Dear AURORA

Dear AURORA
3 : Fight with Him Again


__ADS_3

Pagi ini keadaan kelas  XI-5 bisa dibilang jauh dari kata tenang layaknya sebuah kelas, justru lebih cocok disebut pasar malam. Tiga puluh menit tanpa guru membuat penghuninya bersuka cita, merayakan dengan segala aktivitas yang mereka suka. Seperti di pojok dekat lemari, tiga orang siswa duduk melingkar dengan ponsel di tangan—bermain game online.


"Woi, kampret dah ni orang! Gak bisa main belagak banget, gue yang kena serang terus!" Doni di sudut kelas berteriak kesal saat hero mobile legend-nya diserang berkali-kali.


"Diem, Don! Jangan teriak-teriak! Gue gak fokus nyerangnya!" Edo menyahut dengan suara tak kalah lantang.


"Lo juga teriak monyet!" Udin balas mengolok, lalu kembali mengumpati lawan mainnya.


"Sesama monyet gak usah teriak monyet!"


Itu  Sellena yang berteriak. Suasana kelas  kali ini tidak cocok dengan  dirinya  yang dalam periode  menstruasi, hari pertama.


"Dasar nenek lampir! Sewot mulu!" Edo balas mengejek, tak terima dikatai monyet dua kali.


Sellena ingin membalas dengan olokan lain. Sungguh, hari pertama menstruasi membuatnya menjadi sangat sensitif. Ingin marah dan memakan orang yang menganggunya.


Namun, baru saja mulut Sellena terbuka hendak membalas, elusan tangan Aurora di punggung membuatnya urung. Mengembuskan napas dalam dan berakhir menyangga kepala pada tangan yang diluruskan di atas meja.


Sabar Sellena. Orang sabar disayang bias gumamnya dalam hati.


"Ra," panggil Sellena.


Aurora berdehem sebagai tanggapan.


"Lo tau gak soal rencana  pembukaan HUT sekolah tahun ini? Katanya ada perkemahan."


Aurora tidak bergeming, masih asyik dengan ponselnya.


Sellena mendengus kesal. Meraih  ponsel Aurora dengan tangan kirinya  yang bebas.  "Ra, gue lagi ngomong. Fokusnya ke gue dong jangan ke yang lain," kesalnya.


"Iya-iya, Sel. Lo ngomong apa? HUT sekolah? Perkemahan? Gue belum tau informasinya." Aurora menjawab sekaligus.


"Katanya per kelas  harus ada perwakilan panitia buat setiap acara," jelas Sellena.


"Terus?" tanya Aurora tidak mengerti.


Sellena nyengir lebar. "Ya gak papa. Cuma ngasih tau."


Aurora hampir memukul kepala Sellena saking kesalnya. Informasi tidak berguna seperti itu apa untungnya baginya. Tapi sebelum niat gadis itu terlaksana, suara lain mengintrupsi kegiatannya. Ralat, seluruh kelas bahkan kocar-kacir ke tempat duduk masing-masing.


"Bagus, saya  tinggal sebentar kelas ini sudah beralih fungsi jadi pasar ya." Bu Fitri berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam mengintimidasi. Intonasi suaranya tenang mengerikan. Sampul buku dalam genggamannya terlihat sedikit kusut.


Seluruh kelas menenguk ludah kasar, ada yang menunduk dalam dan ada  yang berakting membuka buku agar selamat dari amukan.


Bu Fitri melangkah masuk. Ketukan hak sepatunya pada lantai bagai lonceng kematian yang berbunyi mengerikan. Perlu dicatat, guru ini memliki tempramen yang jelek sekali. Seperti menstruasi setiap hari, selalu buruk suasana hatinya.


"Seharusnya kalau ada jam kosong seperti ini kalian gunakan untuk belajar menyiapkan masa  depan agar tidak suram seperti Udin." Bu Fitri memulai ceramah


Udin  menepuk dahi, menggerutu kesal dalam hati. Kenapa pula Bu Fitri mengaitkan masa depan suram dengan dirinya? Para guru sekolah ini seperti punya dendam masa lalu saja dengannya.


"Sekarang pelajaran apa?" tanya Bu Fitri.


"Ekonomi, Bu." Mereka menjawab serentak.


"Artinya keluarkan buku kalian. SEKARANG JUGA!"


Seluruh murid bergegas mengeluarkan buku dan alat tulis. Membukannya pada halaman terakhir yang dibahas sehari lalu, tenaga kerja. Lantas kembali memusatkan perhatian pada  Bu Fitri di depan kelas.


"UDIN! BUKU APA YANG KAMU KELURKAN, HAH?" Bu Fitri  berteriak marah saat melihat lembar buku paket Udin yang berbeda.


Sellena dan Aurora yang tepat berada di depan Udin menoleh ke belakang. Menatap Udin dengan tatapan prihatin sekalius kasihan.


"Selamat tinggal, Udin," ujar Aurora lirih.


Sellena malah tersenyum lebar. "Bye Udin, selamat bersenang-senang di toilet timur."


Udin mendengus kesal. Lalu mencicit pelan, "Bahasa Indonesia, Bu."


Dan seperti yang dikatakan Aurora dan Sellena, Udin berakhir di toilet timur yang terkenal sangat bau sekaligus kotor. Maklum saja, toilet itu jarang sekali dikunjungi oleh siswa karena letaknya yang terpencil dan rumor bahwa sempat terjadi tragedi seram di sana.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


"Gila! Sejam di toilet timur udah kayak di penjara bayangan di bawah bayangan selama dua ribu tahun. Udah kayak si tanpa makhkota aja gue." Udin datang dengan wajah melas dan kumal. Peluh membanjiri pelipisnya dan sedikit bau yang menguar dari baju—efek terlalu lama di toilet timur.


"Udin! Minuman gue!" Aurora memekik tidak terima. Memukul punggung tangan Udin lantas mengambil kembali gelas berisi es hijau miliknya.

__ADS_1


Udin mendengus kesal. "Minta dikit Ra. Lo biasanya juga  minta minum gue."


"Oh, pamrih ya ngasihnya?"


Udin nyengir, membentuk tanda peace dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Enggak, Ra. Bercanda."


"Ra, uda gue pesenin. Tapi sotonya ngantri, jadi lo ambil sendiri ya, gue  keburu laper." Sellena datang dengan semangkuk nasi kuning dan segelas es  jeruk, mengambil duduk di sebelah Aurpra.


Aurora mengacungkan jempolya. "Oke."


"Gue gak dipeseninin?" tanya Udin dengan wajah memelas.


"Ogah." Sellena menjawab singkat. Sibuk dengan makan siangnya.


"Ra." Udin beralih pada Aurora.


"Gue pesenin tapi ambil sendiri. Gue gak mau nunggu antrian sepanjang itu."


"Sip. Gue traktir deh sebagai gantinya."


"Gue enggak?" Sellena menghentikan kunyahan.


"Ogah." Udin mengembalikan kata milik Sellena.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Setelah mengambil pesanan, Aurora berjalan kembali ke meja yang di tempati oleh Udin dan Sellena. Namun, setelah melihat kembali dengan seksama, penghuni bangku itu sudah bertambah dua lagi—Edo dan Doni.


Dari jarak sejauh ini, Aurora masih bisa mendengar tawa Sellena, Edo, dan Doni yang menggelegar saat Udin menceritakan cerita-cerita lucu. Padahal hanya berempat saja, tapi tawa mereka seperti mengumpulkan orang se-stadion Gelora Bung Karno. Beberapa siswa di kantin bahkan melihat dengan tatapan sinis, tapi ada juga yang ikut tertawa meski tidak tahu apa yang harus ditertawakan.


Karena terus sibuk memperhatikan empat sekawan dan tawa  menggelegarnya, Aurora sampai tak sadar jika ada pemuda lain yang berlari kecil berlawanan arah dengannya sambil memainkan ponsel.


BRUKK


Seketika, Aurora merasakan kuah panas soto menjalar di tangan, perut dan sebagian roknya. Aurora hampir berteriak karena sotonya yang tumpah begitu saja, namun teriakkan itu kembali ditelan oleh Aurora saat mengetahui orang yang menabraknya. Rasa kesal langsung mengambil alih,  mengalahkan panas di beberapa bagian yang terkena kuah soto.


"LO!" Aurora menunjuk laki-laki di depannya  dengan mata mendelik tajam. "GAK PUNYA MATA?! JALAN, YA JALAN AJA! GAK USAH MAIN HP!"


"LO JUGA KALAU JALAN FOKUS, NGAPAIN SENYUM-SENYUM SENDIRI?! TERPESONA SAMA KEGANTENGAN GUE?!"


Udin menggaruk tengkuk dan pipi kirinya. Kenapa orang-orang di sekitarnya  suka sekali mengaitkan namanya dengan hal-hal yang tidak ia mengerti. Walau sejujurnya ia sedikit senang saat menerima pujian tak langsung Aurora.


"MATA LO KATARAK?!" Reiga menyahut jengkel.


"LO YANG KATARAK!"


"LO TUH YA! CEWEK TAPI BAR-BAR! SINGA LEPAS SAMA LO JUGA TAKUT KALI!"


"KALAU GUE SINGA LEPAS, LO APA?! BUAYA LEPAS?!" Aurora menggeram. Enak saja ia dikatai singa lepas oleh Reiga.


"BERANI-BERANINYA LO NGATAIN GUE!"


"APA?! GAK TERIMA?! SINI MAJU, KITA BAKU HANTAM!" Aurora menantang. Menggulung lengan bajunya hingga bahu.


"WAH GAK ADA TAKUT-TAKUTNYA, UNTUNG LO CEWEK, KALAU GAK—"


"KALAU GAK APA?" Aurora memotong ucapan Reiga. Maju lebih dulu, siap menjegal kaki Reiga.


Gagal.


Aurora terkejut, tak percaya Reiga berhasil  menghindar dari serangannya. Padahal sewaktu di lapangan indoor cara ini ampuh untuk membuat pemuda  itu diam.


"DASAR SINGA LEPAS! CEWEK BAR-BAR! TRIK YANG SAMA GAK BERLAKU BUAT REIGA PUTRA!" Suara Reiga terdengar angkuh dan sombong. Mengejek Aurora yang masih termenung setelah dua puluh detik.


Aurora menyeringai, menurunkan intonasi suara namun tetap terdengar tajam. "Oh ya?"


Setelah jawaban singkat itu, Reiga  merasakan sesuatu memukul punggungnya—Aurora menendangnya. Membuat Reiga mengerang sakit dengan badan telungkup di lantai kantin yang basah karena kuah soto.


Dan seperti kejadian tempo hari, Aurora kembali mengunci tangan kanan Reiga, menekan tubuh pemuda itu ke lantai dengan lututnya.


"ASTAGA! REIGA!" pekik Saga dari pinggiran.


Tak ada satu pun dari mereka  berani melerai. Satu langkah dari posisi Reiga saja Aurora sudah mendelik tajam,  memperingatkan. Sebagian lain justru merasa senang, terutama kaum adam. Kapan lagi mereka melihat international playboy seperti Reiga kalah oleh seorang perempuan. Sangat menyenangkan melihat harga diri Reiga jatuh bebas.


"DASAR KELINCI GILA! PLAYBOY CAP GAJAH BERDIRI! TENGIK! BANCI!" Aurora semakin menekan lututnya, menghasilkan erangan yang lebih keras dari Reiga.

__ADS_1


"Ra! lepasin Reiga, Ra! Lo kok mau sih nganter playboy itu ke  ajalnya dua  kali!" Saga berteriak lagi, maju selangkah. Lantas mundur teratur ke  tempatnya semula karena tatapan tajam Aurora.


Reiga mendengus  dalam hati. Hendak berterima kasih, tapi juga marah pada Saga. Pemuda  itu, berniat menolongnya atau malah mengoloknya? Apa ini yang namanya paket two in one? Menolong sekaligus mengolok.


Dalam kuncian Aurora, Reiga mencoba melakukan perlawanan. Tangan kiri pemuda itu menarik rambut Aurora yang terjuntai di sisinya kuat-kuat. Singkatnya, pemuda itu menjambak Aurora.


 


"BANCI!" Aurora mengerang kesakitan. Reiga tidak main-main dengan tarikannya.


"Din, bantuin temen gue. Pisahin mereka!" Saga beralih pada Udin yang berdiri tepat di sampingnya.


"Biarin aja, seru" Udin menjawab tak peduli.


"Seru pala lo?! Tulang temen gue keburu patah!"


"Woi! Lo berdua cepet pisahin! Rambut temen gue kasihan!" Sellena berseru panik. "Ga! Cewek apa cowok lo beraninya jambak-jambakan!"


Reiga tak menggubris. Peduli setan tentang laki-laki atau perempuan. Keselamatannya jelas jauh lebih penting.


Udin dan Saga saling dorong, mendelik satu sama lain, seolah mengode  untuk maju lebih dulu.


"Ra, lepasin Reiga."


Entah darimana Bintang tahu, pemuda itu datang menyeruak dan langsung mendekati Aurora tanpa ragu. Memegang pundak gadis itu yang menengang karena amarah.


"Gak! Sampai dia mau minta maaf dan ganti soto gue!" Aurora menurunkan intonasi suaranya, namun tetap penuh penekanan.


"Reiga." Bintang beralih pada pemuda dalam kuncian Aurora.


Reiga tersengal. Susah  payah menoleh ke samping. "Gak bakal! Sampai dia lepasin kunciannya."


Bintang memijat pangkal hidung. Dua remaja di hadapannya sama-sama keras kepala. "Kalau gitu lo lepasin dulu, Ra. Udah mau mati kehabisan napas si Reiga-nya." Bintang berucap ringan.


Sekali lagi, kenapa semua orang suka sekali mengejek Reiga saat dalam kuasa Aurora.


Aurora menggeleng tegas. "Gak bakalan!"


Sejenak lenggang. Lebih banyak yang kagum pada  keberanian Bintang mendekati mereka dan Aurora yang tampak luluh meski tetap tak melepas Reiga.


"Lepasin Reiga, Ra!" Bintang berkata tegas.


Aurora tetap kukuh pada pendiriannya.


"Lepasin Reiga, Ra! Ya ampun, gue belum siap kehilangan sahabat sehidup tak semati gue." Saga ikut membujuk. "Rambut bagus lo juga kasihan, Ra! Tangan Reiga,kan, setan semua  isinya!" tambah pemuda itu.


Kali ini Reiga serius akan membunuh Saga dan mulut sialannya itu.


"Lo mau ngotorin nama ekskul kita sama  kelakuan childish lo, Ra?!" Bintang bertanya, lebih ke sebuah pernyataan tegas sebenarnya. "Ini bukan sikap dan sifat petarung taekwondo, Ra! Kita gak boleh gampang emosi atau lawan bakal cepet tau kelemahan kita." Bintang menasehati.


Reiga merasakan bahwa kuncian Aurora sedikit mengendur, tekanan pada punggungnya pun turut serta.


Bintang mengusap wajahnya. "Sekali lagi gue minta buat lepasin Reiga!"


Aurora tak bergeming.


"Rona Aurora—"


Kuncian pada tubuh Reiga lepas sesaat sebelum Bintang selesai memanggil nama lengkap gadis itu.


"Gue lepasin lo demi nama taekwondo!" Aurora berkata tajam, menatap tak suka pemuda yang telentang di bawahnya—berusaha menghirup udara sebanyak mungkin. "Sebagai gantinya, setuju gak setuju, lo gue tunggu di ruang taekwondo sebulan dari sekarang! Kita tanding satu lawan satu!"


Reiga tak terlalu memperhatikan. Mengangguk menanggapi ucapan Aurora tanpa memikirkan akibatnya. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah udara, udara dan udara.


Saga mendekat, membantu Reiga berdiri. "Gue  pastiin lo beneran  mati sebulan dari sekarang!"


"Lo seneng banget liat gue megap-megap kehabisan napas kayak tadi? Pakai  acara ngedoain gue mati segala." Reiga berucap sebal lantas pergi begitu saja.


"Lo budek apa gimana?! Gue yang paling kenceng teriak biar Aurora lepasin lo!"


"Cewek apa cowok beraninya cuma teriak," sindir Reiga.


Saga mencak-mencak di tempat. "Yang tadi tengkarnya kayak cewek siapa? Main jambak-jambakan beraninya!"


Reiga tak menggubris, tetap berjalan santai. Melambaikan tangan ke  arah Saga hingga hilang di belokan.

__ADS_1


---🌟🌟🌟🌟🌟---


__ADS_2