Dear AURORA

Dear AURORA
Papah


__ADS_3

Di pagi harinya Daren dan Hana baru sampai di rumah, Kepulangan mereka berdua sangat di sambut dengan begitu antusiasnya oleh Livy.


"Mamah, Papah" Sapa Livy saat membuka pintu utama.


"Hay sayang" Balas Hana dengan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Livy.


"Mamah sama papah kok lama banget di sana, Disini aku sendirian tau mah. Sepi deh rasanya kalau gak ada kalian" Adu Livy yang masih di pelukan Hana.


"Kamu sudah dewasa Livy, Belajarlah mandiri seperti Aurora yang sudah terbiasa sendirian dari kecil" Celetuk Daren dengan masuk duluan ke dalam rumah.


Livy langsung melepaskan pelukannya dari Hana, Karena terkejut mendengar respon Daren yang tidak seperti biasanya akan perhatian, Tapi sekarang malah bersikap cuek .


"Kok papah ngomong nya gitu" Gumam Livy yang masih di dengar Hana.


Hana pun sebenarnya sama merasakan perbedaan dari sikap Daren yang sekarang mulai berubah, Saat dari London. Tapi ia mencoba berpikir positif untuk suaminya itu.


"Mungkin papah kamu lagi cape sayang, Yaudah yuk kita masuk" Ajak Hana dengan mengusap lembut kepala Livy.


Livy hanya tersenyum dengan membantu Hana membawa koper untuk masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di ruang tamu, Livy langsung terpukau melihat Daren yang sedang mengeluarkan oleh-oleh yang di bawanya. Terlihat ada Dress berwarna hitam, Dan sepatu pantofel yang nampak begitu cantik. Termasuk banyak makanan dan camilan yang di bawa oleh Daren.


"Wah, Ini Dress sama sepatu nya bagus banget pah. Pasti ini untuk aku kan?" Tanya Livy dengan memegang Dress dan sepatu yang Daren keluarkan


"Bukan, Itu semua untuk Aurora. Punya kamu ada di mamah" Jawab Daren dengan mengambil kembali sepatu dan Dress yang Livy pegang.


Livy langsung menatap tak percaya Daren. Melihat perubahan sikap Daren yang tiba-tiba berubah padanya.


"Tapi, Biasanya kan papah beliin oleh-oleh dari luar negeri khusus untuk aku" Ucap Livy dengan menatap Daren.


"Kamu sudah sering Livy, Berbeda dengan Aurora yang tak pernah papah berikan apapun untuk dia" Jawab Daren datar dengan berlalu pergi ke lantai atas menuju kamarnya.


Livy menangis tak percaya dengan sikap Daren yang berbeda padanya, Sampai rasa sesak di hatinya menjalar. Membuat dia marah pada Aurora yang sekarang mulai mendapat perhatian dari Daren.


"Sudahlah sayang, Hadiah untuk kamu ada sama mamah kok. Malahan mamah beli yang lebih bagus dari itu" Bujuk Hana untuk menenangkan Livy dengan menunjukkan Dress yang sudah ia beli untuk Livy.


"Nih punya kamu, Gimana lebih bagus dari yang punya Aurora kan?" Tanya Hana.


"Gak mah, Livy tetap maunya itu yang papah bawa"


"Tapi itu punya Aurora sayang"

__ADS_1


"Kenapa harus Aurora hah!, Kenapa mah!" Ucap Livy dengan meninggikan suaranya dan menangis tersedu.


"Livy..?" Ucap Hana tak percaya dengan sikap Livy yang berani membentaknya.


"APA?, JAWAB MAH!. BUKANNYA MALAH DIAM!" Teriak Livy.


"LIVY!" Teriak Daren dari lantai atas yang mendengar teriakan Livy pada Hana.


"Apa!, Papah mau nyalahin Livy hah!"


"Livy jangan kurang ajar sama papah sayang" Ucap Hana dengan mengelus pundak Livy.


"Sudah jadi kewajiban saya untuk memperhatikan anak kandung saya sendiri. Dan kamu tidak ada hak untuk merasa iri Livy, Karena saya bukan papah kandung kamu!" Ucap Daren dengan turun ke bawah dan membawa oleh-oleh yang sudah ia beli untuk Aurora.


Tubuh Livy langsung menegang, Tak percaya dengan apa yang Daren katakan. Sama halnya dengan Hana yang terkejut dengan sikap Daren. Melihat sikap Daren yang tiba-tiba saja berubah padanya termasuk pada Livy.


"Ajari anak kamu Hana, Jangan jadi anak yang manja. Belajarlah seperti Aurora, Yang tidak pernah merengek apapun padaku, Atau mau merebut hak orang lain" Ucap Daren dengan berlalu pergi keluar dari rumah.


***


Disisi lain, Kini Aurora sedang duduk tenang menghirup udara segarnya pagi hari. Semua masalah yang sudah Aurora alami, Kini ia sudah mencoba untuk berdamai dengan keadaan dan memilih untuk hidup tenang meskipun hanya sendirian.


"Non mau sarapan sekarang?" Tanya Mbok Mina yang mengahampiri Aurora.


Mbok Mina hanya menganggukkan kepalanya dengan berlalu pergi dari hadapan Aurora untuk menyelesaikan pekerjaannya membersihkan rumah Aurora.


Tin


Tin


Suara klakson mobil di luar gerbang membuat Aurora yang sedang duduk pun langsung berdiri.


"Pak Jako" Panggil Aurora pada Pak Jako yang sedang membersihkan halaman.


"Yah Non, Ada apa?"


"Buka gerbang"Perintah Aurora yang langsung di angguki pak Jako.


Setelah gerbang rumah terbuka, Aurora langsung menyipitkan pandangannya untuk melihat mobil siapa yang datang.


"Aurora" Sapa Daren dengan keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Melihat Daren datang, Aurora langsung berdiri dan menatap datar Daren.


"Kamu sehat Ra?"


"Seperti yang papah lihat" Jawab Aurora acuh.


"Papah baru pulang dari London, Ini Papah belikan oleh-oleh untuk kamu" Ucap Daren dengan menyodorkan paper bag yang sudah ia bawa untuk Aurora.


"Gak biasanya?" Tanya Aurora dengan menaikkan satu alisnya menatap Daren.


"Ra, Papah mau berubah, Papah mau jadi ayah yang baik untuk kamu. Dan memperbaiki hubungan seorang ayah pada putrinya" Ucap Daren dengan menatap lembut Aurora.


"Putrinya?, Bukannya anak papah itu cuma Livy?" Tanya Aurora yang langsung membuat Daren diam membisu.


"Kenapa diam?"


"Papah tahu, Papah salah sama kamu Aurora. Tapi papah mohon, Kasih papah kesempatan untuk berubah menjadi ayah yang lebih baik lagi untuk kamu" Pinta Daren.


Aurora terdiam untuk beberapa saat, Sampai akhirnya Aurora tersenyum mendengar permintaan Daren.


"Baiklah, Papah buktikan saja. Karena saya tidak suka hanya sekedar ucapan tanpa tindakan" Jawab Aurora yang langsung membuat Daren mengembangkan senyumnya.


"Terimakasih sayang" Ucap Daren dengan memeluk Aurora.


Aurora langsung diam membeku saat Daren memeluknya, Karena yang Aurora ingat untuk yang terakhir kalinya Daren memeluknya yaitu saat ia masih kecil.


Aurora tersenyum dengan air mata yang berlinang, Seolah menggambarkan suasana hatinya yang senang sekaligus sakit jika mengingat masa lalu yang begitu kelamnya yang telah ia lalui.


Aurora membalas pelukan Daren dengan begitu eratnya.


"Papah...." Lirih Aurora pada Daren.


Sama halnya dengan Aurora, Daren pun terharu mengingat perbuatannya yang sudah mengabaikan putrinya sendiri. Tanpa adanya perhatian dan kasih sayang darinya untuk Aurora.


"Maafin papah Aurora" Lirih Daren dalam pelukan Aurora.


Aurora hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Karena sudah tak sanggup untuk berbicara.


Tanpa mereka berdua ketahui, Ternyata Mbok Mina dan Pak Jako menyaksikan kebersamaan antara ayah dan anak yang selama ini terpisah.


"Semoga setelah semua kejadian pahit yang non Ara alami, Kini berubah menjadi kebahagiaan" Gumam Mbok Mina dengan berlinang air mata menyaksikan Aurora yang menangis di pelukan Daren.

__ADS_1


"Dan semoga saja Bapak jadi lebih perhatian sama Non Ara yah Mbok" Gumam Pak Jako yang langsung di angguki Mbok Mina.


__ADS_2