
Pembukaan HUT berjalan lancar. Peserta datang tepat waktu dan upacara pembukaan dilakukan dengan khidmat. Pidato kelewat singkat yang diberikan Pak Shoddiq menambah keantusiasan peserta. Senang karena tidak harus berjemur lebih lama di bawah matahari.
Panitia kegiatan berkumpul saat istirahat post ceremony selama lima belas menit. Membagi anggotanya menjadi beberapa tim untuk menjaga delapan pos yang akan dilalui hingga sore nanti.
Hasilnya, Reiga dan Aurora menjaga pos flying fox di puncaknya. Sementara Bintang dan Wulan menjaga bagian bawah—bertugas memberi pertanyaan sebelum akhirnya berlanjut ke flying fox. Selebihnya, disebar sesuai keahlian masing-masing. Tak lupa juga dua orang anggota PMR yang menjaga setiap pos, memastikan bahwa tidak ada yang tiba-tiba ambruk karena kelelahan atau karena insiden lainnya.
Di atas, suasana canggung sepertinya senang sekali berteman dengan Aurora dan Reiga. Tak ada sahutan saling mengolok yang terdengar memekakan telinga, hanya ada suara daun yang diterpa angin di ketinggian sepuluh meter ini.
"Lo gak takut ketinggian?" Reiga mencoba bertanya. Mengusir rasa canggung yang bersinggah setelah pertanyaan pagi tadi.
"Gak."
"Padahal biasanya anak cewek itu takut ketinggian." Reiga mencoba membangun percakapan lagi. Sifatnya yang petakilan dan tidak bisa diam membuatnya merasa aneh dengan suasana ini. Sungguh, lebih baik bersama Saga yang seperti jelmaan cacing kepanasan dari pada Aurora yang mungkin saja sebuah manekin yang dikutuk menjadi manusia.
"Gak peduli."
"Jawaban lo singkat banget." Reiga mendengus sambil melongok ke bawah menanti tim berikutnya.
"Biarin."
"Lo marah?"
"G."
Reiga menghela napas. Menyerah saja ketimbang makan hati karena jawaban menguji emosi dari Aurora.
"Siap-siap, ini kelompok kelimabelas." Reiga memberi aba-aba.
Aurora tidak merespon banyak, mengambil peralatan yang diletakan di tengah papan pijak itu lalu memasangkan pada salah satu perwakilan regu. Memastikan bahwa ikatannya kuat dan tidak akan lepas di tengah jalan. Sementara Aurora sibuk dengan tali dan alat yang tepasang di tubuh gadis kelas sepuluh itu, Reiga sibuk dengan alat ditali yang memanjang ke papan yang lebih rendah di hadapanya.
"Siap?" Reiga memastikan.
Gadis itu mengangguk.
__ADS_1
Aurora berjalan mendekat, memastikan kembali alat keselamatan sudah terpasang dengan baik. Tangan Aulrora menyentuh pundak adik kelasnya, meremasnya pelan menyalurkan ketenangan. "Santai aja, rasain kalau kamu lagi terbang pakai sayap. Gak usah liat bawah."
Gadis itu mengangguk lagi. Mengeratkan cengkeraman pada besi yang menjadi tambatan tubuhnya. "Iya, Kak."
"Flying!" Reiga berseru memberi sinyal sambil mendorong pelan bahu gadis itu, membuatnya meluncur cepat di ketinggian sepuluh meter ke bawah.
"Reiga!" Aurora berteriak saat tubuhnya sudah tiga per empat melayang di udara, menyisakan ujung kaki yang masih berpijak pada papan. Dalam keadaan geting seperti itu ia tak sempat menyalahkan diri ataupun Reiga. Keterlambatan melepaskan tangan dari pundak gadis itu membuatnya ikut tertarik hingga jatuh dari ketinggian.
Reiga yang berada di dekat Aurora terlonjak kaget. Tubuhnya reflek bertolak pada papan dan meraih pinggang Aurora. Mendekap tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
Kalau sudah seperti ini, lalu apa?
Reiga spontan membalik badan di ketinggian lima meter. Menggantikan posisi Aurora yang sebentar beradu dengan tanah. Menekan kepala gadis itu ke dadanya dan memeluk pinggang Aurora lebih erat.
BUK
Beruntung Bintang mengusulan untuk memberi bak pasir ukuran dua setengah meter kali tiga meter tepat di bawah posisi Feiga dan Aurora. Sebagai antisipasi katanya. Siapa yang menyangka justru menjadi kenyataan.
Hampir seluruh panitia berlari ke tempat jatuhnya Reiga dan Aurora. Sebagian peserta melakukan hal sama, tapi lebih banyak yang diam dan memperhatikan. Bingung harus melakukan apa.
Tubuh Aurora didorong keras oleh Wulan, membuat Aurora yang masih tenggelam dalam rasa kaget kelimpungan hingga kehilangan keseimbangan dan ikut berbaring di sebelah Reiga. Dari samping, Aurora bisa melihat dengan jelas kerutan di mata dan dahi pemuda itu. Rintihan tertahan samar-samar terdengar. Reiga kesakitan dan itu karenanya.
Aurora mendongak saat merasakan pundaknya ditepuk. Bintang, kakak kelasnya itu menatap penuh khawatir.
"Ada yang sakit Ra?" Bintang bertanya lembut. Membantu Aurora duduk dan memengang punggung gadis itu. Takut-takut jika Aurora kembali limbung.
Aurora menggeleng, ia hanya kaget saja. Pandangannya kembali pada Reiga yang masih diam tak bergerak. Tapi wajah kesakitan itu berangsur menghilang. Perlahan pemuda itu mlulai bagkit, menepis tangan anggota PMR yang akan menaikan dirinya ke atas tandu.
"Lo harus dibawa ke tenda kesehatan, Ga! Lo habis jatuh!" Wulan bersikeras membujuk Reiga meski tangannya berulang kali di tepis dengan tatapan tajam.
"Gak usah sok peduli!" Reiga berkata ketus.
"Gue pacar lo! Gue berhak peduli!"
__ADS_1
Reiga tertawa hambar. "Mantan pacar!" koreksinya.
"Lo belum mutusin gue!" Wulan membalas. Pundaknya naik turun menahan kekhawatiran dan emosi. Pemuda di depannya ini pandai sekali menaik-turunkan emosi orang lain.
Reiga melihat ke arah Aurora sebentar, lalu kemballi menatap remeh ke arah Wulan. "Kita putus!"
"REIGA!" Wulan berseru tidak terima. Meraih tangan Reiga dengan tatapan terluka. Embun di matanya meleleh begitu saja. "Aku buat salah sama kamu?"
"Gak ada. Cuma gue udah bosen sama lo," sahutnya ringan tanpa menikirkan perasaan gadis di hadapannya ini. Dan dalam sekali hentak, Reiga berhasil melepaskan cekalan Wulan yang melemah.
Wulan menangis dalam diam. Air matanya luruh begitu banyak. Tak menyangka hubungan yang baru saja ia mulai rusak di tengah jalan. Dan fakta bahwa Reiga memutuskan hubungan di depan orang banyak membuatnya merasa rendah sekali. Semnetara Reiga tampak tidak peduli.
Menyedihkan.
Reiga berjalan ke arah Aurora dan menarik gadis itu ke tenda kesehatan
Sampai di sana, Reiga melepaskan cekalan tangannya. Berjalan ke salah satu matras dan berbaring di sana. Meninggalkan Aurora yang berdiri kaku di tempat.
Keadaan kembali hening. Reiga menutup mata dengan lengan, berpura-pura tidur sementara dalam celah kecil ia terus memperhatikan Aurora yang tak bergeming. Meremat kedua tangannya dan menunduk dalam, menyembunyikan air mata yang mulai nerembes keluar dan menetes ke terpal yang digunakan sebagai alas.
Walau pun begitu, Reiga mencoba tidak memusingkan keadaan. Ia tetap melanjutkan kepura-puraannya dan perlahan kesadarannya mulai menipis dan mimpi mlenyambut. Melupakan Aurora yang masih tak bergerak di tempat.
---🌟🌟🌟🌟🌟---
Terbangun saat setitik semburat merah melukis langit. Reiga dikagetkan dengan wajah Aurora yang tetidur tenang di matras sebelahnya. Napas gadis itu berembus teratur, pipi gembilnya terlihat menggemaskan, mata bengkak seperti habis menangis dan bibir terbuka kecil. Reiga berani bertaruh dengan semua koleksi lego-nya bahwa Aurora sangat ketakutan tadi.
Sebenarnya Reiga juga merasakan hal yang sama, hanya saja naluri menyelamatkan Aurora tumbuh lebih besar hingga hal nekat tadi ia lakukan. Entah, Reiga hanya ingin melihat Aurora baik-baik saja.
"Maaf," gumam Reiga.
Tidak tahu juga untuk apa ia meminta maaf. Hanya saja kata itu meluncur tanpa diproses. Begitu saja terucap tanpa tahu tujuan. Entah meminta maaf karena selalu membuat Aurora kesal, meminta maaf tentang pertanyaan konyolnya tadi pagi atau maaf karena tidak bisa melindungi gadis itu. Terlalu banyak pilihan yang mengitari otak kecilnya.
Dua menit mengamati Aurora, Reiga bangun dan berjalan menuju tenda sebelah. Tenda panitia. Mengambil sekotak susu pisang di tas dan sebungkus roti lalu kembali ke tenda unit kesehatan. Meletakkan dua benda itu di sebelah Aurora setelah diberi note kecil yang ia dapatkan dari salah satu anggota PMR. Lantas mengambil kotak susu stroberi yang Reiga duga dari Bintang dan membuangnya asal.
__ADS_1
Selesai dengan kegiatannya, Reiga kembali ke lapangan. Jam menunjukan angkat setengah lima. Itu artinya peserta kelas sepuluh telah pulang setengah jam lalu, sementara peserta kelas sebelas dan dua belas bersiap mendirikan tenda. Reiga beralih ke sisi di mana Bintang dan panitia lainnya menyusun kayu membentuk gunung. Membantu seperlunya hingga gelap mengukung semesta.