Dear AURORA

Dear AURORA
Hari pembalasan akan tiba


__ADS_3

Keesokan harinya Aurora kembali bersekolah, Karna sudah 2 hari absen tidak masuk.


"Aurora" Panggil Ares yang sedang berjalan bersama Livy.


Aurora langsung menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan untuk melihat siapa yang memanggilnya karena Aurora sudah mengenal sosok suara orang tersebut.


"Kamu kemana aja Ra, Aku cariin gak ada terus?" Tanya Ares pada Aurora.


Aurora hanya menatap datar Ares dan Livy secara bersamaan.


"Bukan urusan kamu!" Jawab Aurora datar dengan meneruskan langkahnya meninggalkan mereka berdua.


"Ra tunggu!" Ucap Ares dengan mengejar langkah Aurora.


"Aku mau minta maaf, Yang waktu itu udah bentak kamu" Ucap Ares dengan Menggenggam tangan Aurora.


Aurora menaikkan satu alisnya, Seolah bertanya pada Ares.


"Aku minta maaf Ra, Aku udah bentak kamu waktu itu" Ucap Ares dengan menatap wajah Aurora serius.


Tanpa Ares tahu, Livy ada berada tepat di belakangnya dan menyaksikan Ares yang terus mengejar Aurora.


"Sialan!" Batin Livy yang mencoba menahan rasa cemburunya dengan mengepalkan tanganya.


"Gapapa, Saya sudah maafkan kamu" Jawab Aurora dengan tersenyum tipis ke arah Ares dan membalas genggaman tangan Ares.


"Makasih Ra" Ucap Ares dengan tersenyum senang pada Aurora.


Aurora hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis, Melihat Livy yang sedang kepanasan tepat di belakang Ares.


"Baru segini sudah kepanasan aja kamu Livy" Batin Aurora dengan tersenyum smirk ke arah Livy.


Dugh


Livy langsung menyenggol Ares yang berdiri berhadapan dengan Aurora, Sampai Ares terhuyung akan terjatuh.


"Lho Livy?" Gumam Ares yang melihat kepergian Livy.


"Lepas!" Ucap Aurora dengan menepis tangannya dari Ares Membuat Ares bingung.


"Kenapa Ra?"


"Gak" Jawab Aurora dengan berlalu pergi menuju kelasnya.


"Malah pergi lagi" Gumam Ares yang kembali mengejar langkah Aurora.


***

__ADS_1


Di London Daren sedang termenung sendirian, Karena Hana masih tidur. Waktu masih malam tapi tidak membuat Daren mengantuk untuk tidur, Dia malah memikirkan Aurora. Karena sewaktu tidur tadi Lina datang ke dalam mimpi Daren membuat Daren kepikiran akan pesan Lina di dalam mimpinya.


"Maafkan aku Lina, Aku laki-laki bodoh. Aku egois, Aku sudah ingkar janji padamu untuk menjaga Aurora. Aku sudah melukainya dengan kata-kata ku, Aku sudah memberitahukan fakta yang begitu menyakitkan untuk anak kita. Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu pada Aurora, Apa yang kau ucapkan memang benar Aurora tidak bersalah. Aku yang paling bersalah disini" Gumam Daren yang kini terduduk lesu dengan kepala yang menunduk.


FLASBACK ON


"Mas kamu mau makan dulu?" Tanya Hana yang baru selesai mandi dan berganti baju.


"Aku ingin istirahat dulu, Biar nanti aku makan sendiri, Kau duluan saja" Jawab Daren yang sudah tidur terbaring di atas ranjang.


"Kalau gitu, Aku makan duluan yah mas...." Ucap Hana dengan menghampiri Daren yang ternyata sudah tertidur.


"Ck, Dasar kebo juga kamu mas" Gumam Hana terkekeh dengan menyelimuti tubuh Daren.


Setelah menyelimuti Daren, Hana pun pergi ke dapur untuk memasak makanan karena sudah lapar dan menyiapkan makanan untuk Daren nanti makan.


"Aku dimana?" Gumam Daren yang ternyata sedang duduk di sebuah rumah yang sederhana tapi sangat nyaman.


"Mas...?" Sapa seseorang yang tepat ada di belakang Daren.


Mendengar ada yang memanggilnya Daren langsung membalikkan badanya.


"Kamu...!" Ucap Daren terkejut dengan kehadiran wanita yang selama ini sudah ia sakiti.


"Iya ini aku" Jawab Lina.


"Jangan sakiti Aurora, Jangan abaikan dia, Jangan menambah luka lagi dalam kehidupan Aurora. Dia tidak bersalah mas" Ucap Lina dengan pandangan mata yang lurus ke depan tanpa melihat ke arah Daren.


"A-ku..."


"Sudah cukup perbuatan mu yang membuat keluarga kita hancur, Aku sudah mengikhlaskan mu demi Hana. Tapi aku mohon, Jagalah Aurora untuk ku. Dia anak yang baik, Anak yang cerdas dan kuat. Aku mohon jangan pernah sakiti Aurora kita lagi mas, Jangan biarkan dia hidup sendiri"


"Kamu masih punya kesempatan untuk mendekati Aurora dan menebus semua kesalahan mu terhadapnya, Jangan sampai kamu menyesal seperti aku mas. Karena sudah mengabaikan Aurora" Ucap Lina dengan menangis tersedu.


Daren hanya diam tidak mampu menjawab ucapan Lina, Sampai tak terasa air matanya ikut mengalir. Mengingat ucapannya yang telah menyakiti Aurora.


Sampai beberapa saat, Lina langsung menghilang dari hadapan Daren. Membuat Daren terkejut.


"Lina, Lina tunggu. Jangan pergi, Aku mau bicara sama kamu!" Teriak Daren.


Hana yang sedang berada di dapur pun, Sempat mendengar teriakan Daren. Dan langsung berlari menuju kamar dimana Daren tidur.


"Tunggu!, Jangan pergi!. Aku belum selesai bicara" Racau Daren dalam mimpinya.


"Mas, Mas bangun!" Ucap Hana dengan menepuk-nepuk pipi Daren.


Setelah beberapa saat, Akhirnya Daren pun terbangun dengan nafas tersengal-sengal.

__ADS_1


"Ha,.. Ha.."


"Mas kamu kenapa?, Kamu pasti mimpi yah sampai teriak-teriak gitu" Ucap Hana dengan menyodorkan satu gelas air minum pada Daren.


Daren tidak menjawab ucapan Hana, Ia langsung mengambil air minum dan meneguknya sampai tandas.


"Sekarang tidur lagi yah, Aku temenin" Ucap Hana yang membaringkan tubuh Daren dan ikut tidur di sampingnya.


FLASBACK OF


"Maafin papah Aurora, Papah janji. Setelah semua luka yang kamu dapatkan selama ini, Papah akan ganti dengan kebahagiaan. Meskipun kamu sudah tidak menganggap lagi papah sebagai orang tua kamu" Lirih Daren dengan mengusap kasar wajahnya.


***


"Jangan dekati saya lagi!" Ancam Aurora pada Ares yang sedari tadi terus mengejar Aurora.


"Kenapa Ra?, Kita kan udah pacaran" Ucap Ares yang langsung membuat Aurora tersenyum remeh.


"Apa?, Pacaran?. Tapi kenapa kamu masih dekat dengan cewek sialan itu?, Apa itu yang di sebut pacaran?"


"Dia cuma sa.."


"Sahabat?" Ucap Aurora yang langsung di angguki Ares.


"Tidak ada yang namanya sahabatan antara lawan jenis tanpa adanya perasaan" Ucap Aurora datar.


"Tapi aku gak suka sama Livy Ra, Aku cuman sukanya sama kamu. Aku dekat sama dia cuman menganggap sahabat aja gak lebih, Karena kita udah terbiasa bersama sejak kecil" Jawab Ares yang mencoba menyakinkan Aurora.


"Saya gak peduli!" Ucap Aurora.


"Ra aku harus gimana lagi, Buat buktiin sama kamu"


"Jauhi Livy" Jawab Aurora dingin, Yang langsung membuat Ares tersentak kaget.


Ares hanya diam mendengar ucapan Aurora yang memintanya untuk menjauhi Livy.


"Kalau gak bisa jauhi dia, Maka jauhi saya" Ucap Aurora dengan berlalu pergi dari hadapan Ares.


Baru saja Aurora melangkahkan kakinya, Ares kembali mencekal pergelangan tangan Aurora.


"Aku akan jauhi Livy" Ucap Ares yang langsung membuat Aurora tersenyum.


Tanpa Ares ketahui Livy tepat berada di belakangnya dan sudah dari tadi mendengar percakapan antara Aurora dan Ares.


"Kamu jahat Res" Batin Livy yang sudah menangis dan berlari pergi tanpa Ares tahu.


Aurora langsung tersenyum penuh makna, Karena Aurora sudah tahu jika sedari tadi Livy mengikutinya.

__ADS_1


"Bravo, Hari yang luar biasa. Ini belum seberapa Livy, Masih ada lagi pertunjukan yang lebih menyakitkan dari pada ini. Tunggu saja hari pembalasan akan tiba" Batin Aurora dengan tersenyum penuh makna melihat kepergian Livy.


__ADS_2