Dear AURORA

Dear AURORA
8 : Mimpi Buruk Tentang Reiga


__ADS_3

Aurora membaringkan tubuh di atas ranjang. Kembali memikirkan kejadian saat pulang sekolah tadi. Apalagi saat Bu Mirna bertanya apakah Reiga yang mengantarnya pulang. Karena menurut informasi yang ia dapat dari sang mama, wanita paruh baya itu meminta Reiga mengantar anak gadisnya pulang. Lantas, kenapa Reiga berbohong dengan mengatakan bahwa Bu Mirna tidak menyuruhnya?


Aurora mengacak rambutnya frustasi. "Tau ah, ngapain jadi mikirin playboy macam dia? Gak guna banget."


Ting


Notifikasi pesan dari ponsel di meja belajar mengalihkan perhatian Aurora, membuat gadis itu mau tak mau beranjak dari kasur untuk mengambil ponselnya sedang diisi daya.


Aurora mengerutkan dahi saat nomor tak dikenal yang terpampang di papan notifikasi. Rasanya ia belum membagikan kontak pada siapapun atau jangan-jangan ada sahabatnya yang berganti nomor?


"Siapa?" gumamnya bingung, kemudian membuka room chat itu karena penasaran.


+6285850718818


|Anggap aja kita impas


|Lo nakut-nakutin gue, gue ninggalin lo


|Lo bantu gue berdiri, gue bantu lo bantu pesen ojol


Lagi-lagi dahi Aurora berkerut saat mendapati pesan yang seperti tak asing di ingatannya. Cepat-cepat ia membuka info kontak dan mendapati nama Reiga Putra sebagai nama penggunanya. Rasa kesal akan kejadian tadi siang kembali muncul, membuat Aurora menggerutu sambil membalas pesan.


Anda


|DAPET NOMOR GUE DARI MANA LO KELINCI GILA?!


|Apanya yang impas? Lo bohongin gue dengan bilang kalau mama gak nyuruh lo jemput gue


Lima menit menunggu, balasan dari Reiga di terima Aurora.


+6285850718818


|Lo juga bohongin gue soal video sama foto


|lagian udah gue bayarin juga ojolnya


|**** dipelihara ya gini, KITA SEGRUP SINGA


Aurora menepuk dahinya pelan. Ia lupa masalah grup kepanitiaan itu, tentu saja nomornya tergabung di sana dan tanpa kesulitan Reiga bisa menghubunginya kapan saja.


Anda


|Lo pikir gue gak bisa bayar sendiri?! Sorry ya, gue bisa balikin ongkos yang tadi


|butuh kaca?


+6285850718818


|gak usah, hitung-hitung sedekah buat kaum yang membutuhkan


|udah ngaca dan kacanya bilang gue ganteng


Anda


|MINTA GUE GAMPAR LO?!


|CIH, PD GILA


+6285850718818


|capslock jebol, sakit mata gue bacanya


Anda


|BODO AMAT


+6285850718818


|save nomor gue Ra


|Reiga cowok paling ganteng


Anda


|Dih, najis. Hp gue gak bisa nyimpen nomor playboy


+6285850718818


|padahal kontak lo dah gue save Ra


|bagus lagi namanya


|send a picture


๏ฟผ


Anda


|Reiga *****, hapus gak kontak gue


+6285850718818


|males ra


|udah gue ngantuk, mau bobo


|good night singa, jangan kangen pangeran


Aurora tidak membalas pesan terakhir Reiga. Membacanya sekilas lalu segera keluar dari ruang percakapan tersebut dengan rasa kesal.


Pikiran-pikiran aneh mulai menyeruak dalam otaknya. Alasan kenapa Reiga mau repot-repot mengiriminya pesan? Meskipun isinya membuat darah tinggi, tapi akan aneh ceritanya jika Reiga menghubunginya, apalagi fakta mengatakan jika mereka berdua itu selalu bertengkar setiap kali bertemu.

__ADS_1


Memikirkan alasan-alasan yang masuk akal tentang kejadian hari ini membuat Aurora menguap besar. Rasa kantuk mendera hingga tanpa sadar ia menjatukan ponsel dan segera terlelap. Terbuai dalam alam mimpi yang besok pagi justru membuatnya bingung setengah mati.


---๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ---


Aurora tiba saat sekolah sudah ramai dengan aktivitasnya. Beberapa siswa duduk di bangku atau lesehan di lantai dengan buku dihadapannyaโ€”sedang memgerjakan tugas. Beberapa lain duduk saling mengobrol lalu tertawa, bergosip mungkin.


"Hei, Ra." Sellena tersenyum. Ia sudah datang, duduk dibangkunya sambil mengerjakan tugas.


"Hai, Sel." Aurora balas tersenyum. "Ngerjain apa?"


"Matematika," jawab singkat. "Duh, gue lupa kalau ada pelajaran matematika hari ini, untung jam terakhir." Sellena menambahi tanpa mengalihkan fokus.


Aurora bergumam 'Oh' panjang lantas duduk di sebelah Sellena. Menelungkupkan wajah diantara tekukan tangan, ia mengatuk sekali setelah semalam terbangun pukul dua malam dengan mimpi aneh yang terasa nyata.


Kepala Aurora menengadah, memperhatikan raut serius Sellena sambil menggigit bibir. Haruskan ia menanyakan hal ini pada Sellena? Tapi ia tidak mau jadi bahan tertawaan sahabatnya itu. Lantas ia harus bagaimana? Bertanya pada Pak Amir? Guru agama itu juga pasti akan meledeknya.


Setelah meyakinkan diri, Aurora akhirnya bertanya dengan kepala di meja. "Sel, kalau kita mimpi dilamar ... tandanya kenapa ya?"


Sellena menggeleng, lanjut mengerjakan. "Gak tau Ra, gue bukan ahli tafsir mimpi. Kalau lo tanya drakor gue jawab runtut, dari yang sebelum gue lahir sampai yang baru keluar."


Aurora mendengus. Padahal ia bertanya serius, tapi jawaban kelewat santai itu terdengar menyebalkan di telinganya.


"Kenapa emang?" Sellena memasukkan buku matematikannya ke dalam laci, memanggil Rivana di samping agar menyalurkan buku tugas Gilang agar kembali ke pemiliknya. Lantas menggantinya dengan buku biologiโ€”pelajaran jam pertama.


Aurora menggeleng. "Nanti aja, Sel, Pak Sugeng udah di depan kelas. Gue gak mau kena sembur gara-gara ngrobrol."


Sellena mengangguk. Tak membahas lebih lanjut, segera membuka buku sesuai halaman yang disebut Pak Sugeng dan pelajaran pun dimulai. Meninggalkan Aurora dan segala pemikiran yang menyerang otak hingga membuatnya frustasi.


---๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ--


Seperti biasa keadaan kantin ricuh sekali pada saat jam istirahat pertama. Teriakan kelaparan dan haus jelas memenuhi tiap sudut tempat itu. Bangku-bangku penuh, antrian panjang dan udara panas benar-benar membuat penghuninya berubah menjadi monster.


Sellena dan Aurora yang baru saja tiba harus rela mengungsi ke gazebo di samping kanan kantin agar bisa tetap menikmati makan siang mereka. Duduk bersimpuh dan segera melahap soto pesanan mereka.


"Eh, Ra, lo tadi pagi mau cerita apa?" Sellena bertanya setelah menelan makanannya. Menatap Aurora lamat-lamat sebelum menyendok makanannya.


"Gue mimpi aneh semalem." Aurora menjeda kalimatnya, meminum air mineral. "Gue ngimpi dilamar sama si playboy gila itu."


"Hah?!" Sellena mengakat kepala. Matanya melotot tidak percaya pun mulutnya yang terbuka setengah. "Reiga? Lo gak bercanda, kan?" Lantas detik berikutnya Sellena terbahak.


Aurora mendecak kesal. "Ketawa aja sampai puas!"


"Lo mikirin dia terus kali?"


"Idih, gabut banget gue mikirin daki kuda kayak dia." Aurora mengelak. "Tapi semalem dia chat gue."


"Bisa jadi karena itu. Lo kesenangan di chat orang ganteng sampai dibawa mimpi." Sellena mengemukakan pendapat dan dibalas pukulan keras di paha oleh Aurora.


Sellena mencebik, mengusap kasar pahanya yang sedikit panas dan gatal. "Santai, Ra. Paha gue bukan samsak," keluhnya. "Eh, tapi lo seneng gak waktu Reiga ngelamar?" tanya Sellena sambil menyenggol lengan sahabatnya.


Aurora melotot, kuah soto di sendok tumpah sedikit ke roknya. Mulut gadis itu terbuka, hendak menjawab tidak, namun Sellena memotong dengan kalimat selanjutnya.


"Maksud gue waktu di mimpi, lo seneng gak?"


"Kode dari Tuhan supaya lo gak benci-benci amat sama dia kali. Tapi kalau beneran lo lamaran sama dia, gue bakal ketawa paling keceng."


"Heh, amit-amit dah mimpi gue jadi kenyataan," sungut Aurora. Bencana besar jika ia benar menjalin hubungan dengan Reiga di masa depan.


"Nah, pas banget orangnya muncul." Sellena menujuk ke arah kiri. Di sana, Reiga berdiri bersisian dengan Wulan sambil bergandengan tangan. Sesekali melempar candaan lalu tertawa bersama.


"Lah, jangan cemburu Ra." Sellena terkikik saat melihat perubahan raut wajah gadis di sampingnya.


Aurora memukul pelan kepala Sellena menggunakan sendok. "Sembarangan kalau ngomong."


"Gak usah mukul, Ra," protes Sellena. "Tapi muka lo kok asem banget, kayak sayur buatan bunda yang lupa diangetin."


"Biasa aja tuh." Aurora membalas ketus. Tak lagi mau mempermasalahakan dan fokus pada sotonya yang mulai dingin.


Sellena juga melakukan hal yang sama. Terkadang melempar candaan dan membuat keduanya tertawa. Meski satu dua candaan tentang mimpi aneh tadi membuat Aurora bersungut.


---๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ---


Bel pulang baru berbunyi beberapa menit lalu.


Sorakan senang dari kelas-kelas mengudara, menyambut sore dengan suka cita. Beberapa bergegas keluar dengan tas tersampir asal, ada yang mencoba terlihat keren dengan segaja berjalan sambil memakai jaket, sebagian lagi menggerutu karena masih harus piket dan ada tipe siswa yang aneh. Saat jam pulang justru asyik bermain ponsel atau bercanda di kelas dan teras, tidak mau pulang. Padahal saat jam pelajaran berlangsung terus merengek minta pulang pagi.


Berbeda kelas, maka beda juga keadaannya. Kelas XI-5 justru diam tak berkutik di tempat. Hanya helaan napas kecewa karena tak kunjung diberi izin mengakhiri pelajaran oleh guru di depan.


"Bu, waktunya sudah habis!" Udin menyela, menghentikan Bu Saidah yang sedang menulis di depan kelas.


Bagi kelas XI-5 jam pelajaran pertama dan terakhir akan menjadi malapetaka jika yang mengisi Bu Saidah atau Pak Sugeng. Dua guru itu terkenal killer dan tak kenal waktu. Selama pelajaran yang akan mereka sampaikan belum selesai, maka bel pulang pun bukan penghalang untuk melanjutkan.


"Artinya?" Bu Saidah bertanya biasa. Namun, karena kesan galak dan kejam melekat pada guru itu, suara biasa pun terdengar tajam dan mengintimidasi.


Udin susah payah meneguk salivanya, lalu membalas dengan suara mencicit. "Lanjutkan saja Bu, saya mendengarkan dengan baik."


Aduh! Kalimat protes Udin membelok jauh. Kalah dengan aura seram yang seketika menyelimuti kelas saat Bu Saidah bertanya.


"Cemen lo, Din." Edo sebagai teman sebangku Udin mencibir.


Sellena mengangguk menyetujui meski pandangannya tetap ke depan dan Aurora terkikik pelan mendengar gerutuan Udin.


"Emang lo berani?" Udin bertanya menyelidik. Berpura-pura menulis catatan yang diberikan Bu Saidah.


"Pakai ditanya ...." Edo menjeda, lalu menunjukkan cengiran khas. "Ya enggak lah. Cari mati gue kalau berani nyela Bu Saidah," lanjutnya.


Udin hampir memukul Edo jika saja teriakan Bu Saidah tidak menghentikan ulahnya. Tambah satu fakta lagi, dua guru berbeda kelamin itu peka sekali terhadap sekitar. Jangankan suara bisikan murid meminta contekan, mereka bahkan tahu ada murid yang menggunjing mereka meski murid itu berada di kelas berbeda. Sakti memang.


"Itu dua curut belakang kenapa asyik ngobrol sendiri? Mau diam secara sukarela atau saya paksa?!" Bu Saidah berseru tegas.


Udin dan Edo langsung diam mengunci mulut mereka rapat-rapat dan sibuk dengan akting mencatat mereka. Gawat sekali jika Bu Saidah turun tangan untuk mendiamkan mereka, penghapus papan tulis di depan bisa melayang tepat ke mulut.

__ADS_1


---๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ---


Aurora tergesa di lorong sekolah. Menaiki anak tangga dengan langkah tergesa dan segera membuka pintu saat sampai tempat tujuannya. Ruang multimedia.


"Maaf terlambat," ucapnya dengan napas terengah.


Aurora melangkah masuk dan segera duduk berdampingan dengan Bintang setelah mendapat anggukan dari anggota lain, memaklumi keterlambatannya.


Sesaat setelah masuk, Aurora tidak menemukan kesibukan yang berarti diantara para anggota panitia kemah. Angga asyik dengan ponselnya, bertelepon ria dengan sang kekasih sambil sesekali menyebut kata 'sayang' di akhir kalimat, sedikit rasa jijik muncul hingga rasanya Aurora ingin muntah. Ia anti sekali dengan hal-hal manis yang seperti itu.


Surya yang asik dengan video pembelajaran Quipper sambil sesekali mencatat. Bintang sibuk dengan berkas OSIS yang harus ia baca dan revisi. Lalu Reiga, Aurora bingung menyebutnya bagaimana. Pemuda itu justru duduk di pojok belakang bersama Wulan sambil menonton video dari ponsel Reiga. Posisi Wulan yang sangat dekat, bahkan terlihat bersandar pada bahu kiri Reiga membuat gadis itu berdecak sebal.


"Kenapa, Ra?" Bintang menatap bingung pada Aurora saat mendengar decakan gadis itu.


Aurora menggeleng sambil tersenyum kecil. "Kak, diskusinya belum dimulai ya?"


Bintang kembali fokus pada kertas-kertas di tangan. "Bentar lagi, nunggu ini selesai. Terus kita mulai diskusinya."


Aurora mengangguk paham. Tak bertanya lebih lanjut karena wajah Bintang yang teramat serius membuat Aurora tanpa sadar menahan napas. Kakak kelasnya ini terlihat sangat tampan.


Tak berselang lama, Bintang bangkit dari lantai pun dengan Aurora. Gadis itu segera bergabung dengan delapan orang lain yang duduk berjajar di depan Bintang.


"Gue bakal bagi tugas biar kerjanya cepet. Inget waktu kita kurang dua minggu buat siapin kegiatan ini." Bintang memberitahu dan dibalas anggukkan paham.


"Kita bagi tugas buat cari bahan-bahan yang dibutuhin. List-nya bakalan gue kirim ke grup. Saran kalian sibutuhin banget, kalau ada yang punya pendapat soal barang yang kurang bisa langsung nambahin atau ada barang yang gak penting juga bisa dihapus. Ngerti?"


Mereka serempak mengangguk.


"Hari sabtu sama minggu kita baru cari bahannya. Senin sama rabu hari berikutnya kita siapin perlengkapan yang bisa langsung dibuat di sini. Sabtu sama minggunya kita langsung ke lokasi buat siapin game. Terus hari selasa siang kita lanjut lagi preparing, surat izin bakal gue buatin, jadi kalian tenang aja. Kita sebagai panitia berangkat selasa sore buat mastiin lagi. Rabu pagi sebelum acara dibuka, kita pastiin lagi semuanya udah siap dan gak ada yang kurang." Bintang mengakhiri penjelasan.


Semua mengangguk mengerti, berkumpul di satu sisi dan mulai membahas. Beberapa kali perbedaan pendapat, tapi maaih bisa ditengahi oleh Bintang. Ada juga yang diam saja dan mengangguk patuh, tidak punya saran sama sekali.


Dua puluh menit berlalu, ruangan itu lenggang. Menyisakan Bintang dan Aurora. Serta jangan lupa dengan pasangan yang kembali asyik menonton film di belakang ruanganโ€”Reiga dan Wulan.


"Pulang bareng?" Bintang bertanya was-was, sesekali melihat ke pojok ruangan, takut jika kejadian kemarin terulang.


Aurora menoleh sekilas pada Reiga di pojok ruangan, kemudian mendongak menatap manik coklat Bintang. Lantas balas mengangguk, setuju. "Hitung-hitung hemat uang saku. Papa gak biaa jemput selama waktu yang tidak ditentukan."


Bintang tertawa. Mengusak kepala Aurora gemas dan menggenggam tangan gadis itu. "Ya udah yuk."


Tubuh Aurora berjengit ringan saat merasakan sela jarinya terisi oleh jemarin besar nan hangat milik Bintang. Jantungnya berdebar kencang dan sensasi hangat yang menjalar di pipi, merona dan gugup.


"Mau susu stroberi gak?" Bintang bertanya sambil terus berjalan.


"Ada?"


"Di tas, ambil aja kalau mau."


Aurora melepas tautan tangan mereka. Beringsut ke belakang sambil menarik tas Bintang. "Kak Bintang nunduk dikit kek, susah ngambilnya," keluhnya.


Bintang tertawa ringan, menekuk lututnya agar Aurora mudah mengambil susu di tas. "Makanya tumbuh tuh ke atas, gak ke samping."


"Kak Bintang ngatain gue gendut?" Aurora menarik tubuh Bintang lebih kuat, membuat tinggi pemuda itu hanya sebatas matanya. Kemudian menyembulkan kepala di antara perpotongan leher Bintang sambil berkata tajam.


Sontak saja Bintang membeku di tempat, napas Aurora begitu terasa membelai pori kulitnya, membuat bulu kuduknya meremang. "Bu-bukan gitu, Ra." Bintang tergagap menanggapi pertanyaan Aurora, menarik diri menjauh.


Bola mata Aurora berputar malas. Laki-laki memang begitu, selalu menghindar dari kesalahan. "Halah, gue denger sendiri Kak Bintang bilang gue gendut," gerutunya. Lantas menarik tas Bintang yang masih terbuka, menundukkan pemuda itu lagi dan mengambil tiga kotak susu rasa stroberi di tas. "Tapi karena Kak Bintang ngasih aku tiga kotak susu, aku maafin," putusnya.


"Hehe, sayang Aurora." Bintang merangkul Aurora mendekat. Menepuk-nepuk kepala gadis itu pelan sambil terkekeh.


"Gak usah deket-deket, nanti yang lain mikirnya aneh-aneh," gerutu Aurora sambil mendorong Bintang menjauh dengan satu tangannya yang bebas, menutupi fakta bahwa jantungnya sedang berpesta di dalam sana.


Bintang tertawa sekali lagi, mengedarkan pandang ke seluruh penjuru koridor dengan wajah Aurora di genggamannyaโ€”memaksa Aurora melihat sekitar. "Emang ada siapa di sini, Ra?" kekehnya saat tak mendapati satu pun siswa di sana.


"Setan," sungut Aurora.


Bintang sedikit memiringkan kepala, menggaruk belakang kepala dengan jari telunjuk. "Lo indigo?" tanyanya bingung.


Aurora yang posisinya terpisah lima petak ubin dari Bintang membalik badan. "Ada di depan gue," ledeknya samabil menjulurkan lidah. Lantas terkikik geli karena perubahan raut wajah Bintang.


"Sialan," desis Bintang tak terima. Berlari mengejar Aurora sambil berusaha menutup tasnya yang terbuka lebar. "Berhenti di situ Rona Aurora!" teriak Bintang.


Tawa Aurora semakin menjadi, sesekali menoleh ke belakang sambil mengejek Bintang. "Kak Bintang lemot kayak hotspot-nya Udin!" ledek Aurora.


"Awas aja kalau ketangkep, gue penyet lo, Ra!" pekik Bintang.


Kekosongan koridor di isi oleh tawa Aurora yang terus mencoba kabur dan teriakan tak terima Bintang atas semua olokkan yang ditujukan padanya. Bahkan hingga sampai parkiran, Aurora masih gencar menghindar, menjadikan motor Reiga sebagai pembatas. Bintang di sisi kiri sedang Aurora di sisi kanan.


"Sini!" teriak Bintang sambil menjulurkan tangan, mencoba meraih Aurora.


ย 


Jelas Aurora menolak, menjauh. Namun sebelum sempat menghindar, tangan kiri Aurora sudah ditarik Bintang, membuat gadis itu terhuyung ke depan. Karena terkejut, Aurora justru menjadikan motor Reiga sebagai tumpuan berat tumbuhnya. Menahan tangan kanan di badan motor hingga motor itu jatuh ke arah kanan, ke arahnya.


Bintang reflek mendorong Aurora ke belakang hingga gadis itu jatuh terduduk, menghindari motor Reiga.


Lenggang beberapa menit. Keduanya masih mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Menatap lamat-lamat pada motor Reiga yang jatuh dengan ban belakang berputar pelan.


"Ups." Aurora menutup mulut, terkejut. Kemudian terbahak sambil memukul paha.


Bintang yang menyaksikan Aurora tertawa, akhirnya ikut tertawa juga. Pelan-pelan mengembalikan posisi motor Reiga dan membantu Aurora berdiri.


"Gimana ya, reaksi Reiga waktu lihat motornya jatuh?" Aurora terkikik geli sambil menepuk-nepuk roknya.


Bintang menngakat bahu tak acuh. "Paling bakal teriakโ€”"


"AURORA SIALAN!"


w


Dari jauh, Aurora dan Bintang bisa melihat Reiga yang berlari sambil menahan amarah. Urat leher pemuda itu muncul dengan wajah merah. Lucu sekali.

__ADS_1


Tapi Aurora dan Bintang tak mencoba kabur. Tidak sama sekali. Untuk apa juga kabur, mereka berdua adalah yang terbaik di ekstrakurikuler taekwondo. Jadi kalau Reiga macam, hanya perlu pukul sedikit dan pemuda itu pasti tumbang.


---๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ---


__ADS_2