
Menjelang pukul tujuh, seluruh peserta perkemahan dikumpulkan mengelilingi kayu bakar. Surya yang membawa minyak gas dan korek sudah siap di sana. Dua jerigen berisi minyak tanah habis untuk menyiram seluruh sisi kayu bakar dan saat satu putung korek api di jatuhkan, maka api segera mejulur ke atas. Menerangi hingga radius beberapa meter di seklilingnya.
Berbarengan dengan itu, lima puluh buah lampion di lepas di udara. Menyemarakkan malam pekat dengan warna indah di atas sana. Lagu-lagu Sheila On Seven menjadi latar lagu terbaik, menambah syahdu suasana.
Tawa di sana, riang di sini. Semua merasakan kesenangan yang amat berarti. Membuktikan betapa suksesnya acara pembukaan terlepas dari insiden siang tadi. Mlereka melupakannya dengan cepat.
"Lo gak mau gabung?"
Satu pertanyaan yang membuat Aurora mendongak. Menghentikan kegiatan mencabut rumput yang gencar ia lakukan. Tidak tahu untuk apa, hanya kebiasaan jika sudah di lapangan dan duduk di atas rumput, tangannya akan reflek mencabuti. "Gak."
"Masih aja cuek." Reiga mendudukkan diri di sebelah Aurora. Menyelonjorkan kaki dan menumpu kedua tangan ke belakang untuk menyangga badan.
Aurora menggeser tubuhnya menjauh. Menekuk kaki dan memeluknya, ikut mendongak seperti Reiga. "Makasih buat yang tadi. Ya walaupun gak lo tolongin juga gue gak bakal kenapa-napa."
Reiga menduduk dan terkekeh. Seklilas menatap wajah Aurora yang ditimpa cahaya api. Cantik. Reiga menggeleng setelah menyadari isi pikirannya. Memukulnya pelan berulang kali demi mendapatkan kesadaran.
"Ngapain mukul diri sendiri?" Aurora terheran. "Mau gue bantu mukul?" lanjut gadis itu polos.
Tatapan Reiga berubah sengit. Aurora tertawa.
Hening, hanya suara menggelegar Saga dan Udin yang terdengar samar. Jangkrik juga turut andil dalam membuat instrumen malam bersama gemerisik daun dan kicauan burung hantu.
"Gue udah janji ke tante Mirna buat jaga lo." Reiga menjelaskan maksudnya.
Aurora tersenyum tipis.
"Ra, gue mau minta imbalan."
"Hah? Imbalan? Imbalan apa?!"
"Ya lo pikir jatuh dqri pohon dengan tinggi sepuluh meter itu gak sakit apa? Pungggung gue serasa patah, lo berat."
Aurora menggeram. Padahak tadi ia sudah hampir memuji sikap pahlawan Reiga, tapi mendengar kata imbalan membuatnya urung mengutarakan.
"Lo mau apa?"
"Apa aja yang gue minta?"
"Hmm." Aurora berdehem sebagai persetujuan.
Reiga menggaruk tengkuknya, mengembuskan napas yang justru membuat Aurora menatap penuh curiga. Jangan bilang kalau Reiga mau bertanya tentang Varo? Ah, Aurora jadi menyesal dengan kata apapun yang ia setujui.
"Siapa Varo?" Reiga mengulang pertanyaan sama persis seperti tadi pagi.
"Mantan."
"Sejak?"
__ADS_1
"SMP kelas dua sampai awal masuk SMA."
"Yang lo maksud bukan Alvaro Marga, kan?"
Bagai tersengat listrik, Aurora dibuat kaget dengan fakta bahwa Reiga tahu siapa mantan pacarnya. "Lo, kenapa bisa tau?"
"Pantesan lo benci banget sama playboy. Lagian lo mau aja kemakan rayuan buaya bang Varo. Udah tau dia itu playboy dari segela playboy," dengus Reiga. "Gue belajar jadi playboy juga dari bang Varo," akunya seeikit berbangga.
"Lo butuh cermin gak? Lo juga playboy, sama aja!"
"Udah move on dari bang Varo?" Reiga bertanya lagi.
Aurora tidak yakin dengah kata itu. Varo adalah yang pertama mengisi hatinya, menjadikannya wanita paling beruntun dengan rayuan-rayuan kacangan yang selalu pemuda itu berikan.
"Kalau bang Varo nembak lo lagi, diterima apa ditolak?"
"Gak tau."
"Kalau gue yang nembak lo terima apa gak?"
Dan detik itu juga rasanya jantung Aurora hampir melompat keluar. Terlalu kaget dengan pertanyaan frontal yang diajukan Reiga.
"Kalahin gue dua minggu lahi, jawabannya di sana." Setelahnya Aurora beranjak dan bergubung dalam keramaian.
Reiga bisa melihat meski samar. Aurora tertawa bersama Sellena, Udin, Doni dan Edo di pinggiran api unggun. Benar, tidak salah lagi, Aurora memang secantik itu.
Singa Lepas
|Gue tau kalau pernyataan tentang cowok yang mau jadi pacar lo harus bisa ngalahin lo di pertarungan taekwondo itu cuma akal-akalan biar gak ada yang bisa jadi pacar lo, kan? Karena lo sendiri udah tau, mereka jelas telak kalau ngelawan lo langsung.
|Tapi tenang aja, dua minggu lagi gue yang bakal patahin deklar itu
Menekan tombol kirim dan tanda centang satu tertera di sana membuat Reiga kembali mengantongi ponselnya. Berjalan perlahan ke arah keramaian dan duduk bersimpuh di salah satu sisi yang membuatnya bisa melihat Aurora.
---🌟🌟🌟🌟🌟---
Sukses dengan acara pembukaan, HUT SMA Putra Bangsa dilanjutkan dengan rentetan acara hingga sepekan ke depan. Dan hari ini acara HUT sekolah telah sampai pada puncaknya, malam pentas seni dengan dua guest stars yang menambah kemeriahan malam itu.
Pukul sebelas siang seluruh siswa telah datang melakukan absensi di gerbang masuk SMA Putra Bangsa serta mendapat gantungan kunci yang menyala dalam gelap sebagai tiket masuk.
Acara pertama dibuka dengan penampilan dari beberapa kelas yang sudah diseleksi. Deretan stan bazar gabungan antarkelas pun banyak menarik perhatian, terutama stan penyedia dalgona colfee dan Boba. Benar gambaran nyata dari peribahasa ada gula ada semut, ramai sekali yang mengantri.
Anggota yang tergabung dalam panitia pensi pun terlihat semakin sibuk seiring berjalannya waktu. Apalagi yang menjadi time keeper, mereka harus benar-benar awas agar acara berjalan sesuai rundown acara dan tidak ada kata ngaret.
Sebut saja Reiga dan Aurora yang harus bekerja sama dalam acara tersebut. Menjadi time keeper yang senantiasa harus melihat jam, mencocokan pada rundown acara dan meneriaki para penampil yang datang terlambat. Sangat menguras tenaga dan emosi.
"Nih." Reiga menyodorkan air mineral dingin pada Aurora yang langsung diterima dengan senang hati.
__ADS_1
Gadis itu menegaknya hingga tandas setengah. Maklum, suaranya terus ia pakai berteriak demi berlangsungnya acara sesuai jadwal. Meksi tetap ada keterlambatan, tapi masih bisa dimaklumi.
"Makasih," ucap Aurora sambil menyerahkan botolnya pada Reiga. Lantas berjalan kearah gedung di belakang panggung, siap meneriaki penampil berikutnya.
Masih di tempatnya, Reiga menggaruk kening dengan jari telunjuknya. "Kok dibalikin?" tanyanya sambil menatap botol Aqua di genggaman.
"Kelas XI-1 cepet siap-siap! Sebentar lagi penampilan kalian! Band Segilima juga cepet siapin alatnya, setelah kelas XI-1 kalian yang tampil!"
Demi mendengar teriakan kelewat nyaring milik Aurora, Reiga menoleh dan menatap punggung kecil gadis itu yang tengah berdiri di ambang pintu.
Tanpa sadar Reiga menarik ujung bibirnya, tersenyum hanya karena mendengar teriakan marah Aurora.
Memang sudah berapa kali Reiga bilang jika Aurora itu menggemaskan saat sedang marah? Kearena sekarang Reiga akan mengulanginya lagi. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan.
---🌟🌟🌟🌟🌟---
Pukul sembilan malam, saatnya guezt star tampil. Yang pertama tampil adalah grup yang sudah menjadi langganan diundang ke sekolah Putra Bangsa saat acara HUT. Namanya CherryBomb, dengan warna official merah, mereka terlihat mencolok di bawah cahaya lampu malam itu. Dengan genre pop-rock, mereka sukses membuat seisi sekolah berjoget dan meloncat semangat sambil bernyanyi.
Sementara penampilan kedua berasalah dari band yang tengah naik daun. Sebelumnya mereka hanya meng-cover lagu di youtube, tapi tidak bisa dipungkiri jika aura superstar mengalir dalam diri. Meski tergolong baru dan hanya menyanyik empat lagu cover, mereka sukses membuat seisi sekolah kembali bernyanyi penuh semangat. Melupakan tentang jam yang sudah menunjuk angka sebelas malam.
Acara malam itu ditutup dengan ucapan terima kasih dari Fajar dan Bintang sebagai ketua dan wakil ketua OSIS. Mereka menyampaikan beberapa kesan dan pesan, lalu diakhiri dengan pengumuman bahwa siswa boleh pulang.
Semnatara panitia masih sibuk di tempat. Setelah melakukan evaluasi sebentar, mereka sibuk membersihkan sampah di penjuru sekolah yang lumayan banyak, membereskan peralatan panggung dan meja kursi yang tadi di tata di tengah lapangan.
Pukul setengah dua malam, seluruhnya telah selesai. Hanya tinggal beberapa peralatan yang memang tidak bisa dibereskan sendiri, menunggu ahlinya sekaligus dikembalikan.
Satu persatu anggota panitia mulai meninggalkan tempat, menyisakan beberapa saja yang memang masih sibuk atau hanya sekedar mengistirahatkan diri.
Begitu pula dengan, Bintang yang kini berjalan bersisian dengan Aurora menuju gerbang sekolah. Niat pemuda itu hanya mengantar Aurora ke depan, tapi jika diizinkan, Bintang dengan senang hati mengantar gadis ini pulang.
"Ra, pulang bareng siapa?" Bintang bertanya.
Aurora melambatkan langkah kakinya, berpikir sejenak sebelum menggeleng. "Gak tau Kak, papa susah dihubungi. Tapi kata mama, papa bakal nyusul."
Bintang mengangguk paham. "Mau gue anter?" tawarnya.
Aurora menggeleng, hendak menolak tapi suara lain mendahuluinya.
"Dia pulang bareng gue."
Entah darimana datangnya Reiga, pemuda itu sekarang sudah berdiri menjulang diantara Bintang dan Aurora sambil merangkul pundak gadis itu.
"Tante Mirna yang nyuruh."
Lagi-agi Reiga memotong ucapan Aurora yang hendak mengajukan protes. Lantas segera menarik gadis itu menuju mobilnya tanpa mengucapkan pamit pada Bintang yang membeku.
Dari kejauhan, Bintang tersenyum kecut melihat Aurora yang pasrah saja masuk ke dalam mobil Reiga. Sepertinya jalan untuk mendekati Aurora semakin terjal saja. Aplagi fakta bahwa ia sudah kalah di arena taekwondo membuatnya merasa kecil.
__ADS_1