Dear AURORA

Dear AURORA
7 : Ojek dari Reiga


__ADS_3

Tergabung dalam kepantiaan pre-HUT membuat Aurora harus rela terjebak di ruang multimedia bersama delapan orang lainnya. Sebut saja Alya, Diego, Agam, Surya dan Bintang yang merupakan perwakilan OSIS serta empat lainnya seperti, Wulan, Amanda, Reiga, dan Angga.


Mereka dijadwalkan berkumpul sepulang sekolah dengan tujuan agar tidak mengganggu kegiatan belajar. Walau pada akhirnya, saat kegiatan kurang tiga atau empat hari, kegiatan belajar terpaksa terganggu.


"Gue bakal jelasin singkat tentang acara perkemahan ini. Dengerin baik-baik." Bintang sebagai ketua memulai penjelasan. "Kemahnya bakalan diadain di hutan pinus. Jaraknya bisa ditempuh sekitar satu setengah jam perjalanan dari sekolah. Jadi nanti kita imbaukan supaya setiap kelas siapin kendaraan buat berangkat bareng ke sana."


Bintang mengeluarkam spidol dari kotak pensilnya, menulis beberapa sub-acara yang akan dilakukan di papan tulis. "Di sana kita bakal siapin acara semacam rintangan gitu. Dibuat tantangan dan pasti ada hadiahnya. Buat tantangan pertama, kita bikin game kayak sinar laser gitu, tapi bahannya tali rafia. Kita iket dan sambung, dibentuk mirip sarag laba-lab. Cara mainnya, perwakilan dua siswa dari regu harus melewati arena ini tanpa menyentuh rafia. Kalau sampai nyentuh, berarti gagal dan harus ngulang dari awal. Paham?"


Seluruh anggota mengangguk paham.


Bintang beralih pada permainan selanjutnya hingga pada permainan terakhir. "Rintangan terakhir berupa kolam lumpur dengan botol yang tersebar secara acak dan tersembunyi. Kita bikin kotak lumpur sedalem pinggang. Tiap regu harus cepet-cepetan nemuin botol berisi soal dan langsung dibawa ke garis finish. Nanti panitia yang jaga di sana bakal bacain soalnya. Kalau bisa jawab dinyatakan berhasil dan bisa istirahat. Kalau gak bisa harus nyari botol lagi." Bintang menyudahi penjelasannya.


"Ya udah, hari ini cuma mau jelasin itu aja. Selebihnya kita bahas besok sepulang sekolah. Buat tambahan, diskusinya kita adain tiap hari selasa, rabu, kamis sama sabtu jam sepuluh, gimana? Ada yang berhalangan hadir?" Bintang bertanya.


Dua orang mengangkat tanganβ€”Angga dan Amanda.


"Kalau kamis ibu suka arisan. Jadi biasanya gue jagain adek." Angga menjelaskan alasannya.


Bintang mengangguk paham.


"Kalau hari selasa saya ada jadwal les kak." Amanda berujar sopan.


Bintang mengangguk lagi. Berpikir sejenak lalu kembali berbicara.


"Selain kamis sama selasa gak ada halangan, kan?" Bintang bertanya dan dijawab dengan anggukan.


"Gue free terus sampai acara HUT selesai." Diego menambahi.


Alya dan Agam mengangguk serentak.


"Gue sih, mau kapan aja ayo dah. Ruang guru sama Quipper bisa gue buka dimana aja." Surya ikut berbicara.


"Oke, jadi diskusinya kita ganti hari senin sama rabu. Tambahan sabtu sama minggu jam sepuluh pagi," final Bintang.


Seluruhnya mengangguk setuju dan bergegas pulang.


---🌟🌟🌟🌟🌟---

__ADS_1


"Pulang naik apa, Ra?" Bintang menyejajarkan langkahnya dengan langkah Aurora yang kelewat cepat.


"Naik ojol kayaknya Kak, Papa gak bisa jemput."


Bintang tersenyum senang. "Pulang barβ€”"


"Gak bisa," potong Reiga dari belakang, kemudian menempatkan diri diantara Aurora dan Bintang. "Tante Mirna nyuruh gue buat nganter Aurora pulang," lanjutnya sambil merangkul Aurora, memberi jarak lebar antara Aurora dan Bintang.


"Heh, mana ada?" Aurora mendelik ke arah Reiga.


"Yah, gak percaya. Orang tante Mirna nelpon gue tadi," kata Reiga meyakinkan.


"Mama kok gak nelpon langβ€”"


"HP lo mati," tukas Reiga.


Aurora mengernyit, ia ingat tidak mematikan ponselnya. Saat hendak mengecek ponselnya, Aurora dikejutkan dengan tangan besar Bintang yang mengacak rambutnya pelan.


Bintang tersenyum kecil.


"Ya udah, lain kali aja, Ra." Bintang berjalan mendahului. Meninggalkan Reiga dan Aurora berdua di lorong sekolah.


"Lo gak bohong, kan?" tanya Aurora menyelidik setelah tak lagi melihat sosok Bintang.


Reiga mengangkat bahunya tak acuh. Meninggalkan Aurora dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku sementara tangan yang lain menenteng jaket warna merah.


Aurora mendengus sebelum akhirnya mengikuti Reiga. Entah, perasaannya sedikit tidak enak mengetahui fakta Reiga bisa sebaik ini. Ah, tidak, Reiga melakukannya hanya demi formalitas.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Sampai di parkiran, Aurora sempat berpapasan dengan Bintang yang tengah memakai helm dan siap menjalankan motornya. Aurora tersenyum simpulβ€”menyapa Bintang.


Perasaan bersalah dan tak enak muncul di relung hati Aurora saat Bintang balas tersenyum. Tidak seharusnya ia menolak kebaikan Bintang, bukan? Tapi alasan Reiga yang membawa nama ibunya membuat Aurora mau tak mau memilih ikut Reiga. Ia tidak ingin dicap sebagai anak pembangkang.


"Lo gak bawa helm lagi?" Aurora bertanya saat melihat hanya ada satu helm dan itu dipakai oleh Reiga.


"Buat apa?" Reiga bertanya malas. Mengeluarkan motor dari area parkir dan menyalakan mesin.

__ADS_1


"Buat gue lah."


"Ngapain makai helm kalau gak naik motor? Lo mau dikira orang gila?"


"Kan gue mau lo bonceng, gimasa sih?!" kesal Aurora.


"Gue?" Reiga memastikan. "Sejak kapan gue mau bonceng lo?"


"Bukannya lo bilang kalau maβ€”"


"Tante Mirna aja gak tau nomor gue," pangkas Reiga cepat. "Bye, gue mau jemput gebetan di SMA Sembrani."


Aurora dibuat melongo. Sial, firasatnya memang benar. Reiga tidak mungkim sebaik itu meski hanya sebuah formalitas.


Gadis menjerit penuh ancaman saat Reiga melajukan motornya keluar dari gedung sekolah. Tanpa mau menoleh ataupun bertanya, pemuda itu melesat begitu saja membelah jalanan kota yang padat.


"REIGA! GUE PASTIIN TULANG LO PATAH SEMUA SEBULAN LAGI!" Aurora berteriak memperingatkan. Tapi apa gunanya, siluet Reiga bahkan sudah hilang sejak tiga menit lalu.


"Harusnya gue bareng kak Bintang aja," sesalnya. "Dasar Reiga sialan."


Dengan langkah lemas, Aurora berjalan keluar dengan fokus terpusat pada ponsel, sekarang gadis itu harus rela repot-repot memesan ojek online untuk pulang. Menyebalkan.


Tapi sebelum tombol pesan ditekan oleh Aurora, seseorang lain menepuk bahu Aurora. Membuat gadia itu berjengit kaget dan menoleh.


"Mbak Aurora, kan?" tanya orang itu.


Aurora mengangguk patah-patah. Melihat tampilan orang itu dari atas hingga bawah, meneliti. Jaket hijau, helm hijau dengan gambar motor dan celana jeans.


"Eh, saya belum pesen lho, Pak. Kok udah sampai aja." Aurora bertanya bingung.


"Memang bukan Mbak Aurora yang pesan. Saya disuruh Mas Reiga buat nganter Mbak Aurora pulang, sudah dibayar juga. Mari Mbak."


Aurora terhenyak. Reiga yang memesankan ojek online? Pemuda yang meninggalkannya demi menjemput gadis lain? Tidak bisa dipercaya.


Tak sadar, ujung bibir Aurora tertarik ke atas. Setidaknya ia tidak perlu repot menunggu ojek pesanannya dan yang paling penting, ini gratis.


---🌟🌟🌟🌟🌟---

__ADS_1


__ADS_2