Dear AURORA

Dear AURORA
22 : Es Hijau dan Coca Cola


__ADS_3

Istirahat kedua berjalan dengan tenang. Sebagian besar siswa SMA Putra Bangsa sedang menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim, sholat. Meski tidak menutup kemungkinan masih ada yang berleha di kantin atau di depan kelas hingga azan tiba. Lantas berlari kesetanan karena takut ketingalan jamaah, tapi tetap ada yang santai-santai saja. Maklum, prinsip anak zaman sekarang memang begitu, hidup harus santuy.


Di kantin, tepat di meja depan warung Bu Ijah. Sellena yang memang bukan seorang muslim dan Aurora yang sedang mendapat tamu, makan dengan tenang. Tanpa candaan karena memang sangat lapar. Tadi saat istirahat pertama, mereka tidak sempat ke kantin, lima belas menit jam istirahat di korupsi oleh Pak Sugeng di laboratorium biologi. Alhasil, hampir satu kelas menopang dagu atau meletakan kepala di atas meja saat pelajaran matematika peminatan menyambut, lelah dan butuh tenaga.


"Pecelnya Bu Ijah emang yang paling the best," puji Sellena sambil mengacungkan kedua ibu jari. Bu Ijah yang mendengar tersenyum lebar, senang jika masakannya disukai oleh pembelinya. "Apalagi habis matematika gini, enaknya pecel bu Ijah kayak pangkat kuadrat. Enak pakai banget!" tambahnya penuh semangat.


Aurora tertawa di tempat, menyeruput es hijaunya yang tinggal seperempat.


"Neng Sellena mah bisa aja. Masakan ibu gak sebanding sama yang di kape-kape depan sekolah Neng," ujar Bu Ijah merendah.


"Enak punya Bu Ijah pokoknya!" bantah Sellena. Gadis satu ini memang terkenal penggila masakan Bu Ijah. Mirip masakan bundanya kalau ada yang bertanya pada gadis itu.


"Sel," panggil Aurora.


Sellena menoleh. "Apa?"


"Gimana menurut lo kalau gue diajak kencan sama kak Bintang?"


"Kak Bintang ngajak lo kencan?" tanya Sellena setengah tak percaya.


"Enggak sih, bukan kencan. Tapi ya bisa disebut kencan, tapi kalau dipikir-pikir lagi kayak bukan kencan."


"Bahasa lo gak ada yang lebih ribet lagi? Lemot nih otak mikirnya."


Aurora meringis, tapi ia memang bingung mau menyebutnya bagaiman. "Kak Bintang ngajak CFD-an hari Minggu. Menurut lo gue terima apa tolak?"


"Dih gayanya, kayak udah ditembak aja." Sellena menyindir. "Tapi iyain aja deh, Ra, hitung-hitung pdkt."


"Eh, bener juga tuh. Tumbeh otak lo pinter."


"Baru sadar?"


Aurora menyengir, bangkit dari duduknya sambil membawa gelas es hijaunya-berniat menambah. "Nitip gak?" tanyanya pada Sellena.


"Enggak deh, nanti aja ambil sendiri."


Aurira mengangguk.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


"Kira-kira gue menang gak kalau lawan Aurora?" Reiga bertanya acak setelah melihat Aurora mengantri di warung Bu Ijah.


"Kalah." Saga menjawab singkat. Menepuk telapak kaki yang dikotor oleh pasir dan tanah-sepatunya ia tinggal di kelas dengan alasan agar mudah waktu wudhu.


Reiga mencibir. "Sahabat lo tuh gue apa Aurora?"


"Lo lah, Ga." Saga menjawab mantap.


"Terus ngapain ngedo'ain gue kalah?!" Reiga bertanya gemas.


"Gue gak ngedo'ain, tapi fakta yang ada bilangnya gitu."


Reiga berdehem. Duduk di depan Sellena sementara Saga duduk di dekat gadis itu.


"Ngapain kalian ke sini?" Sellena bertanya sinis. Banyak terganggu dengan kehadiran dua pemuda ini.


"Duduk dan-" Saga menggantung kalimatnya. Mengambil sendok yang baru setengah jalan menuju mulut Sellena, lalu tanpa izin melahapnya. "Makan," tambahnya dengan mulut mengunyah.


"Sialan! Pergi sana, dasar buaya!"


"Duh, mulutnya. Gue ganteng kayak Song Joong Ki gini dibilang buaya." Saga menjawab tak terima.


"Ngimpinya jangan ketinggian, Mas!" Sellena meledek ucapan Saga.


"Nanti kalau jatuh kamu yang nangkep ya , Dek!" goda Saga menaik-turunkan alisnya.


Sellena menggeram marah. Baru kali ini ia mendengar rayuan tak berkualitas yang malah mengaduk perut-sebelumnya ia tak pernah dirayu. Memaksa makanan dan es hijau Bu Ijah keluar dari mulut. Cepat saja, gadis itu menjambak rambut Saga brutal. Menariknya hingga sang empunya meringis menahan sakit.


"Ampun, Sel!"


"Ampun lo gak gue terima!"


Sementara duo S itu bertengkar, Reiga beranjak dari duduknya. Berjalan santai ke warung Bu Ijah dan berdiri di belakang Aurira yang rupanya sudah hampir selesai.


"Astaga!" Aurora memekik kaget. "Lo gak ngagetin bisa gak?" Aurora bertanya sinis.


"Lo aja yang alay." Reiga tidak peduli. "Bu, nasi kuning dua sama es hijau dua," lanjutnya tanpa memedulikan tatapan mematikan dari Aurora.


Aurora yang merasa tidak dipedulikan berlalu pergi. Bodo amat, yang penting ia hanya ingin menikmati es hijau di tengah panasnya kota.


Tapi keinginan hanyalah keinginan belaka. Aurora yang baru akan menginjak lantai dengan kaki kanan terpaksa terhuyung ke depan karena kaki Reiga menjegalnya. Membuat gadisnya hilang keseimbangan hingga gelas yang di pegang di tangan kanan miring dan menumpahkan isinya. Belum cukup, tubuh Aurora yang tadinya bergerak lambat mencium lantai ditahan oleh Reiga.

__ADS_1


"Jalan aja kayak anak TK." Reiga mencibir.


Aurora melotot tajam, menghempaskan lengan Reiga sesaat setelah mendapatkan keseimbangannya kembali. "Lo kalau gak nyari masalah sama gue gak bisa?" tanya tajam.


Reiga mengangkat bahu tak acuh. Menerima pesanan dari Bu Ijah lantas berjalan malas. "Udah jadi hobi baru gue."


"Heh, enak aja main kabur. Ganti es gue dulu!" teriak Aurora.


Reiga masih tidak peduli. Melanjutkan langkah seolah tak terjadi apapun. Sementara di belakangnya, Aurora bersungut marah dengan wajah merah.


Mengambil ancang-ancang, Aurora berjalan pelan menghampiri Reiga dan menendang di belakang lutut pemuda itu. Ringan saja, tapi cukup membuat Reiga jatuh tersungkur karena kaget.


"Rasain!" Aurorra tertawa mengejek saat Reiga mengeluarkan sumpah serapah padanya. Lantas berbalik untuk membeli es hijau lagi.


"Akh!"


Aurora berteriak kesakitan saat rambutnya ditarik paksa oleh Reiga. Berbalik cepat seraya meletakan gelas di meja terdekat, takut-takut kalau gelas itu ikut menjadi korban.


"Lo banci apa gimana! Cowok kok beraninya jambak rambut!" Auora menyalakan sambil berusaha melepaskan tangan Reiga dari rambutnya. Sungguh, jika bukan karena menjaga image, Aurora pasti menangis menjerit. Karena demi Spogebob Squarepants yang celananya pernah bulat ini sangat sakit.


"Gak peduli, mau gue banci atau bukan! Gue tetep ganteng!" balas Reiga tak kalah sengit.


Sementara di sisi kain kantin, Sellena dan Saga menghentikan pertengkaran mereka.


"Duh, mulai lagi." Sellena menepuk meja pelan, matanya awas mengamati pertengkaran Reiga dan Aurora. Tapi saat Aurora memekik karena rambutnya dijambak Reiga, gadis itu langsung beranjak dari kursi, khawatir.


"Lo gak mau bantuin?" Sebelah alis Sellena terangkat karena Saga yang maaih duduk tenang menyantap nasi pecel mikik Sellena.


"Udah biasa juga, nanti juga diem sendiri."


Sellena menghela napas gusar. "Lo pernah buka ig?"


Saga menganggguk. Adiknya sepupunya yang baru berumur empat tahun saja sudah punya akun sendiri.


"Cewek laper itu gampang marah, dan pms juga gampang marah," jelas Sellena.


"Hubungannya?"


"Kalau lo ganggu cewek yang lagi laper dan bertepatan sama PMS-" Sellena memggantung kalimat. Ingin melihaat ekspresi Saga saat pemuda itu mengerti maksudnya.


Menyadari kemana arah pembicaraan Sellena, Saga segera bangkit dari tempat duduknya. "Gue gak nyangka ajal Reiga datang secepat ini."


"Gak Reiga, gak Saga, sama-sama banci," kesal Sellena.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Sepertinya Sellena harus meminta maaf karena prasangka buruknya terhadap Saga. Tanpa diduga, Saga justru kembali bersama Pak Sugeng-merangkap bagian kesiswaan-dan Bu Nunik yang merupakan guru BK.


Tak butuh waktu lama, hanya dengan seruan tegas yang Pak Sugeng berikan, aksi mereka terhenti seketika. Bisa dilihat keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipis serta dahi Aurora dan Reiga.


Sedetik kemudian, Reiga dan Aurora memohon ampun bersamaan kala Pak Sugeng dan Bu Nunik menggiring mereka ke ruang BK dengan cara dijewer.


"Gue kira lo bakal kabur." Sellena berujar lirih.


"Ya kali, hidup temen gue gimana nasibnya," timpal Saga. "Tapi gue ngebayangin gimana kalau pak Sugeng itu bapak gue terus bu Nunik itu ibu gue."


Sellena tertawa mengejek. Entah, bayangan itu membuatnya merasa geli sekaligus ngeri. "Mati muda kayaknya," jawabnya.


Saga mengangguk. "Padahal anaknya pak Sugeng cantik banget. Pengen gue halalin."


"Dasar buaya!" Sellena memukul bahu Saga kesal. Memang, sekali buaya tetap buaya. Padahal, jika ditelisik lagi, Reiga jauh lebih buaya. Ibaratnya seperti buaya pilihan yang dirawat sepenuh hati oleh mantan-mantanya. Menghasilkan buaya berkualitas yang terjamin ke-playboy-annya.


"Kalau gue buaya terus si Reiga apaan? Kakeknya buaya?"


"Bisa jadi, bisa jadi," kata Sellena.


"Lo kira ini indonesia pintar? Bisa jadi, bisa jadi." Saga menirukan suara Sellena.


Tanpa sadar, mereka justru menghabiskan jam istirahat kedua bersama. Enggan memikirkan sahabat yang entah bagaimana nasibnya di ruang BK. Hingga bel berbunyi, kedua masih terlibat perbincangan akrab. Sesekali tertawa menyahuti lelucon dan akhirnya harus berpisah karena kelas mereka berbeda.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Aurora terus menatap tajam ke arah Reiga bahkan setelah sepuluh meter dari ruang BK. Rasanya ingin sekali mencakar, menendang dan memukul wajah yang Reiga yang ia akui memang tampan. Hatinya mati-maultian menahan kesal saat Reiga justru memasang wajah santainya. Catat, ini pertama kalinya Auripra memasuki ruangan itu karena sebuah pelanggaran.


"Apa liat-liat? Menikmati ciptaan Tuhan yang terlalu indah?" Reiga memandang Aurora balik dengan senyum miring.


"Terlalu jelek!" Aurora membalas kesal. Menghentakkan kaki lalu berjalan lebih cepat, meninggalkan Reiga yang terkekeh di belakangnya.


"Lapangan indoor ke arah kiri, Ra!" Reiga berseru saat Aurora justru berbelok ke kanan.


Ingin tahu apa yang terjadi di dakam ruang BK? Yah, seperti kebanyakan kasus pelanggaran, mereka berdua di beri hukuman membersihkan lapangan indoor sampai pulang sekolah. Dan tentu saja imbalannya tidak ada pemanggilan orang tua atau poin.

__ADS_1


Sedetik setelah Reiga berseru memberitahu, tubuh Aurora melintas cepat ke arah kiri. Wajah gadis itu masih masam dengan hati penuh makian pada pemuda yang santai berjalan di belakangnya.


"Coba aja lo gak bar-bar kayak singa lepas, udah gue pacarin kali." Reiga berbicara santai.


Di depan, Aurora mendengus frustasi. "Dih, gue juga gak mau sama buaya jadi-jadian macam lo!"


Reiga kembali terkekeh.


"Lelet banget jadi cowok! Pakai rok aja deh, sekalian belajar make up ke Wulan biar bisa mangkal di lampu merah!"


Dengusan kasar terdengar dari Reiga. Tak terima dengan ucapan Aurora yang sedikit menyentil harga dirinya sebagai most wanted di SMA Putra Bangsa.


Sampai di lapagan indoor Aurora segera melempar pel pada Reiga sementara gadis itu mengumpulkan bola basket ke keranjang dengan cara melemparnya. Dan saat lemparannya tepat, gadis itu akan berseru senang sambik berteriak shot.


Reiga sendiri mengomel karena ia justru kebagian tugas mengepel, menyapu dan mengelap properti. Bukankah tugas mereka tertukar? Tapi saat ia meminta bertukar tugas, Aurora menggeleng tegas dengan tatapan tajam.


"Lo pernah baca gak masalah orang yang phobia sama alat kebersihan?" Aurora bertanya sambil melempar bola basket terakhir ke keranjang bola.


Reiga menggeleng malas. Jika pun ada, aneh sekali rasanya. Apalagi jika itu perempuan, benar-benar kemustahilan.


"Lo phobia?"


Aurora menggeleng. "Enggak, tapi karena tinggal setengah lapangan yang perlu di pel. Lo lanjutin gih, gue udah selesai."


Aurora melenggang naik ke tribun di tengah. Memosisikan kakinya lurus kemudian merebahkan diri sambil mengatur napas.


Pel di tangan Reiga hampir melayang jika ia tidak pandai mengatur emosi. Menarik napas, lantas membuangnya. Sekarang ia tahu kenapa Aurora memilih membersihkan peralatan ketimbang mengepel. Lapangan ini setara dengan empat lapangan basket ukuran nasional, jadi jangan heran jika untuk membersihkannya perku waktu lama. Apakagi jika hanya satu orang yang bekerja.


Pekerjaan Reiga selesai bertepatan dengan bel pulang dan terbangunnya Aurora dari tidur siang dadakan itu. Perlahan gadis itu turun dari tribun sambil melihat Reiga yang telentang di atas lantai. Sedikit rasa kasihan menelusup di hati Aurora karena membiarkan pemuda itu bekerja sendiri. Tapi saat kepalanya berdenyut sakit akibat jambakan pemuda itu, Aurora justru tersenyum puas.


"Bagun lo!" Aurora berteriak membangunkan Reiga.


Bukannya bangun karena teriakan Aurora, Reiga justru menggeliat memeluk kaki Aurora yang menjulang di sisinya.


Mata Aurora melotot kaget saat menerima perlakuan tidak terduga dari Reiga. Sontak saja gadis itu menggerakan kakinya yang akhirnya jusyru menendang dagu Reiga.


"Dasar mesum!" Aurora mundur dua langkah. Mengantisipasi kejadian berikutnya yang mungkin berada di luar dugaan.


Reiga tak peduli dengan rancauan Aurora. Mengusap kasar dagunya yang berdenyut sakit. Ia yakin, sepulang sekolah nanti, dagunya akan berubah ungu.


"Banguninnya bisa lebih manusiawi dikit gak?" protes Reiga.


"Bodo amat! Lo aja gak gue anggap manusia." Aurora menyergah.


Reiga mendongak ke arah Aurora. "Terus lo anggap gue malaikat?"


"Lebih cocok jadi iblis," koreksi Aurira.


"Aurora!"


Teriakan dari arah pintu masuk mengalihkan atensi Aurora dan Reiga. Di sana, tepat beberapa meter dari posisi mereka, Sellena berlari sambil membawa satu botol coca-cola. Tak lama, Saga ikut masuk dengan kondisi yang sedikit mengenaskan. Napas memburu dan rambut sedikit acak-acakan sambil membawa empat tas. Satu di punggung, satu di dada dan dua lainnya di tangan. Wajahnya penuh keringat dan bibir yang terus mengoceh tak jelas.


"Nih gue bawain minum." Sellena menyodorkan botol coca-cola ukuran sedang ke arah Aurora yang disambut dengan sukacita oleh gadis itu.


"Gue gak, Sel?" Reiga bertanya memelas.


Sellena menatap sinis. "Siapa lo? Emang kita kenal?"


Wajah Reiga menjadi lebih muram karenanya. "Parah lo, cowik seganteng ini gak dibawain minum."


"Peduli gue?" Sellena menaikkan dagu dan menarik Aurora sedikit menjauh untuk duduk.


"Sag," panggil Reiga.


"Apa?!" Saga menjawab ketus. Belum menurunkan tas yang menggantung di tubuhnya.


"Minum," pinta Reiga.


"Gak ada!" jawabnya singkat. "Tangan gue cuma dua dan udah dijadiin babu sama nenek lampir." Saga memandang sini Sellena yang tertawa bersama Aurora.


"Nih."


Sepuluh menit berlalu, Aurora bangkit dari duduknya dan menyerahkan botol coca-cola yang masih tesisa tiga perempat isinya. Tanpa mau mendengar jawaban atau ucapan terima kasih dari Reiga, gadis itu menarik lengan Sellena keluar setelah mengambil tas.


"AURORA!"


Tepat saat Aurora mendorong pintu, teriakan Reiga menggema di ruangan itu, membuat Aurora dan Sellena terbahak. Apalagi Saga, ia bahkan sampai berguling karena melihat hampir setengah badan dan wajah Reiga basah oleh cairan berwarna coklat itu.


Sialan. Ia dikerjai oleh Aurora.


Sebelum Aurora menyerahkan botol coca-cola itu, ia sempat mengocoknya hingga berbusa. Dan Reiga yang kelewat haus menerimanya tanpa mau mengecek atau sekedar melihat. Jadi jangan salahkan Aurora, Reiga saja yang tidak teliti dan awas.

__ADS_1


__ADS_2