Dear AURORA

Dear AURORA
Mendadak Berubah


__ADS_3

Setelah pamit tadi pagi untuk pergi, Daren tidak kembali pulang sampai malam. Hana pun khawatir tidak seperti biasanya Daren akan pergi selarut ini, Pikir nya.


"Kok kamu gak pulang-pulang sih mas, Ini udah malam" Gumam Hana yang mondar-mandir di depan pintu hanya untuk menunggu kepulangan Daren.


Livy yang baru turun dari lantai atas pun, Melihat Hana yang sedang kelimpungan mengkhawatirkan Daren.


"Mamah ngapain disitu mah?" Tanya Livy dengan menghampiri Hana.


"Papah belum pulang sayang, Mamah khawatir. Takut terjadi apa-apa sama papah" Jawab Hana yang langsung membuat Livy kaget.


"Hah, Masa papah belum pulang mah. Gak biasanya papah pergi akan selarut ini"


"Makanya mamah khawatir"


"Emang papah tadi pamit mau kemana mah?"


"Katanya mau ke rumah Aurora, Mau ngasih oleh-oleh yang tadi dia bawa" Jawab Hana yang langsung membuat Livy geram dengan Daren yang mulai memperhatikan Aurora.


"Sialan!, Papah mulai perhatian lagi sama Aurora. Gak!, Gua gak boleh kalah. Pokoknya harus gua yang di sayang sama papah, Gua gak mau kasih sayang papah terbagi lagi. Apalagi sama Aurora" Batin Livy yang merasa geram pada Aurora.


"Livy, Kok kamu malah bengong?" Tanya Hana yang melihat Livy diam.


"Gak mah, Cuman aneh aja. Kenapa papah tiba-tiba perhatian sama Aurora?" Celetuk Livy yang langsung membuat Hana diam membisu.


"Mah..?" Tanya Livy dengan menepuk tangan Hana.


"Sebenarnya waktu di London, Papah bilang sama mamah. Kalau dia mau memperbaiki hubungannya bersama Aurora, Dan dia mau menebus semua kesalahan masalalu dia yang telah membuat Aurora terluka" Jawab Hana yang langsung membuat Livy membuang mukanya tak suka.


"Mau berjuang bagaimanapun Aurora pasti menolaknya kan mah?, Masa papah mau sih di kasarin terus sama Aurora" Ucap Livy dengan nada kesalnya.


"Livy kamu gak boleh gitu, Justru itu lebih bagus kan. Kalau misalnya Aurora sudah luluh sama papah, Kamu kan bisa jadi deket lagi kayak dulu sama Aurora. Sekaligus punya saudara perempuan juga, Biar kamu gak kesepian di rumah kalau nanti mamah sama papah tinggal keluar kota atau keluar negeri lagi" Ucap Hana yang mencoba memberi pengertian pada Livy.


"Terserah mamah lah, Aku mau tidur. Capek!" Ucap Livy dengan berlalu pergi dari hadapan Hana Menuju kamarnya.


"Kok Livy jadi kesel gitu yah, Aneh" Gumam Hana dengan menatap punggung Livy yang mulai menjauh.


Setelah Livy masuk ke dalam kamar, Hana pun berinisiatif untuk menelpon Daren menanyakan kapan akan pulang.


Tut

__ADS_1


Panggilan tersambung ke nomor telepon Daren, Sampai beberapa saat panggilan pun terjawab.


[ Mas.. ]


[ Ada apa? ]


Tanya Daren dengan nada yang begitu dingin.


[ Kamu masih di rumah Aurora? ]


[ Iya, Kenapa? ]


[ Ini sudah malam mas, Kamu kapan pulang? ]


[ Saya tidak akan pulang, Saya mau menemani Aurora disini. Kasihan dia sering di rumah sendirian ]


[ Tapi .. ]


Belum sempat Hana meneruskan ucapannya tapi sudah lebih dulu Daren potong, Membuat Hana harus kembali terdiam.


[ Sudahlah Hana, Saya mau istirahat dulu. Mungkin besok saya pulang setelah mengantarkan Aurora ke sekolah ]


"Kok kamu jadi berubah gitu mas.." Lirih Hana dengan berderai air mata mengingat sikap Daren yang mendadak berubah.


***


Di rumah, Aurora tersenyum senang. Melihat sikap Daren yang mulai berubah pada Hana. Karena sedari tadi Aurora mendengar apa yang Daren ucapkan pada Hana, Meskipun Aurora tidak bisa mendengar suara Hana. Tapi Aurora sudah tahu apa yang Hana ucapkan pada ayahnya.


"Bagus, Selamat menikmati masa-masa pahitnya di acuhkan tante Hana" Batin Aurora dengan tersenyum smirk.


"Ra, Kamu belum tidur?" Tanya Daren yang melihat Aurora sedang berdiam diri di ruang tv.


Aurora langsung tersentak kaget mendengar Daren yang tiba-tiba datang bertanya padanya.


"Belum, Papah gak pulang?" Tanya Aurora yang pura-pura tidak tahu.


"Nggak, Papah mau menemani kamu" Jawab Daren dengan mengusap lembut kepala Aurora.


Aurora langsung terenyuh dengan perlakuan Daren yang mengingatkannya seperti ia masih kecil selalu di manja dan di perhatikan oleh Daren. Sebelum rumah tangga orang tuanya hancur.

__ADS_1


"Papah tidur di kamar mamah aja, Kalau gitu" Ucap Aurora yang langsung membuat Daren diam.


"Pah...?" Ucap Aurora dengan menepuk pundak Daren.


"Ah, Iya Ra" Jawab Daren yang baru tersadar dari lamunannya.


"Papah kenapa bengong, Papah gak mau tidur di kamar mamah ya?"


"Bukan!, Papah bukan gak mau tidur di kamar mamah kamu Ra. Tapi, Papah merasa malu mengingat Perlakuan papah yang sudah menyakiti mamah kamu" Ucap Daren dengan merendahkan suaranya di akhir kalimat.


Aurora hanya tersenyum tipis, Lalu memegang tangan Daren untuk menyakinkan nya.


"Pah, Mamah sudah memaafkan papah jauh sebelum papah minta maaf sama mamah. Mamah sudah mengikhlaskan semuanya pah, Ini sudah menjadi takdir jalan hidup kita. Tadi kan papah bilang sama Ara, Kalau papah mau memperbaiki hubungan keluarga kita kan?, Meskipun mamah sama Mira udah gak ada" Ucap Aurora yang baru kali ini berbicara panjang lebar.


Ucapan Aurora pun langsung membuat Daren semakin merasa bersalah terhadap apa yang sudah ia lakukan pada keluarganya dulu.


"Maafin papah Ra.." Lirih Daren dengan menundukkan kepalanya menyesal.


"Sudahlah, Yang lalu biarlah berlalu pah" Jawab Aurora dengan tersenyum manis pada Daren.


"Sekarang papah harus tidur, Istirahat dulu. Besok kan papah kerja" Ajak Aurora dengan menggandeng tangan Daren menuju lantai atas.


"Iya putri Aurora, Papah senang kamu jadi putri papah yang manja begini. Dari pada bersikap acuh seperti dulu" Ucap Daren.


"Ara akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi demi papah" Jawab Aurora yang langsung membuat Daren tersenyum haru.


Sesampainya di depan kamar Lina, Daren dan Aurora pun berhenti di depan pintu kamar.


"Selamat malam pah.." Ucap Aurora sebelum pergi menuju kamarnya.


"Selamat malam putri cantik papah" Jawab Daren dengan mengusap kepala Aurora.


Setelah Aurora pergi dari hadapan Daren, Daren langsung diam menatap pintu kamar yang dulu miliknya bersama almarhum Lina.


"Aku mengingat semua tentangmu Lina, Meskipun rumah tangga kita di bangun tanpa adanya cinta" Lirih Daren dengan mendorong kenop pintu kamar lalu masuk ke dalam kamar tersebut.


Kesedihan Daren pun sama di rasakan oleh Aurora yang kini sedang menangis di dalam kamarnya, Mengingat pesan dari almarhum ibunya. Yang harus ikut bersama Daren setelah dia pergi untuk selamanya meninggalkan Aurora.


"Maafin Ara mah, Ara udah telat meluluhkan hati papah. Di saat papah menyesal dan mengakui kesalahannya, Kenapa mamah harus pergi tinggalin Ara.." Lirih Aurora dengan menelungkupkan kepalanya di atas bantal.

__ADS_1


__ADS_2