
Aurora melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, Hari sudah semakin sore, Langit juga sudah menampakkan jingganya. Setelah menempuh beberapa menit perjalanan. Aurora pun sampai di tempat yang ia tuju, Dimana tempat yang biasanya ia akan mengurung diri jika dirinya dalam keadaan yang sangat kacau.
Aurora memasuki lift dan naik ke lantai atas dimana apartment nya berada. Saat sudah sampai, ia segera melangkahkan kakinya ke arah pintu dan memasukkan sandi apartemennya.
Pintu tertutup kembali setelah ia masuk, Tangisnya langsung pecah saat dirinya berada di kamar apartemennya.
"Hiks... Hiks.." Tangis Aurora terdengar dalam satu ruangan itu.
"Arggghhh..." Teriak Aurora dengan menarik rambutnya sendiri.
Aurora sangat berharap beban yang ada di hati dan pikirannya segera menghilang.
"Apalagi ini ya tuhan..?, Kepahitan apalagi yang harus hamba jalani dalam kehidupan ini. Kenyataan apalagi yang akan hamba ketahui setelah ini" Teriak Aurora.
"Sakit, Sakit sekali ya tuhan.." Lirih Aurora dengan memukul dadanya.
"Mah Ara capek, Ara udah gak kuat mah. Ara gak sanggup mendengar semua kebohongan tentang kehidupan Ara yang selama ini mamah tutupi!"
"Apa yang harus Ara lakukan mah, Ara kehilangan arah. Ara mohon mah jemput Ara... Ara udah gak kuat" Lirih Aurora dengan menangis terisak.
Aurora tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Sampai perkataannya pun tidak disadarinya. Semuanya keluar begitu saja dari bibirnya dengan bercampur isakan tangis dari Aurora.
Dadanya terasa sesak, Sampai pada Akhirnya Aurora tertidur di lantai yang dingin, Karena sudah lelah menangisi semua kejadian tentang hari ini.
***
Di sisi lain, Kini Ares datang untuk menemui Aurora. Tapi rumah Aurora kelihatan begitu gelap dan tidak ada lampu menyala, Sampai ada Pak Jako dan Mbok Mina yang sedang mengunci gerbang rumah Aurora.
"Kok gelap semua yah?, Kayak gak ada orang" Gumam Ares dengan turun dari mobilnya.
Sudah dari tadi Ares menelpon Aurora tapi ponsel gadis itu di aktif sama sekali.
Ares langsung menghampiri Pak Jako dan Mbok Mina yang baru keluar dari gerbang rumah Aurora.
"Permisi Pak, Mbok" Sapa Ares dengan sopan.
"Iya, Lagi cari siapa den?" Tanya Pak Jako.
__ADS_1
"Aurora pak, Aurora nya ada?" Tanya Ares yang langsung membuat Pak Jako dan Mbok Mina saling pandang satu sama lain.
"Non Ara tadi keluar den, Gak tau kemana. Sampai sekarang juga belum pulang" Jawab Mbok Mina yang langsung membuat Ares bingung mengerutkan keningnya.
"Kemana dia pergi, Bikin khawatir aja" Batin Ares.
"Oh gitu yah mbok, Mbok sama bapak mau kemana?" Tanya Ares yang melihat Pak Jako dan Mbok Mina seperti ingin pergi.
"Kami mau pulang den" Jawab Pak Jako.
"Terus kalau Aurora pulang, Dia sendiri?"
"Iya den, Sebenarnya kami juga kasihan sama non Ara. Tapi kami pulang juga udah di suruh non Ara, Dan kami akan datang kembali pagi-pagi kesini" Jawab Mbok Mina.
"Oh gitu, Mbok sama bapak mau saya antar pulang?. Mari" Ajak Ares yang langsung mendapat gelengan dari keduanya.
"Gak usah den, Bapak juga bawa motor" Jawab pak Jako dengan menunjuk motornya.
Ares hanya menganggukkan kepalanya, Lalu pamit pergi dari rumah Aurora.
***
Ares terus menjalankan mobilnya dengan sesekali melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Aurora, Tapi hasilnya nihil dan membuat Ares bingung harus mencari kemana Aurora.
Ares memilih untuk mampir dulu di cafe milik sahabatnya, Yang sudah ia anggap seperti abangnya sendiri.
Ares masuk ke dalam kafe tersebut, Letaknya yang sangat strategis jadi ramainya pengunjung yang datang dan membuat kafe tersebut jadi ramai.
"Bang Arka" Sapa Ares yang melihat Arka yang sedang duduk.
"Woy, Tumben lo datang kemari" Jawab Arka yang langsung menghampiri Ares.
"Lagi bosen aja bang, Lagian papah juga lagi di luar kota jadi aman. Oh iya makin hari nih kafe makin ramai aja yah bang" Ucap Ares yang langsung membuat Arka terkekeh.
Arka yang baru berusia 21 tahun, Dan masih terbilang muda. Tapi sudah sukses merintis usaha, Dan sudah mempunyai 3 cabang kafe di kota jakarta.
"Ya Alhamdulillah lah Res, Gua bisa gini juga gak langsung. Yang pasti harus ada usaha dulu" Jawab Arka yang hanya di balas senyuman oleh Ares.
__ADS_1
"Oh iya, Si Livy mana?. Tumben gak lo ajak?"
"Sengaja gak ngajak dia, soalnya tadi gua gak niat juga kesini. Tadi gua mau datang ke suatu tempat, Eh yang di carinya malah gak ada" Jawab Ares yang langsung membuat Arka penasaran.
"Cari Siapa lo?"
"Mine" Jawab Ares dengan tersenyum jahil, Dan membuat Arka memutar bola matanya malas.
"Heleh bocah, Belajar dulu lo yang bener. Nanti kalau nilai lo turun, Bisa-bisanya kepala lo ilang tuh di tebas sama bokap lo" Ucap Arka yang tahu bagaimana kerasnya ayah Ares jika mendidik anak satu-satunya ini.
Sedangkan Ares hanya mengedikkan bahunya acuh, Seolah tak peduli.
***
Aurora membuka matanya yang terasa berat, Dengan tubuh yang pegal. Karena ia tertidur di lantai yang dingin dengan posisi telungkup.
Aurora mencoba bangkit dari tidurnya dengan memegangi kepalanya yang terasa berat dengan tubuh yang begitu lemas.
Ia bangkit dan duduk di sofa menyandarkan tubuhnya yang begitu lemas, Bayang-bayang ucapan Daren kembali ia ingat yang membuatnya kembali merasakan sakit hati, Tapi kali ini air matanya tidak keluar.
"Ck, Hidup gua kok miris banget yah" Gumam Aurora dengan tersenyum kecut, Mengingat ucapan Daren
Setelah di rasa cukup menyandarkan tubuhnya, Aurora kembali bangkit dan berdiri menatap penampilannya yang masih menggunakan seragam sekolah. Lalu Aurora pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti baju.
Setelah membersihkan dirinya Aurora memilih baju yang akan ia pakai, Lalu Aurora memilih baju dengan ukuran oversize sampai lutut dengan warna hitam, Dan celana pendek yang hanya sampai setengah pahanya. Rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja, Tidak lupa ia juga mengenakan kaca mata hitam. Menambahkan kesan badass nya seorang Aurora.
Aurora langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju suatu tempat yang sangat Aurora ingin datangi.
Aurora hanya mengikuti instingnya, Sampai akhirnya ia tiba di sebuah club yang tidak jauh dari gedung apartemen nya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Aurora langsung masuk ke dalam. Aroma alkohol langsung menyeruak ke dalam indra penciumannya, Dan suara dentuman musik yang begitu keras dengan lampu yang kerlap kerlip serta banyak orang yang menari di bawah lampu yang berkedip itu.
"I need a bir" Ucap Aurora, Yang sudah duduk di bar.
Setelah memesannya bartender tersebut langsung memberikan pesanannya pada Aurora.
Aurora sengaja menggunakan kaca mata hitam, Agar tidak ada yang mengenalinya. Ia meneguk bir yang ada di tanganya dengan sekali tegukan, Dan terus berulang.
__ADS_1