
Arka langsung membaringkan tubuh Aurora, Tapi saat Aurora sudah di baringkan ternyata tangan Aurora masih mengalungkan ke leher Arka. Membuat Arka hampir terjatuh dan menimpa tubuh Aurora, Untungnya Arka sigap menahan dengan kedua tangannya.
Untuk beberapa menit, Arka memperhatikan wajah Aurora dari dekat. Yang nampak sangat cantik dan nyaris sempurna, Bahkan tampa makeup seperti sekarang. Arka langsung menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri sebelum lebih jauh lagi. Dia juga pria dewasa yang normal yang akan tergila-gila dengan wanita, Namun untuk sekarang Arka lebih dulu mengontrol dirinya.
"Huftt, Berat juga nih cewek" Gumam Arka.
Padahal tubuh Aurora tidak terlalu berat, Hanya saja ia sedang menetralkan detak jantungnya karena berdekatan dengan Aurora.
Arka langsung menyelimuti tubuh Aurora, Dan berlalu pergi dari kamar itu.
***
"Aurora pergi kemana yah mas, Aku jadi khawatir?" Tanya Hana pada Daren.
"Aku juga tidak tahu, Dan aku sudah tidak peduli lagi. Biarkan dia memilih hidupnya sendiri, Aku tidak suka dengan sikap dia yang sudah keterlaluan terhadap kamu" Jawab Daren.
"Mas kamu jangan gitu, Aurora itu anak kamu, Darah daging kamu sendiri. terjalnya hidup yang dia jalani sendirian, Menjadikan dia pribadi yang keras" Ucap Hana yang tidak di tanggapi Daren.
"Sudahlah Hana, Sekarang tidur. Besok kita akan berangkat ke London, Kau mau ikut kan?" Tanya Daren yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
Hana hanya menganggukkan kepalanya, Lalu ikut tidur terbaring di samping Daren.
***
Livy baru saja keluar dari kamarnya untuk turun sarapan sendirian, Karena Daren dan Hana sudah berangkat ke bandara dari subuh tadi.
Livy langsung menelpon Ares untuk mengajak berangkat sekolah bareng.
[ Halo, Res. Hari ini aku bareng sama kamu yah? ]
[ Oke ]
Jawab Ares di sebrang telpon.
Setelah mematikan sambungan telponnya, Livy langsung sarapan hanya dengan sandwich dan susu, Setelah selesai sarapan Livy langsung keluar dari rumahnya untuk menunggu Ares dengan duduk di teras rumahnya.
Livy sudah terbiasa di tinggal Hana, Untuk menemani ayah sambungnya melakukan perjalanan bisnis. Usia pernikahan Hana dan Daren sudah berjalan 5 tahun, Tapi sampai saat ini Hana tidak bisa mengandung kembali. Karena pada saat awal pernikahan Hana sempat hamil, Namun keguguran dan mengharuskan rahimnya di angkat, Jadi sampai sekarang Hana tidak bisa hamil kembali.
Daren tidak mempermasalahkan itu, Karena Daren sudah bertekad untuk selalu di samping Hana sampai maut memisahkan mereka.
TIN!, TIN
Klakson mobil berbunyi di depan pagar, Menandakan jika Ares sudah datang. Livy langsung berlari menuju mobil Ares.
"Lama nunggu?" Tanya Ares.
__ADS_1
"Enggak, Baru aja keluar. Yuk jalan" Jawab Livy setelah memasang seatbealt nya.
Ares langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah Livy.
"Oh iya Res, Sabtu acara camping kan di mulai. Kamu udah izin sama papah kamu?" Tanya Livy yang hanya di balas dengan gelengan kepala dari Ares.
"Gak, Gua gak kasih surat izinnya ke papah. Tapi gua kasih ke mamah, Nanti biar mamah aja yang izin ke papah" Jawab Ares.
"Punya aku untungnya udah, Kalo aja telat ngasih, Aku bakalan gak jadi ikut. Mamah dan papah udah berangkat tadi ke London"
"Jadi lo di rumah sendirian?"
"Hem"
"Ke rumah gua aja kalo lo ngerasa sepi, Kan biasanya lo suka ke rumah gua kalau orang tua lo pergi"
"Iya nanti sore deh" Jawab Livy dengan tersenyum sumringah.
***
Aurora mencoba membuka kedua matanya, Saat cahaya masuk ke dalam sela-sela gorden besar untuk menutupi dinding kaca yang besar di kamar itu.
Aurora menatap langit-langit kamar dengan terus mengedipkan matanya, Menyesuaikan dengan apa yang di lihatnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka menampilkan sosok Arka yang datang menghampirinya.
Aurora mengerutkan keningnya bingung, Seolah pernah melihat seseorang yang datang menghampirinya.
"Kamu siapa?" Tanya Aurora untuk memastikan siapa Arka.
"Pemilik rumah ini" Jawab Arka dengan santainya.
"Kenapa saya bisa dis..." Belum sempat Aurora menyelesaikan ucapannya, Tapi tiba-tiba saja perutnya terasa mual.
Arka yang melihat itupun langsung mendekati Aurora.
"Jangan muntah disini, Itu kamar mandinya di sana" Tunjuk Arka pada Aurora.
Aurora langsung berlari masuk kedalam kamar mandi, Memuntahkan isi perutnya sampai habis. Arka yang mendengar Aurora muntah begitu banyak pun langsung merasa jijik, Tapi ia tetap memaksakan ikut masuk ke dalam kamar mandi untuk mengurut tengkuk Aurora.
Setelah semua isi perutnya keluar, Aurora langsung lemas sampai tidak bisa menahan bobot tubuhnya. Arka yang ada di belakang Aurora pun langsung memeluk pinggang gadis itu agar tidak terjatuh, Dan membopong tubuh Aurora kembali ke kasur.
"Kamu duduk dulu disini, Saya akan membuat air hangat sebentar" Ucap Arka dengan berlalu pergi dari hadapan Aurora.
__ADS_1
Aurora hanya menganggukkan kepalanya lemah, Lalu ia tersenyum tipis mengingat siapa laki-laki yang menolongnya sekarang.
"Ternyata dia yang waktu di rumah sakit itu" Lirih Aurora dengan menatap pintu kamar yang sudah tertutup.
"Arka" Gumam Aurora yang baru mengingat nama sosok laki-laki tersebut.
Setelah menunggu 5 menit, Akhirnya Arka kembali masuk kedalam kamar Aurora dengan membawakan secangkir teh hangat.
"Ini di minum dulu, Buat ngeredain rasa mual kamu" Ucap Arka dengan menyodorkan satu cangkir teh hangat pada Aurora.
Sebenarnya Aurora begitu lemas untuk menerima teh hangat dari Arka, Tapi Aurora memaksakan untuk mengambilnya dengan tangan bergetar.
Melihat tangan Aurora yang nampak tremor, Arka langsung menjauhkan teh tersebut dari Aurora.
"Di tiup sebentar, Baru diminum" Ucap Arka dengan menyodorkan teh tersebut ke mulut Aurora.
Setelah meminum teh tersebut Aurora merasa begitu segar, Tenggorokannya tidak terasa seperti terbakar lagi dan perutnya langsung menghangat meminum teh buatan Arka.
"Terimakasih Arka" Ucap Aurora dengan tersenyum tipis menatap Arka.
"Ka-mu..?" Ucap Arka terbata karena tidak percaya jika Aurora mengingat namanya.
"Yah, Bukankah kita sempat berkenalan waktu di rumah sakit" Jawab Aurora membuat Arka tersenyum salah tingkah.
"Waktu kamu menangis kan?" Goda Arka pada Aurora.
Aurora hanya menganggukkan kepalanya lemah dengan tersenyum tipis membuat Arka terpesona melihat senyuman Aurora walaupun tipis, Sangat tipis.
"Oh iya, Perut kamu harus di beri minyak angin biar hangat. Kamu bisa sendirikan?" Tanya Arka dengan menyerahkan botol minyak angin.
"Hm" Aurora hanya menjawab dengan berdehem karena Sebenarnya tubuh Aurora sangat lemas, Dan tangannya sedang kesemutan setelah muntah tadi.
"Kamu jawab hm, Tapi masih lemes?" Ledek Arka dengan terkekeh.
Sedangkan Aurora hanya diam karena memang benar sedang lemas.
"Biar saya saja yang usapkan, Saya janji. Saya gak bakalan macem-macem kok" Jawab Arka yang membuat Aurora tersenyum lalu mengangguk.
Aurora langsung menyingkap bajunya ke atas untuk di olesi minyak angin.
Glek
Mata Arka langsung melotot kaget melihat perut Aurora yang begitu mulus, Arka sampai tak bisa menelan Saliva nya. Lalu Arka memalingkan kepalanya ke kanan dan mengusapkan minyak angin ke perut Aurora.
Melihat Arka yang memalingkan pandangannya dari perut Aurora, Aurora langsung tersenyum melihat sikap Arka yang begitu lucu menurutnya.
__ADS_1