
Aurora mendesah berat karena acara hibernasi yang sudah ia rencanakan sejak hari senin harus batal akibat pesan dari Bintang di grup panitia kemah. Benar, besok adalah sabtu dan itu berarti mereka harus membeli bahan untuk persiapan kemah yang kurang seminggu lagi.
Aurora kembali menggerundel, masih tak terima ia dipilih menjadi anggota kepanitiaan kemah. Tapi juga senang karena uang sakunya utuh, Udin baik sekali membayari semua makanannya sebulan ke depan.
"Ara! Mau mangga dari gus Ni'um?!" Bu Mirna berteriak. Dari dapur mungkin, karena suara yang terdengar samar sekali di pendengaran Aurora.
"Eh, tumben, Ma. Biasanya pelit gitu," cibir Aurora saat tubuhnya dibawa memasuki dapur.
"Hush, kamu ini. Untung dikasih," tukas Bu Mirna. "Itu dimeja cepet dikupas, dicuci terus dipotong." Bu Mirna memerintah sementara dirinya sendiri masih sibuk berkutat dengan piring kotor.
"Lah, cuma lima biji? Kecil-kecil lagi. Ikhlas gak sih ngasihnya." Sekali lagi Aurora mencibir sambil mengeluarkan satu persatu buah mangga di dalam kantung kresek hitam dan menelitinya.
"Aduh! Kamu ini udah dikasih, banyak protes lagi." Bu Mirna menggeram.
"Ya lagian, ngasih kayak serumah ini gak doyan mangga," sahut Aurora.
"Ya ampun Ara, di samping rumah ada empat pohon mangga. Kalau kurang ambil aja, tapi jangan banyak-banyak soalnya tadi ada yang nanyain."
Aurora menghentikan kupasannya pada mangga kedua. "Mama mau jual mangga? Emang uang dari papa kurang?"
Bu Mirna menggeleng. "Tapi ada yang mau Mama beli."
Aurora membentuk huruf O dengan mulutnya. Lantas kembali berbicara. "Pokoknya jangan yang Mangga Manalagi sama Mangga Gadung."
Bu Mirna mengangguk.
"Eh, Mangga Arum Manisnya juga, jangan dijual, Ma. Sama Mangga Apel," tambah gadis itu.
"Itu sih berarti jangan jual semuanya Ra!" Bu Mirna menyambar kesal.
Aurora balas meringis menanggapi kekesalan Bu Mirna. Lantas tertawa bersama.
Menyenangkan meski hanya membicarakan topik ringan tak bermutu.
---🌟🌟🌟🌟🌟---
Aurora itu lebih suka memakai pakaian yang sederhana. Tidak ribet dan pastinya nyaman. Seperti saat ini, ia hanya memakai hoodie putih dengan tulisan New York, celana denim panjang berwarna hitam dengan sneakers putih. Sederhana namun tampak luar biasa.
Tapi setelah melihat gaya berpakaian Wulan, Aurora hanya bisa menggeleng tidak percaya. Pakaian yang gadis itu pakai jelas tidak sesuai dengan kegiatan yang akan mereka lakukan sekarang. Rok mini dengan baju ketat yang mungkin akan tersingkap saat gadis itu mengangkat tangan atau angin datang berembus. Belum lagi high heels yang membuat Aurora menipiskan bibir, membayangkan betapa tersiksa kakinya. Jika ia diharuskan memilih, tentu Aurora akan memilih deretan sepatu sneakers-nya yang jauh lebih nyaman dikenakan.
Jika diperhatiakan lagi, bukan hanya Aurora yang tak nyaman dengan.gaya berpakaian Wulan. Seluruh anggota panitia juga terlihat beberapa kali mendesah berat setelah melihat Wulan, kecuali Reiga yang memang tidak pernah peduli dengan sekitarnya. Atau mungkin karena Wulan kekasihnya?
"Kak, kenapa kita belanjanya di pasar? Di supermarket kan lebih lengkap." Wulan bertanya setelah memastikan penampilannya—menata rambut yang sedikit berantakan terkena embusan angin.
"Biar lebih hemat. Kalau di pasar bisa ditawar, kalau supermarket udah harga pas." Bintang menjawab. Lantas segera masuk ke dalam pasar diikuti anggota lain.
"Kenapa?" tanya Reiga datar saat Wulan menarik ujung bajunya.
__ADS_1
"Kotor, becek, bau lagi. Aku gak bisa masuk pasar," jelas Wulan yang justru membuat Reiga memutar bola matanya malas.
"Ya udah, lo jaga kendaraan aja di sini. Gak usah ikut masuk," saran Reiga ringan sambil melepas tangan Wulan pada bajunya.
"Maksudnya aku jadi tukang parkir gitu?" Wulan menunjuk dirinya sendiri dengan mata melotot tak percaya.
"Bukan." Reiga menggeleng. "Tapi, kalau lo nganggepnya gitu ya gak masalah. Lagian udah tau perginya ke pasar, lo malah dandan kayak banci perempatan jalan," ledeknya. Lantas berlalu begitu saja meninggalkan Wulan bersama rasa kesalnya.
"Ga! Tunggu! Ih, tungguin! Aku ikut ke dalem." Wulan menyusul. Sesekali berseru saat tanah becek mengitiri high heels-nya atau bau dagangan pasar.
---🌟🌟🌟🌟🌟---
Setelah membagi tugas beserta uang pada masing-masing anggota, sepuluh orang tersebut segera berpencar di dalam pasar. Dibagi menjadi dua kelompok besar dengan satu bendahara diantara mereka.
Kelompok pertama terdiri dari Aurora, Wulan, Agam, Reiga dan Bintang. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari Surya, Diego, Angga, Amanda dan Alya. Keduanya akan menyusuri daerah yang berbeda, kelompok pertama menyusuri bagian selatan pasar dan kelompok kedua menyusuri bagian barat pasar.
"Ga!" Wulan berseru, menarik lengan Reiga agar berjalan lebih lambat. "Pelan-pelan aja kenapa? Susah tau jalan pakai heels!" gerutunya.
Aurora yang berjalan di depan bersama Bintang menoleh sebentar ke arah Wulan. Tak percaya jika gadis itu baru saja memangggil Reiga tanpa embel-embel kakak. Meski fakta mengatakan mereka sepasang kekasih. Namun, etika kesopanan tetap berlaku, bukan?
"Siapa suruh pakai heels? Udah tau pasar jalannya jtu kayak hidup lo. Susah, penuh ujian," ketus Reiga sambil melepaskan cekalan Wulan kemudian berjalan lebih dulu dan belok kanan.
"Ih, Reiga mah tega sama aku," jerit Wulan kesal, menghentakkan kaki kesal.
"Udah gak usah banyak protes." Agam mengintrupsi. "Kalau gak mau lo bisa keluar pasar sekarang. Gak butuh cewek manja soal," tuturnya berterus terang. Sejak ia awal memang tak suka dengan Wulan.
Tak lama, Reiga datang dengan kantung kresek hitam. Segera menghampiri Wulan dan menyerahkannya.
Reiga tidak menjawab. Mengambil kantung itu lagi dan membuka bungkus dan menempatkan dua buah sandal jepit di depan kaki Wulan.
"Sandal jepit?" tanyanya bingung. "Kamu suruh aku pakai sandal jepit, Ga? Yang bener aja, aku udah dandan kayak gini masa pakai sandal jepit!" Wulan menolak, menendang dua sandal itu menjauh hingga terbalik.
Reiga diam saja. Tidak ambil pusing dengan penolakan yang dilayangkan Wulan. "Gak lo pake juga bukan urusan gue," jawabnya datar.
Dengusan Wulan terdengar karena respon Reiga yang kelewat dingin. Segera membungkukkan badan dan mengambil sandal jepit yang tak jauh darinya. Melepas high heels lalu menyimpannya dalam kantung kresek hitam tadi. Lantas memasukkan dalam tas punggung kecilnya.
"Ck, ini aku pake. Puas?!" tukasnya sedikit tidak terima.
Bahu Reiga terangkat tak peduli. "B aja sih."
---🌟🌟🌟🌟🌟---
"Kak itu kotak plastiknya." Aurora menunjuk salah satu dagangan ibu-ibu di sisi kanan mereka, membuat Bintang di sebelahnya mengalihkan pandangan ke arah kios yang ditunjuk Aurora. "Mau coba tanya-tanya dulu?"
Bintang mengangguk, menggandeng tangan Aurora dan segera menghampiri kios jualan tersebut.
"Bu, harga wadahnya berapaan?" tanya Bintang sopan pada penjual yang terlihat bersantai karena tidak ada pelanggan.
__ADS_1
Si penjual yang tadi duduk selonjor di bangku sambil mengipasi diri menggunakan kertas cepat-cepat bangun. Memebenarkan daster lengan pendek yang tersingkap hingga lutut dan kerudung sebatas dadanya. "Tiga belas ribu tiga," jawabnya.
Bintang masih menimang-nimang harga. Sesekali menoleh ke belakang dan bertanya pada anggotanya melalui tatapan mata. Sementara Aurora yang memang jarang sekali pergi ke pasar mengiyakan saja.
"Kalau menurutku murah sih, Kak," komentar Aurora.
"Mahal ****." Reiga yang entah sejak kapan sudah berada di samping Aurora menyela.
"Ya gak usah ngatain bisa kali!" Aurora menyetak, melotot tajam dengan hidung kembang kempis. Tak suka dengan ucapan pemuda tinggi itu.
Reiga menunjukkan wajah tak berdosanya lalu membalas," Muka lo minta dikatain terus. Semua sumpah serapah gue juga gak bakal cukup."
"LO!"
"Udah! Gak usah berantem. Kasian pembeli lain." Bintang melerai, menarik Aurora mendekat lalu kembali fokus pada barang yang sedang mereka incar. "Boleh kurang gak, Bu?" tanyanya mencoba menawar.
Si penjual menggeleng. "Udah pas ini harganya, Dek. Saya gak ngambil untung banyak," ungkapnya meyakinkan.
"Mama saya kemarin ke pasar beli kayak gini sepuluh ribu dapet empat." Reiga menyela.
Si penjual menatapanya heran sekaligus bingung. "Mungkin beda barangnya, Dek. Kualitasnya juga," sangkalnya.
Reiga mengambil salah satu kotak plastik. Membuka tutupnya, lantas memolak-baliknya seperti seirang alhi masalah perkotakan. "Sama aja Bu, malah punya mama saya gampang banget nutupnya. Yang ini susah, liat."
Si penjual tetap kukuh pada harga awal. Menolak mentah-mentah.
"Ya udah, kita cari ke tempat lain aja." Reiga perlahan beranjak dari tempat. Aurora yang kebetulan terpisah beberapa langkah darinya ditarik, ikut pergi.
Aurora mendelik tajam. "Ini tangan ngapain pegang-pegang!"
"Udah diem aja, dipegang sama kak Bintang juga lo biasa aja." Reiga menyindir.
Pipi Aurora sedikit memerah. Jika Bintang yang memegang tangannya, mau sampai hari berakhir berganti esok pun Aurora tidak akan memprotes. Beda cerita jika Reiga yang melakukan, lima detik saja pasti ia sudah mencak-mencak tak karuan.
"Beda!" sergah Aurora. "Terus kenapa malah pergi? Udah gak ada waktu lagi. Udah siang, Ga. Pasarnya tutup jam dua belas."
"Diem dan liat aja."
Aurora mendengus. Menutup mulut rapat, mengikuti permainan Reiga.
"Dek!" Si penjual memanggil Reiga dan teman-temannya yang mulai berjalan menjauh.
Reiga menoleh, mengakat satu alis seokah tak mengerti apapun. Lantas berjalan kembali ke tempat tadi, masih dengan Aurora digenggamannya. "Kenapa, Bu?" tanyanya polos.
"Sepuluh ribu empat, tapi jangan bilang siapa-siapa," putusnya sambil mengeluarkan kresek berukuran sedang, menyerahkan pada Reiga agar segera membeli.
Reiga mengangguk dan tersenyum kecil ke arah Aurora, meledek. "See, cara gue berhasil," ujarnya bangga.
__ADS_1
Dan Aurora harus mengakui jika cara itu cukup ampuh untuk tempat-tempat berikutnya yang mereka kunjungi. Semua sesuai harga yang ditawarkan Reiga, bahkan mereka juga mendapat bonus karena penjualnya terpesona pada ketampanan Reiga. Memang kapan lagi melihat malaikat setampan Reiga di pasar, begitu pikir mereka.
---🌟🌟🌟🌟🌟---