu." Bintang membuka suara, lalu tersenyum dan meraih tangan Aurora setelah menyimpan ponsel di saku baju. "Gue mau bilang makasih."


Aurora menahan napas saat tangan besar Bintang menggenggam tangannya. Terkejut bukan main. "Makasih buat apa, Kak? Bukannya Kakak mau ngajak aku tanding ulang gara-gara yang kemarin?" tanyanya bingung.


"Gosip dari mana?" Bintang menyangkal. "Bohong banget, gue malah seneng lo kalahin."


Aurora semakin tidak mengerti arah pembicaraan Bintang. Kalah? Senang? Apa laki-laki dihadapannya ini sudah hilang akal karena pukulan dan tendangannya kemarin.


"Hampir semua anak taekwondo tau kalau mama gue punya jantung lemah. Bisa ikut ekskul ini aja mohonnya dua hari dua malem. Kalau gue ikut pertandingan, bisa megap-megap mama gue liat anaknya dipukul sama ditendang," jelas Bintang.


"Dan juga, kalau gue bilang ke Master B gue gak bisa ikut pertandingan karena mama, bisa diejek anak mama sama anak-anak yang lain. Malu lah." Bintang menambahkan.


"Eh, sama-sama kalau gitu, Kak." Aurora mengembuskan napas lega.


Selamat, gumamnya dalam hati.


"Lo ada yang mau dibeli gak? Biar gue traktir, hitung-hitung sebagai balas budi," tawar Bintang.


Aurora menggeleng cepat. "Eh, gak usah, Kak. Lagian bisa ikut pertandingan udah seneng banget."


"Halah, pencitraan banget lo, Ra. Biasanya juga ngures dompet gue buat makan siang."


Sial. Jika bukan karena Bintang masih ada di hadapannya, mungkin sepatu Aurora sudah melayang menghantam mulut laknat Udin. Jahil sekali memang laki-laki yang satu itu.


Bintang terkekeh pelan karena ucapan Udin. Lantas tersenyum ke arah Aurora. "Anytime ya, kalau ada yang perlu, kontak gue, oke."


Aurora mengangguk.


Bintang segera pergi.


Selepas kepergian Bintang, Aurora mrmbalik badan. Berkacak pinggang sambil menatap tajam ke arah Udin. "Udin mulutnya minta gue ajak berantem!"


"Ampun, Ra! Gak maksud."

__ADS_1


Dan seluruh kelas XI-5 hanya bisa berdoa untuk keselamatan Udin. Salahnya sendiri membangunkan singa betina dari tidurnya.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


__ADS_2