Dear AURORA

Dear AURORA
5 : Does He Love Her


__ADS_3

Aurora datang dengan wajah merah padam, napasnya sedikit memburu dan jalannya cepat menandakan ia sedang marah.


BRAKK


Gadis itu membuka pintu kelas kasar. Membuat semua pasang mata menatapnya heran dan takut.


"Kenapa gak ada yang bilang kau gue juga panitia pensi,  hah?!" sentak Aurora. "Gak ada  yang mau jawab?!"


Semua terdiam. Tak ada yang berani menjawab terutama yang mendukung Aurora menjadi perwakilan kelas.


"Kan udah ada di file yang gue  kirim semalem. Lengkap semua di situ Ra," ucap Hajar setelah meletakkan sapu—hari ini jadwalnya piket.


"Terus lo semua tega jadiin gue panitia di dua macam kegiatan? Emang gak ada orang lain apa? Kelas ini isinya cuma gue aja? Sampai kalian tega numbalin gue buat dua acara besar gitu?" cerca Aurora. Ia marah, kesal dan sedikit tidak terima. Berjalan cepat ke bangkunya dan segera menyembunyikan kepala di balik tekukan tangan. Suasana hatinya hancur sekali pagi ini.


Seluruh kelas berbisik ragu. Saling menyalahkan dan ada pula yang bertanya mengapa. Maklum, sebagian dari mereka terkenal pasif dan hanya menyimak lantas menyetujui.


Tanpa gadis itu sadari, seorang pemuda masuk ke dalam kelasnya  sambil membawa susu Ultramilk kemasan dua ratus lima puluh mililiter dengan rasa stroberi. Melangkah pelan hingga ketukan sepatunya tak terdengar sambil meletakkan jari telunjuk di bibir—menyuruh siswa di kelas itu diam.


"Gue yang jadi panitia pendamping. Lo tenang aja, kalau kesusahan bakal gue bantu."


Aurora tersentak dari posisinya  saat mendengar suara berat yang tak asing di telinganya. Mendongak dan menemukan wajah rupawan itu sedang menatapnya.


"Eh, Kak Bintang. Ngapain ke sini Kak? Bukannya latihan taekwondo masih nanti ya?" Aurora bertanya. Heran, pasalnya  kelas Bintang jelas tidak melewati kelasnya. Kelas dua belas ada tepat di bawah kakinya.


"Cuma mau ngasih ini." Bintang menyerahkan sekotak susu pada Aurora. Lantas mengusak rambut gadis  itu. "Diminum ya."


Semenit masih dalam keterkejutan, Aurora tidak lagi menemukan sosok Bintang di hadapannya. Saat menoleh ke kanan, barulah netra Aurora menagkap kembali sosok jakung itu, sedang berjalan santai sambil sesekali tersenyum saat di sapa. Sangat tampan.


"Ekhem, tebakkan gue bener kayaknya." Sellena yang baru saja datang meletakkan tas di atas meja, lalu menatap Aurora lekat. "KAK BINTANG SUKA SAMA LO, RA!" teriaknya heboh.


Sungguh, Aurora sedang membutuhkan lakban segera. Ingin membungkam mulut Sellena yang kelewat menyebalkan.


Seluruh penghuni kelas memperhatikan Aurora dengan pandangan bingung, seperti bertanya apakah hal itu benar.


Aurora cepat-cepat menggeleng. "Gak usah dipercaya. Sellena kan ceplas-ceplos orangnya," sergahnya.


Walau dalam hati Aurora memgaminkan dugaan Sellena. Tak bisa dipungkiri lagi, Aurora bahkan merasa terbang di atas awan hanya  karena perlakuan sederhana itu. Ia senang dengan segala perhatian yang Bintang berikan.


Terhitung sejak hari pertama masuk ekstarkurikuler taekwondo atau saat penerimaan siswa baru? Ia lupa jelasnya, yang ia ingat hanya  Bintang yang mengakui keberadaannya di eksktrakurikuler taekwondo.


Terbilang, fakta bahwa Aurora seorang perempuanlah yang membuat mereka memandang gadis itu remeh, seolah tak pantas  bergabung dengan mereka. Tapi Bintang berbeda, pemuda  itu justru mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan dan senyuman manis sebagai pelengkap. Sejak saat itu mereka berdua mulai dekat.


"Semoga betah dan gak pindah ke paskib ya," ucapnya sambil mengulurkan tangan. "Walau di sana banyak cogan yang menggoda iman," lanjut Bintang.


Tapi terkadang Aurora bingung dengan sikap Bintang. Mata pemuda  itu tak pernah menyiratkan perasaan lain selain kepedulian kepada sesama atau sekedar ingin menolong karena itu adalah kewajiban manusia. Tak lebih dan tak kurang. Bahkan tadi saat memberikan sekotak susu pada Aurora atau mengusak kepala Aurora, tak ada pancaran senang atau perhatian karena  sesuatu.


Lantas bolehkah Aurora berharap lebih?


---🌟🌟🌟🌟🌟---


"Ga, jangan marahlah, gue gak ikut-ikut milih lo." Saga memohon untuk kesekian kali. Sejak Reiga datang hingga jarum jam menunjuk angka enam lebih empat puluh lima menit—lima belas menit sebelum bel masuk, namun tidak ada tanda-tanda pemuda itu akan merespon.


"Bodo amat," ketus Reiga.


"Kalau masalah ada  Aurora di panitia pensi atau kemah gue juga gak tahu. Beneran gak tau Ga." Saga membela diri.

__ADS_1


Reiga tidak peduli. Memasang earphone dan mengeraskan volumemya hingga suara Saga hanya terdengar samar dan akhirnya malah tidak terdengar sama sekali.


Saga  mengacak rambutnya bingung. Padahal semalam ia tidak muncul dalam percakapan grup. Hanya menyimak tadi pagi dan menemukan Reiga sudah marah-marah karena namanya tertulis dalam formulir kepanitiaan kemah dan pensi.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


"AURORA FOKUS!"


Kesekian kalinya Master B meneriakkan nama Aurora  di tengah pergulatan sengit perempuan itu melawan Bayu—salah satu anggota senior Taekwondo.


Aurora tidak menjawab. Anggukan kuat digunakan sebagai jawaban. Jujur, melawan Bayu bukan perkara mudah, kemampuan pemuda ini sebanding dengan Bintang.


"AURORA JANGAN TERKECOH!" Master B berteriak lagi, lebih kencang dan lebih tegas.


Aurora mengangguk. Mengacungkan tinju ke depan, siap menghantam sisi kanan Bayu. Bayu berkelit, bergeser setengah langkah ke kiri dan menendang punggung Aurora.


BUK


Gadis itu jatuh terjerembab, mendecih karena tidak terima Bayu menjatuhkannya semudah itu. Segera bangkit, memasamg kuda-kuda—Bayu melakukan hal yang sama.


Sejenak lenggang, teriakan Master B tidak terdengar sama sekali pun riuh ricuh yang mendukung Bayu atau Aurora.


"Gak mau maju, Ra?" Bayu bertanya, menyeringai tipis.


Aurora balas tersenyum. Lantas  menggeleng. "Gak deh Kak. Aku dari tadi udah nyerang duluan, sekarang giliran Kak Bayu."


Bayu memgangguk. "Oke."


Segera saja Bayu merangsek ke depan, mengirim pukulan pada Aurora. Aurora yang sudah siap segera menepis. Tapi, lagi-lagi gagal. Itu hanya gerak tipuan, justru tangan kiri Bayu yang siap menyerang.


BUK


"FOKUS AURORA!" Master B berteriak lebih tegas, lebih lantang dan wajahnya mengeras. Pria paruh baya itu mengusap wajahnya lelah. Ini bahkan belum inti pertandingan, namun Bayu sudah menjatuhkan anak didik perempuannya itu dua kali.


Aurora memgangguk lagi. Sebenarnya dalam hati bercokol perasaan sebal, tapi mau bagaimana lagi, ia hanya bisa menurut pada sang master. Memasang kuda-kuda lebih kuat dan tentu otaknya ikut andil dalam perlawanan ini.


Tepat ketika Aurora berdiri, memasang kuda-kuda, Bayu langsung menyerang. Tangan kanannya teracung, Aurora menghindar, ini jelas gerak tipuan. Berarti serangan berikutnya adalah serangan yang sesungguhnya. Kaki kiri Bayu terangkat, hendak menyerang. Aurora segera saja  menangkisnya. Tapi ternyata bukan itu serangan yang asli, lagi-lagi hanya tipuan dan Aurora sudah tertipu.


Bayu berkelit ke kiri, menghindari serangan Aurora. Menekuk siku dan siap menghantam punggung  Aurora yang bebas.


BUK


Serangan Bayu telak mengenai Aurora tanpa gadis itu sempat menghindar. Jatuh tersungkur di atas matras dengan Bayu tersenyum penuh kemenangan. Sedetik kemudian, Bayu mengunci tangan Aurora dan menekan punggung gadis dengan siku, mencegah Aurora untuk bangkit lagi.


"Gue  heran, Bintang kok bisa kalah ya sama cewek lemah kayak  lo?" Bayu bertanya meremehkan. "Dua puluh lima menit babak awal aja udah  kalah."


"Diem, Kak." Aurora mendesis tidak terima dengan penuturan Bayu.


Satu menit berlalu tanpa ada pergerakan sama sekali. Di sisi arena, Master B menanti Aurora untuk bangkit. Berharap gadis itu bisa membalik posisi seperti biasanya.


Tapi setelah satu setengah menit berlalu dan tidak ada perubahan, Master B menyerah. Bertepuk tangan tanda akhir dari pertandingan.


Bayu itu jelas tersenyum senang, lebar dan angkuh. Sementara Aurora justru menekuk wajah karena  kekalahannya. Apalagi tatapan Master B  yang seolah  berbicara jika ia seharusnya  tidak ikut pertandingan bela diri. Sudah dipastikan kalah, begitu ucap Maater B pada Aurora sebelum keluar lapangan. Beruntung, ia masih memiliki Bintang yang mengakui kemampuannya. Pemuda itu tersenyum saat Aurora turun dari matras dan bergumam tidak apa-apa tanpa suara.


---🌟🌟🌟🌟🌟---

__ADS_1


Latihan berakhir begitu saja setelah Master B keluar ruangan. Meninggalkan mereka yang masih bingung harus bagaimana, pulang atau menunggu Master B kembali.


Tapi nyatanya, setelah menunggu selama dua puluh menit Master B tak kunjung menampakkan diri lagi, membuat seluruh anggota ekstrakurikuler setuju membubarkan diri dan segera pulang.


Aurora menjadi anggota yang paling akhir kembali. Tetap berdiam diri di sana sambil melatih beberapa gerakan, tidak peduli dengan seruan anggota lain agar segera pulang.


"Kuncinya taruh aja di deket tas. Nanti aku yang ngunci ruangannya." Aurora menyahut saat Ilham—ketua ektrakurikuker taekwondo—bertanya.


Entahlah, kalimat Bayu tadi membakar hatinya hingga ke ubun-ubun. Terbilang kesal, kecewa dan akhirnya  bertanya  pada diri sendiri. Apa benar ia tidak pantas mengikuti turnamen? Apa benar ia gadis lemah?


"Udah, Ra. Ayo pulang." Bintang berseru dari duduknya. Pemuda itu memang memilih menunggui Aurora. Memastikan gadis itu tidak melakukan hal macam-macam di tempat ini.


"Nanti aja. Kak Bintang pulang duluan aja sana," tolak Aurora yang ujelas menadapat gelengan dari Bintang.


"Gue tunggu sampai lo mau pulang." Bintang menegaskan ucapannya.


Aurora mendengus. Ia tidak ingin menjadi gadis egois dan menjadi penyebab Bintang pulang terlambat.


Beranjak dari tempatnya, Aurora mengambil tas yang berada di samping Bintang. "Tunggu bentar Kak," pintanya.


Bintang mengangguk.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Sepanjang perjalanan ke tempat parkir, Aurora dan Bintang hanya berteman  sepi. Tak ada yang mau membuka suara dan memilih menenggelamkan diri dalam pikiran masing-masing. Hingga  sampai parkiran, saat Bintang menyerahkan helm pada Aurora, mereka tetap tenggelam dalam keheningan.


"Kak," panggil Aurora setelah menaiki motor Bintag.


Bintang berdehem pelan. Menyalakan mesin motor.


"Kak Bintang waktu seleksi itu gak ngalah kan biar gue menang?" Aurora bertanya ragu-ragu.


Bintang melihat ke arah spion. Di sana, Aurora duduk tak nyaman, menggigit bibir resah dan menunduk. "Kenapa tanya kayak gitu?"


"Kak Bayu bilang kalau gue lemah. Dan—"


"Gak usah dipikirin, dia cuma mau mancing emosi lo. Lagian waktu itu lo juga udah kalahin Bayu."


Aurora mengangguk. Meski arti kalah sebenarnya bukan Bayu kalah babak belur menghadapinya. Pemuda itu hanya ceroboh, kuda-kudanya tidak kokoh dan dalam sekali tendang, Aurora berhasil menjatuhkan pemuda itu. Membuat Bayu keluar dari arena  dan dinyatak kalah.


"Tapi kan—"


"Kan gue udah bilang, petarung taekwondo gak boleh gampang tersulut emosi atau kelemahan kita cepet diketahui lawan."


Aurora mengangguk lagi. Menelan kalimat yang hendak ia utarakan setelah mendengar kalimat Bintang. Merasa yakin kembali jika Bayu memang berlatih lebih keras dan lebih sering, oleh karena  itu ia kalah hari ini.


Sehingga dalam hati Aurora muncul tekad baru. Jika Bayu memang berlatih lebih keras, maka ia harus lebih keras lagi. Jika Bayu bertambah hebat, maka ia harus lebih hebat lagi. Di pertandingan selanjutnya, ia harus bisa menang.


"Makasih Kak."


"Anytime, Ra," balas Bintang. "Mau susu stoberi gak?"


"Ada?" Aurora menyahuti.


"Di tas bagian depan, ambil aja."

__ADS_1


"Ehe, makasih lagi Kak."


Bintang menangguk seraya tersenyum samar dalam helm full face-nya. Senang dengan kenyataan bahwa Aurora kembali bahagia karenanya.


__ADS_2