Dear AURORA

Dear AURORA
Apa Salah Ara?


__ADS_3

Di perjalanan Ares dan Livy, Menyusul Aurora menuju rumah sakit, Karna mereka sempat mendengar ibunya Aurora yang sedang kritis.


"Cepetan dong Res, Bawa mobilnya. Aku khawatir sama Aurora" Ucap Livy.


"Sabar Livy, Ini juga udah cepet kok sebentar lagi juga kan sampai" Jawab Ares, Yang fokus menyetir mobilnya


Setelah sampai di rumah sakit, Mereka berdua pun langsung turun dengan langkah tergesa-gesa untuk menghampiri Aurora.


Baru saja Ares melangkah tapi ponselnya berdering.


"Mamah" Gumam Ares, Melihat siapa yang menelponnya.


[ Halo, Mah ]


[ Halo Ares, Kamu di mana sekarang?. Cepat pulang papah kamu tadi kecelakaan, Sekarang mamah ada di rumah sakit ]


[ APA?!, Mamah di rumah sakit mana sekarang? ]


[ Mamah lagi di rumah sakit Pelita Harapan. Lagi nunggu papa kamu yang masih di tangani dokter, Di ruang UGD ]


Jawab ibunya Ares, Dengan menangis, Ares langsung mematikan sambungan telponnya dan berbalik arah, Untuk menuju rumah sakit dimana papahnya di rawat.


"Ares tunggu!, Ada apa?" Tanya Livy.


"Papah aku kecelakaan dan masuk rumah sakit, Kamu sama Aurora aja, Dan bilang sama dia aku gak bisa nemuin dia" Jawab Ares, Dengan langsung berlari pergi.


Livy hanya diam, Lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar ibunya Aurora.


***


Setelah beberapa saat menunggu diluar ruangan Lina, Akhirnya Aurora di izinkan masuk oleh Dokter Ferdi untuk melihat keadaan ibunya.


"Ekhem" Aurora berdehem, Untuk menetralkan detak jantungnya dan menguatkan dirinya untuk menghadap Lina.


"Ma-mah.." Sapa Aurora dengan terisak, Melihat keadaan tubuh Lina yang di penuhi dengan alat medis.


"Mah, Hari ini Ara menang lomba loh, Sesuai dengan harapan mamah waktu itu. Boleh gak, Ara minta sesuatu sama mamah, Sebagai hadiah dari menangnya Ara lomba piano?" Tanya Aurora pada ibunya, Yang tidak ada jawaban sama sekali. Hanya ada suara monitor yang terdengar bukan jawaban dari ibunya.

__ADS_1


Aurora berusaha menguatkan dirinya, Dengan menggigit bibir bawahnya, Untuk menahan isakan tangisnya.


"Ara cuman minta satu permintaan aja, Dan ini permintaan pertama dan terakhir Ara..."


"Ara..." Aurora berusaha sekuat mungkin untuk berbicara pada Lina.


"Ara gak mau di tinggal sendirian di dunia ini mah, Mamah boleh pukul Ara, Tendang Ara, Tampar Ara. Atau apapun itu semuanya boleh, Asal jangan tinggalin Ara mah..." Ucap Aurora dengan menangis tersedu.


Pertahanan Aurora runtuh, Ia terduduk lemas, Dengan terus menggigit bibir bawahnya, Rasa takut kehilangan Ibunya, Membuat hati Aurora kini sangat mendominasi.


Tanpa Aurora ketahui, Ternyata air mata Lina keluar begitu saja. Mendengar semua ucapan Aurora, Seakan-akan Lina juga merasakan kepedihan yang putrinya sedang rasakan sekarang.


Tiiiiiiiitttttttttt~


Layar monitor berbunyi begitu panjang, Membuat Aurora yang sedang terduduk lemas pun langsung bangun dan panik. Melihat layar monitor yang garisnya menjadi lurus.


"MAMAH!" Teriak Aurora.


Aurora langsung berlari keluar dari ruangan Lina, Dan berteriak memanggil dokter.


"Dokter!"Jerit Aurora.


"Panggilkan Dokter" Teriak Aurora pada mereka bertiga, Livy langsung berlari menuju ruangan dokter Ferdi.


Saat masuk kembali ke dalam, Aurora mengguncang tubuh Lina, Seolah tidak percaya dengan kejadian hari ini. Sedangkan Daren hanya mampu diam membeku, Melihat keadaan sang mantan istrinya yang sudah tak berdaya, Suster Dita langsung syok menutup mulutnya dengan menangis merasa iba pada Aurora.


Dokter Ferdi pun masuk, Dengan beberapa perawat lainnya.


"Untuk yang lain silahkan keluar" Ucap Dokter Ferdi.


Daren, Dan suster Dita pun langsung keluar. Tapi Aurora menolak untuk keluar. Ia masih ingin menemani detik-detik terakhir ibunya.


"Enggak, Saya gak mau keluar!. Saya mau disini, Sama mamah saya" Ucap Aurora.


Dokter Ferdi, Sudah siap menekan dada Lina. Dengan menggunakan Defiblirator, Sedangkan suster dan semua perawat merasa kewalahan untuk menghalangi Aurora yang terus saja mencoba memberontak untuk mendekati Lina.


Percobaan pertama gagal, Detak jantung Lina tidak muncul di layar monitor. Dokter Ferdi langsung mengecek denyut nadi Lina, Dan kembali menempelkan Defiblirator lalu menekan kembali tombol energi, Membuat tubuh Lina terangkat. Tapi hasilnya tetap sama.

__ADS_1


Sampai pada percobaan ke empat kalinya, Tapi tetap hasilnya sama. Dokter Ferdi langsung menggelengkan kepalanya Lesu, Dan perawat pun mulai mencatat kematian Lina.


"Gak!, Ini gak mungkin, MAMAH" Jerit Aurora.


Perawat pun langsung melepaskan Aurora untuk menghampiri Lina yang sudah terbujur kaku. Daren yang menyaksikan pun, Tak kuasa menahan tangisnya, Melihat mantan istrinya yang sudah berpulang kepada sang pencipta.


"Mamah, Ara mohon. Jangan tinggalin Ara sendirian mah"


"Ara janji, Ara gak akan jadi anak yang nakal mah"


"Bangun mah, Jangan pergi, Ara mohon. Kalau gak sama mamah, Sama siapa lagi Ara hidup di dunia ini" Raung Aurora dengan memeluk tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa.


Melihat Aurora yang begitu terluka, Livy tak tega. Dan langsung memeluk tubuh Aurora, Tak peduli jika nantinya Aurora akan marah.


"Semuanya jahat!, Kenapa selalu aku yang di tinggalkan. Salah aku apa, Kenapa semuanya pergi, Kenapa gak aku aja yang pergi" Jerit Aurora di pelukan Livy, Livy langsung mengeratkan pelukannya pada Aurora dengan ikut menangis tersedu.


"Bangun mah, Jangan tinggalin Ara sendirian, Ara butuh mamah. Apa salah Ara mah?, Kenapa mamah tinggalin Ara" Lirih Aurora.


Melihat betapa hancurnya Aurora, Daren langsung menghampiri anaknya. Dengan mengelus kepala Aurora.


Semua alat medis yang menempel di tubuh Lina sudah di lepaskan oleh perawat, Dan dokter Ferdi pun langsung menghampiri Daren.


"Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi takdir berkata lain, Bu Lina dinyatakan meninggal hari ini tepat pada pukul 18:00" Ucap Dokter Ferdi.


Mendengar itu, Tubuh Aurora langsung melemah, Pandangannya buram. Aurora pun langsung pingsan tak sadarkan diri.


***


Di ruangan rawat Aurora, Kini Livy hanya bisa menemani Aurora yang masih belum sadarkan diri.


Sedangkan Daren, Sedang mengurus semua administrasi Lina, Dan mengurus pemakaman mantan istrinya.


Livy menggenggam erat tangan Aurora yang sudah dingin.


"Kalau aku jadi kamu, Mungkin aku gak akan kuat Ra. Aku akan bunuh diri, Dengan terjun dari tebing atau menenggelamkan diri ke dalam lautan"


"Kamu adalah perempuan yang sangat hebat, Kamu kuat, Kamu wanita tertangguh yang pernah aku temui"

__ADS_1


"Maafin aku ra, Pasti aku termasuk orang yang udah buat kamu terluka kan. Aku gak bermaksud rebut papah dari kamu, Awalnya aku marah, Lihat pernikahan papah dan mamah, Tapi aku juga sadar aku sangat membutuhkan peran papah di hidup aku. Aku egois yah ra?, Maafin aku Ra. Aku ingin menebus semua kesalahanku sama kamu, Aku janji setelah semua yang kamu lewati ini. Semuanya akan berubah menjadi kebahagiaan, Aku akan jadi sahabat yang baik untuk kamu Ra. Seperti kita dulu" Ucap Livy panjang lebar, dengan berlinang air mata, Menggenggam erat tangan Aurora.


Rasanya sangat menyesal karna telah membuat Aurora terluka, Sampai merusak persahabatan mereka berdua.


__ADS_2