Dear AURORA

Dear AURORA
Hari Perlombaan Aurora 2


__ADS_3

Penampilan antar sekolah semakin sengit, Dan semakin bagus pertunjukan alat musik yang mereka mainkan, Sekarang tinggal perwakilan sekolah SMA AKSARA lah yang akan tampil.


"untuk peserta dengan nomor 243, Perwakilan dari SMA AKSARA. Mari kita sambut AURORA ATLANTA" Ucap pembawa acara dalam perlombaan tersebut.


Seruk priuk ramainya yang mendukung Aurora dari sekolahnya, Tapi tetap saja Aurora menatap bangku kosong yang paling terdepan, Dimana harusnya Lina hadir melihat pentas seni Aurora memainkan musik.


"AURORA,, AURORA" Suara dukungan terus menyeru menyebut nama Aurora dengan membawa baliho yang mereka buat sendiri, Melihat banyaknya dukungan padanya, Aurora hanya menampilkan senyuman yang tipis.


"Baik, Untuk Aurora. Kamu mau membawakan lagu apa, Untuk perwakilan dari Sekolah kamu" Tanya Pembawa acara.


"Kamu dan kenangan" Jawab Aurora datar, Yang langsung di angguki pembawa acara.


"Baik, Mari kita saksikan penampilan dari Aurora Atlanta. perwakilan SMA AKSARA, Yang akan memainkan piano dan membawakan lagu yang berjudul, Kamu dan kenangan" Ucap Pembawa acara, Lalu di sambut dengan riahnya tepuk tangan dari semua orang.


Aurora langsung duduk di kursi pianonya, Sebelum memainkannya Aurora menghela nafas terlebih dahulu, Untuk menetralkan degup jantungnya yang tak karuan.


Aurora memejamkan matanya, Dan jarinya dengan lihai memainkan alat musik itu.


*Seusai itu senja jadi sendu awan pun mengabu*


*Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku*


'*Ku meminta rindu menyesali waktu mengapa dahulu*


*Tak ku ucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari*


**Walau masih bisa senyum**


**Namun tak selepas dulu**


**Kini aku kesepian**


*Kamu dan segala kenangan*


*Menyatu dalam waktu yang berjalan*


**Dan aku kini sendirian**


*Menatap dirimu hanya bayangan*


**Tak ada yang lebih pedih**


***Daripada kehilangan dirimu***


***Cintaku tak mungkin beralih***


***Sampai mati hanya cinta padamu** (padamu*)


*Ho-o-o-o-oh* ...


Walau masih bisa senyum


Namun tak selepas dulu


Kini aku kesepian


*Kamu dan segala kenangan (kenangan*)

__ADS_1


*Menyatu dalam waktu yang berjalan (berjalan*)


Dan aku kini sendirian


*Menatap dirimu hanya bayangan hanya bayangan*


*O-o-oh* ...


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu


Tak ada yang lebih pedih


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu


'*Ku mencintaimu (mencintaimu*)


*Kamu (kamu) dan kenangan*



Aurora bernyanyi dengan memejamkan matanya, Sampai tak terasa air matanya mengalir begitu deras, Mengingat dimana adiknya Mira. Yang telah meninggalkan terlebih dahulu, Dan sekarang keadaan ibunya yang sedang kritis. Membuat Aurora sangat meresapi nyanyiannya yang sangat bertepatan dengan Kehidupannya.


Seolah merasakan kepedihan hidup yang Aurora jalani.


"Sebegitu sakitnya kah, kamu Aurora?" Batin Ares, Yang menatap sendu Aurora.


"Maafin aku ra" Batin Livy, Yang sudah menangis dari awal Aurora bernyanyi.


"Kok gua jadi pengen nangis sih, Lagunya dalam banget deh. Sampe gua gak bisa nahan air mata" Gumam Alex, Dengan mengusap air matanya yang mengalir.


"Dasar lemah, Cowok kok cengeng" Ledek Alkan pada Alex , Dengan sama-sama mengusap air matanya yang mengalir.


Di kursi paling kanan, Daren melihat pertunjukan Aurora yang bernyanyi dengan penuh emosi. Membuat hatinya tersayat sakit, Mendengar suara anaknya yang selama ini selalu ia abaikan.


Daren menangis dengan menatap Aurora sendu.


"Begitu dalamnya luka yang kamu alami Ra, Maafin papah yang selama ini selalu abaikan kamu" Lirih Daren, Dengan menundukkan kepalanya.


Setelah selesai bernyanyi, Begitu meriahnya tepuk tangan yang Aurora dapatkan. Sampai para juri pun berdiri untuk bertepuk tangan pada Aurora.


***


Setelah seluruh sekolah selesai mementaskan seninya, Para juri pun langsung menilai SMA mana yang akan masuk ke dalam grand final.


Ternyata sekolah Aurora masuk ke gran final, Seluruh siswa dan guru dari SMA AKSARA, Sangat bangga pada Aurora yang telah mencapai babak grand final.


Livy langsung berlari ke arah Aurora dengan memeluk tubuh Aurora.


"Ra kamu hebat, Aku bangga sama kamu. Ternyata pilihan pak Seno gak salah, Buat pilih kamu sebagai perwakilan dari sekolah kita, Selamat yah" Ucap Livy, Yang masih memeluk Aurora.

__ADS_1


"Makasih" Jawab Aurora datar, Lalu melepaskan pelukan Livy dari tubuhnya.


"Kita rayakan yuk, Kemenangan kamu. Di cafe sepupu aku" Ajak Livy.


"Gak bisa!" Ketus Aurora


"Kenapa Ra, Kamu jangan gitu dong" Ucap Livy, dengan memegang tangan Aurora.


Aurora langsung menepis tangan Livy, Dan menatap Livy tajam.


"Saya ada urusan!" Jawab Aurora, Dengan berlalu pergi. Menghindar dari keramaian.


Saat Aurora sedang berdiam diri dengan terus mengecek ponselnya, Tiba-tiba saja Daren datang dan memanggil Aurora.


"Aurora" Panggil Daren, dengan menepuk bahu belakang Aurora.


Aurora langsung berbalik menghadap Daren, Dan tiba-tiba saja Daren langsung memeluk tubuh Aurora dengan menangis.


"Aurora, Kamu hebat nak. Papah bangga sama kamu, Maafin semua kesalahan papah yah nak, Kamu mau kan memaafkan papah" Ucap Daren, Dengan melepas pelukannya dari Aurora.


Lalu menatap Aurora sendu, Dengan tersenyum haru.


Aurora hanya diam, Tidak menjawab permintaan maaf dari Daren. Sampai beberapa saat, Ponsel Aurora berdering yang ternyata dari suster Dita.


Aurora langsung pergi dari hadapan Daren, Untuk menjawab telpon dari suster Dita.


[ Halo Aurora ]


Ucap suster Dita ,Di sebrang telepon yang terdengar begitu khawatir.


[ Ya, Ada apa suster Dita?, Gimana keadaan mamah sekarang? ]


[ Apa kamu masih lama?, Ibu kamu sekarang sedang kritis ]


Mendengar jawaban dari suster Dita, Membuat jantung Aurora berdegup kencang karna khawatir dengan kondisi ibunya. Aurora langsung mematikan sambungan telponnya sepihak lalu pergi menuju rumah sakit.


Melihat kepergian Aurora yang begitu tergesa-gesa, Daren pun bertanya pada Aurora.


"Ara, Ada apa?" Tanya Daren, Yang melihat Aurora sudah menangis.


"Tolong, Tolong bantu saya" Lirih Aurora dengan terus menangis.


"Ada apa Ra, Coba kamu katakan sama papah" Ucap Daren, Yang ikut khawatir melihat Aurora menangis begitu hebatnya.


"Mamah, Mamah kritis" Ucap Aurora, Yang langsung membuat Daren tersentak kaget.


"Kita pergi ke rumah sakit sekarang, Papah antar" Ucap Daren, Dengan menarik Aurora menuju parkiran.


***


Setelah setengah jam perjalanan, Aurora langsung berlari menuju rumah sakit. Dan menghampiri suster Dita, Yang dari tadi bertugas menjaga ibunya.


Mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa, Suster Dita langsung menoleh ke kanan. Ternyata Aurora sudah datang.


"Mamah?" Tanya Aurora dengan suara parau, Karna sedari tadi menangis.


"Kamu harus sabar dan kuat ya Aurora, Sekarang mamah kamu belum sadarkan diri, Karna pertumbuhan sel kanker yang ada di otaknya semakin agresif dan sudah berada di tingkat stadium akhir. Dokter Ferdi tadi mengatakan, Jika kangker yang di derita pasien sudah mencapai stadium akhir, Kecil kemungkinan untuk pasien selamat" Jelas suster Dita, Yang langsung membuat tubuh Aurora merosot ke bawah dengan menutup mulutnya tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2