
Reiga dan Saga yang duduk di bangku yang berada tepisah dua bangku dari meja Aurora dan Sellena. Seperti sedang memperhatikan kegiatan dua sahabat itu meski yang sebenarnya terjadi adalah Reiga yang mengamati gerakan halus Aurora. Saga sendiri memilih bersikap bodo amat dengan perubahan Reiga beberapa hari ini, es hijau Bu Ijah jauh lebih menggoda.
"Gue suka Aurora," ucap Reiga disertai senyuman cerah di akhir kalimat.
Saga yang sedang nikmat-nikmatnya menyeruput sirup hijau ditambah susu kental manis dengan tambahan cincau dan agar-agar itu tersedak. Batuk keras sekali hingga beberapa siswa memalingkan atensi sebentar.
"Lo apa?" Saga memastikan apa yang ia dengar.
"Gue suka Aurora."
Mata Saga melotot tajam. Seakan tak percaya dengan kalimat yang meluncur mulus dari bibir Reiga. "Ah, habis jatuh kemarin otak lo jadi geser ya? Pikiran lo terganggu pasti."
Reiga mendengus. "Gue suka Aurora," tegasnya.
Plak
Reiga mendelik tajam saat tangan besar Saga mendarat di pipinya. Masih ingat tentang fakta bahwa Saga adalah pemegang sabuk hitam taekwondo? Pencayalah, pipi Reiga terasa panas sekaligus sakit.
"Sadar, Ga! Ya Allah, perlu gue rukyah ini!" Saga berseru panik.
Plak
Kini pipi Saga yang menjadi tempat pendaratan tabgan besar Reiga. "Lo yang pelu dirukyah!"
"Bangke," desi,s Saga. "Seminggu lagi lo bakal berhadapan sama tuh singa lepas, udah siap?" Saga mengingatkan. "Kalau kalah, berarti lo gak ada kesempatan buat dapetin Aurora."
"Gue bakal menang."
"Cih,mukul banci aja lo kalah."
Reiga menggeram. "Ya lo bayanginlah, banci modelan Ade Rai gue lawan!"
"Kalah tetap kalah." Saga mencibir.
Reiga mengangkat bahu tidak peduli. "Ajarin gue taekwondo," pintanya.
"Bayaran?"
"Cih, perhitungan amat sama sahabat sendiri."
"Tuan Reiga si playboy cap gajah berdiri, di dunia ini gak ada yang gratis."
"Gue jajanin seminggu."
"Sorry, lo pikir gue anak TK? Gak level, gak level. Yang lainlah."
Reiga mendengus. "Gue kenalin sama cewek sekolah sebelah."
"Deal!" Saga berseru girang. Membayangkan seberapa banyak kenalan perempuan Reiga membuat pemuda itu tersenyum puas. Belum tahu saja, isi Line dan whatsapp Reiga lebih mirip sekolah khusus putri. Dari yang sekolahnya di ujung kota hingga sebelah sekolahny sendiri pun Reiga kenal.
---🌟🌟🌟🌟🌟---
Seperti sudah menjadi kewajiban. Bintang akan selalu mengantar Aurora pulang setelah berlatih taekwondo. Berjalan beriringan di koridor sekolah sambil melempar lelucon atau hanya sekedar bertukar cerita tentang kejadian sehari ini.
Jika dibilang dekat, Aurora dan Bintang bisa dikatakan sangat dekat. Seperti teman yang meningkat menjadi sahabat. Seperti rasa ingin melindungi yang menjadi menjadi tidak ingin kehilangan.
Banyak orang yang bingung mengenai status mereka. Aurora yang biasanya terlihat ganas justru berubah menjadi kuncing kecil yang penurut jika bersama Bintang. Begitu pula Bintang, pemuda itu terlihat tidak acuh pada keadaan, meski tetap peduli, menjadi begitu perhatian pada Aurora.
Tapi siapa pun yang tidak memiliki kelainan mata akan dengan jelas melihatnya. Bintang tampak begitu nyaman berada di sekitar Aurora. Tersenyum manis ke arah arah Aurora karena memang ia bahagia, bukqn sekedar formalitas belaka. Membantu gadis itu karena ia memang peduli, bukan karena takdir yang mengikatnya menjadi manusia. Memperhatikan gadis itu dari jauh karena memang ia tertarik, bukan sekedar penasaran.
"Mau susu stroberi?" tanya Bintang. "Eh, kamu gak bosen, kan, setiap hari minum susu stroberi?" lanjutnya menatap Aurora dengan wajah was-was.
Aurora menggeleng dan tersenyum. "Gak Kak, enak malah."
Bintang melepaskan tali penyangga tas sebelah kanan, mengambil dua kotak susu stroberi dan menyerahkannya pada Aurora.
"Makasih, Kak."
Bintang mengusak kepala Aurora. "Dihabisin gih, bahaya kalau makan sambil naik kendaraan."
__ADS_1
"Tapi kan aku dibonceng, Kak," elak Aurora.
"Tetep aja."
Dan ya, selalu seperti itu. Pulang sekolah, Bintang sering ditemani Aurora yang menyeruput susunya hingga habis. Berboncengan di tengah bising jalanan sore. Lantas tanpa berniat masuk dan menyapa orang Aurora, Bintang pamit pulang.
"Makasih, Kak," ujar Aurora sesaat setelah dirinya turun. Menyerahkan helm kecil berwarna biru muda pada Bintang dan menjauh.
Bintang mengangguk seraya tersenyum manis. "Gue pulang dulu."
"Hati-hati." Aurora tetap berdiri di depan gerbang rumah hingga sosok Bintang hilang dari pandangannya.
"Siapa, Ra?"
Aurora terlonjak dan memekik keras. Wajahnya cemberut, memerah terkejut. "Mama gak usah ngangeti bisa gak sih?"
Bu Mirna mengangkat bahu tidak peduli, lanjut menyitam bunga kamboja di depan rumah. "Mama cuma tanya, yang tadi itu siapa? Bukannya kamu pacaran sama Reiga."
"Idih, amit-amit pacaran sama dia. Mending Aurora sama Udin, Ma."
"Tapi mama setuju kamu sama Reiga." Bu Mirna berhenti sejenak. "Dia pintar, baik, ganteng, rajin dan kayaknya setia."
Mata Aurora menyipit menahan tawa yang siap pecah kapan saja. Pujian itu bukankah terlalu berlebihan? Apalagi kata setia, Aurora berani bertaruh jika setelah putus dengan Wulan beberapa hari lalu, Reiga sekarang sudah menadapat pacar baru.
"Tau ah, Ma. Mama berkebihan."
Aurora melenggang masuk ke rumah tanpa membalas ocehan mamanya, meski sesekali terkikik tentang seberapa mamanya itu memuja Reiga. Aduh, kalau mamanya tahu kelakuan asli Reiga, yang ada wanita itu akan mengumpati Reiga dengan seluruh penghuni kebun binatang.
---🌟🌟🌟🌟🌟---
"Balik ke kamar lo gak?!" teriak Saga saat melihat Reiga tengkurap di atas karpet bulunya sambil bermain playstation.
"Nanggung, bentar lagi menang."
"Keluar, Ga!" Saga mennedang kaki Reiga. "Gue mau ganti baju."
"Ganti aja. Padahal dulu suka mandi bareng juga."
"Bedanya?"
Saga menggeram rendah. Sulit sudah jika seperti ini caranya. Menyuruh Reiga keluar dari kamarnya sama seperti mengusir debu, mustahil jika pemuda itu tidak keluar dengan sendirinya.
Memilih tidak melanjutkan perdebatan, Saga berjalan ke arah lemari, mengambil kaos putih dan celana hitam selutut lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Konser lo di dalem?" Reiga berteriak saat mendengar Saga bernyanyi dari dalam kamar mandi."
"Gak, cuma—nae mam bolsueopseunika~a~a~a ... uhuk ... uhuk!"
Reiga spontan menutup telinga saat mendengar suara cempreng Saga menirukan nada tinggi dari lagu Gfriend yang ia ketahui berjudul Time For The Moonight. Jangan salah kira, ia bukan kpoper seperti Saga, hanya saja pemuda itu terus bercerita tentang Sinb—anggota Gfriend—yang cantiknya tak terkira. Oleh karena itu, sedikit-banyak Reiga tahu tentang grup wanita beranggotakan enam gadis cantik itu.
Keluar dari kamar mandi, Saga ikut merebahkan diri di samping Reiga yang sudah berpindah tempat ke kasur, membiarkan telebisi tetap menyala.
"Tumben betah? Biasanya juga gue yang petakilan di kamar lo." Saga bertanya heran.
"Ajarin taekwondo, Sag." Reiga menyampaikan maksudnya.
Saga terkekeh. "Udah gue duga. Emang bang Bay gak mau ngajarin?"
"Apaan yang ngajarin, diajak taruhan iya."
Saga tertawa. "Kapan rencananya mau belajar."
"Sekarang."
"Oke." Saga menyetujui. Demi kontak perempuan-perempuan cantik dari Reiga ia siap latihan kapan pun. Bahkan jika itu malam jum'ata manis. "Gue tunggu di halaman."
Saga berjalan ke arah pintu, lalu membukanya. Tapi baru selangkah keluar kamar, ia kembali ke dalam karena sosok Reiga yang tak kunjung terlihat.
"Ngapain di sana?" Saga kaget melihat Reiga yang hampir melompati balkon, meski sudah biasa bagi mereka.
__ADS_1
"Turunlah, lo bilang latihan di halaman."
Saga hampir saja melempar vas bunga disebelahnya saat melihat cara turun Reiga, bagaimana bisa sahabatnya menjadi bodoh dan konyol di saat bersamaan?
"Turun pakai cara yang manusiawi dikitlah," geram Saga. "Tangga rumah gue buat apa hah?!"
Reiga menyengir, lalu berjakan melewati Saga dengan santai.
"Ngapain masih bengong?" Reiga menunggu.
"Ini kenapa gue berasa bodoh banget?" Saga menghela napas pasrah.
Reiga tidak peduli, lanjut turun dan bersiap di halaman. Sekarang tujuannya adalah mengalahkan Aurora.
---🌟🌟🌟🌟🌟---
Siswa kelas XI-5 terpaksa mengungsi keluar kelas karena kedatangan Bintang serta Reiga secara mendadak. Membuat seisi kelas berteriak gaduh karena drama dadakan yang akan mereka mainkan dan tentu Aurora menjadi pemeran wanita utama. Tapi teriakan gemas dan tawa itu harus terhenti saat suara Reiga menginterupsi agar mereka semua keluar, menyisakan dua orang pemuda serta satu gadis di dalam sana.
"Sampai gue kena omel pak Sugeng gara-gara belum selesai nugas,gue tendang lo berdua ke pluto!" Udin yang berseru tidak terima sambil membawa buku ke luar kelas, melanjutkan tugas.
Sementara di dalam masih belum ada pergerakan apapun dari Reiga, Bintang maupun Aurora. Di luar justru berisik dengan bisik-bisik siswa yang memaksa melihat dari balik jendela, takut ada kejadian yang iya-iya.
"Aurora mau ditembak kali." Rheina menceletuk ringan.
"Bisa jadi, bisa jadi. Tapi cewek galak kayak macan gitu, gue gak yakin." Arya menyengir tak berdosa.
"Tapi kalau cowoknya kayak kak Bintang sama Reiga, gue terima dua-duanya." Yuri tersenyum penuh arti, mengimajinasikan jika ia yang duduk di tempat Aurora.
"Maruk amat jadi cewek!" Edo mendengus.
"HELLO EVERYBODY! PRINCESS SELLENA DATANG!" Sellena berteriak di tengah kerumunan, membuat setengah kelas terlonjak kaget sambil mengelus dada.
"Astaghfirullah." Akhirnya Udin beristighfar. "Monyet lo, kecoretkan." Lantas mengumpat sambil mencari correction pen di kotak pensil Maemunah.
Sellena mendekati Udin dan mencabut bulu tangan pemuda itu.
"Akh, lo kenapa sih, Sel? Pagi-pagi bikin emosi!" Udin mengusap lengannya. Untuk yang belum pernah tahu rasanya, ini sangat sakit.
"Tobat mah tobat aja, gak usah maksiat," kesal Sellena.
Detik berikutnya gadis itu melangkah mendekati kelas, belum tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana. Namun belum sempat langkah kedua tercipta, Udin menahan tangan gadis itu.
"Gak boleh masuk, ada garis polisi." Udin memperingati.
"Hah?" Sellena mengalikhan pandang, memperhatikan di mana letak garis polisi yang dimaksud Udin. "Mana Din? Gak ada tuh."
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang beriman yang bisa melihatnya."
"Udin!" Sellena berseru jengkel. "Ini apa masih pegang-pegang? Modus lo ya!"
Udin lekas melepaskan cekalan tangganya dan melanjutkan menulis. "Rabies gue lama-lam megang lo! Mending sama si Maemun, ye gak Mae!"
Maemunah yang ikut berdiri di dekat jendela mendecak malas. Sudah biasa menjadi bahan gombalan tidak bermutu Udin. "Ya in aja, biar cepet," balas gadis itu.
"Ada apa sih di dalem? Kok pada keluar semua?" Sellena bertanya bingung.
"Lo gak liat tadi waktu jalan? Ngintip dari jendela gitu?" Alih-alih menjawab, Udin bertanya balik tanpa mengalikan fokus.
"Enggak, gak keliatan."
"Dasar pendek!"
"Udin mau gue cabut lagi bulu lo?! Tinggal jawab aja susuh amat!" Sellena menjawab jengkel. Emosinya sudah diuji sepagi ini.
"Reiga, Bintang sama Aurora di dalem. Masing-masing bawa susu pisang sama susu stroberi, lo pikir apa yang bakal terjadi?" Udah memberitahu, meninggalkan sedikit teka-teki yang membuat Sellena mengerutkan kening.
"Jangan-jangan ...." Prasangka baru muncul di otak Sellena. "Mereka mau nembak Aurora?!" tebaknya girang.
Udin mengangkat bahu tak acuh. Melanjutkan tugas dari Pak Sugeng karena ia tidak mau pria tua itu berubah menjadi malaikat mautnya pagi ini.
__ADS_1
Sedangkan Sellena memilih bergabung dengan para gadis lain, membentuk deretan sepanjang kaca kelas XI-5. Dan dari sana ia bisa melihat Aurora duduk berhadapan dengan Bintang serta Reiga. Jangan lupakan sekotak susu pisang dan sekotak susu stroberi di tengah meja. Dua pemuda itu benar-benar kehilangan akal, itu menurut Sellena.