Dear AURORA

Dear AURORA
11 : Kerja Kelompok di Rumah Aurora


__ADS_3

"Mau ngerjain di dalem atau di  luar?" Aurora bertanya sambil membuka pintu gerbang rumahnya. Mempersilahkan kesembilan anggota panitia kemah untuk masuk.


"Yang hawanya seger, Ra." Surya memberi saran.


"Yang adem plus ada angin sepoi-sepoi." Agam menambahkan, namun segera mendapat jitakan dari Alya.


"Lo pikir rumah Aurora tempat wisata?!" sentaknya jengkel.


"Ya kali aja ada. Lagian jadi cewek sensian banget, PMS lo." Agam merengut, mengusap bekas jitakan Alya kasar.


"Yang penting gak bikin kulit item aja Kak," kata Wulan.


Aurora menyangga dagu dengan telunjuknya. Mengingat bagian rumah yang sesuai dengan permintaan teman-temannya. "Ya udah, taman samping aja ya. Gue ambilin karpet sama camilan," tuturnya kemudian berlalu ke dalam rumah. Tapi, belum semenit masuk rumah, Aurora kembali menyembulkan kepala lewat celah pintu.


"Woi, Kelinci! Lo tujukinlah tempatnya. Jangan cuma bengong kayak Patung Pancoran," pinta Aurora sambil berteriak. Lantas segera hilang saat Reiga melotot tajam ke arahnya.


Reiga mendengus kesal meski pada akhirnya berjalan ke arah yang dimaksud Aurora.


"Lo kok tau tempatnya, Ga?" Wulan dan segala keingintahuannya  menerobos barisan di depan. Segera mengamit legan Reiga dan berjalan beriringan.


"Gue  pernah sekali ke sini, makan malem keluarga," papar Reiga yang justru mendapat reaksi tak terduga dari teman-temannya, terkejut. Bahkan Bintang sampai memalingkan wajah dengan tangan menggenggam erat, kesal.


"Buset dah, mau ngapain oi makan malem keluarga? Lamaran?!" Agam yang dasarnya memang tidak bisa diam menebak asal-asalan.


"Ya gak mungkinlah, Reiga kan cuma cinta sama aku." Wulan menyahut jengkel. Melotot tajam pada Agam dengan tangan semakin erat memeluk lengan Reiga.


"B aja, Mbak, reaksinya. Gue cuma nebak." Agam tak mau kalah.


"Ya lo kalau nebak sembarangan! Udah tau gue pacarnya Reiga!" cecar Wulan. Tangannya terulur hendak menjambak rambut Agam, tapi pemuda itu malah kabur dan bersembunyi di balik tubuh besar Bintang.


"Pacar lo ganas amat, Ga!" Agam mengerang sambil menutup kepala, melindungi rambut yang baru saja ia potong. Takut-takut kalau tiba-tiba tatanan rambutnya rusak karena ulah Wulan.


"Orang tua gue udah kenal lama sama orang tua Aurora," jawab Reiga santai. Tak terlalu peduli dengan kekacauan yang ia buat.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Lima belas menit berlalu, Aurora datang membawa tiga karpet besar berwarna  merah, hijau dan biru dengan motif bunga. Dibantu Reiga, Surya  dan Bintang, karpet digelar di atas tanah dengan pohon sawo sebagai atap alami. Sementara Alya dan Amanda membantu Aurora membawa makan dan minuman untuk menemani kegiatan mereka.


"Ra, mangga lo boleh gue ambil gak? Masih muda, kan? Mama ngidam mangga muda." Surya berujar sambil menunjuk tiga mangga yang menganggung kokoh di dahan, sedikit bergoyang diterpa angin.


"Boleh aja sih, mau diambilin sekarang?" tawar Aurora


"Emang bisa manjat? Atau pakai galah ya?" Surya masih memperhatikan ke arah tiga buah mangga tadi, menggarung kepala bagian kiri dengan empat jari.


"Aurora mah titisan monyet, Kak, gak usah heran. Pohon mangga di rumah gue aja udah pernah dipanjat."


Seluruh atensi kesepuluh orang itu beralih pada empat  sahabat karib Aurora, sebut saja Udin, Edo, Doni dan Sellena yang tiba-tiba duduk diantara mereka. Sok akrab sekali.

__ADS_1


"Sembarangan kalau ngomong." Aurora memukul kepala Udin. Lalu beralih pada Surya.  "Gimana Kak? Mau diambilin?"


"Gak usah deh," tolak Surya. "Gue ambil sendiri aja nanti waktu mau balik."


"Oke."


Aurora memberi tanda dengan tangannya. Lantas segera sibuk dengan tujuan awal mereka, membuat properti untuk acara kemah.


Pekerjaan mereka selesai jauh lebih cepat karena kedatangan empat sekawan itu. Meski artinya makanan yang disediakan juga ludes lebih cepat. Tapi setidaknya, sebelum maghrib tiba setengah proopertinya sudah siap. Sisanya bisa dilanjutkan besok atau saat pulang sekolah.


"Lan, gue perhatiin lo gak makan apa-apa dari tadi. Cuma minum air putih doang. Gak lagi diare, kan?" Udin bertanya.


"Enggak apa-apa, Kak, cuma males makan aja," jawab Wulan sopan.


"Diet." Sellena yang paham langaung menimpali.


Wulan mengangguk dan tersenyum tipis.


Aurora menatapa tidak percaya. "Heran gue, badan udah setipis Udin aja masik sok-sokan diet."


"Kenapa mesti gue yang jadi kambing congek, hah!" Udin memprotes.


"Cewek kan emang harus jaga bentuk badan, Ra," bela Doni.


"Emang cewek kayak lo mana ngerti urursan beginian." Reiga bergabung dalam percakapan. Jika hal ini berhubungan dengan acara meledek Aurora, Reiga akan maju paling depan.


"Ya gitu." Reiga menggantung jawaban.


"Lo tuh sehari aja gak nyari gara-gara sama gue bisa gak sih?" Aurora menggeram di tempat. Berusaha menahan hasrat untuk menghajar Reiga saat ini juga.


Reiga menggeleng. Mengambil kue kering rasa coklat yang terlihat menggiurkan. Lalu memakannya dalam sekali lahap. "Gue gak pernah nyari gara-gara. Lo aja yang gampang kepancing," celetuknya ringan.


Aurora hendak meloncat ke arah Reiga. Ingin menerjang dan membekap mulut kurang ajar milik pemuda  itu seperti saat di lapangan indoor.


"Sabar, Ra." Sellena menarik pundak Aurora dan mengelusnya pelan, membawa gadis itu agar duduk tenang sampingnya.


"Yah, ngapain dicegah sih? Kan gue pengen liat Aurora nampol mukannya  Reiga." Udin berseru kecewa.


"Muka lo sini gue tampol!" Aurora meraih kerah belakang Udin. Menyeret pemuda  itu mendekat.


"Lah, kok jadi gue yang ditampol?!" Udin berseru panik, menarik kaos biru dongker milik Doni yang tepat di sebelahnya.


"Lo nyebelin sih!" Aurora menyalak.


"Udah, Ra. Tenang, oke. Si Udin udah kehabisan napas tuh kecekik kerah bajunya." Bintang sekali lagi berperan sebagai penengah. Meraih tangan Aurora dan melepaskannya  dengan lembut dari kerah Udin.


Degusan napas  Aurora terdengar karenanya. Segera menuruti perintah Bintang yang entah kenapa ampuh sekali untuk menekan sistem kerja sarafnya.

__ADS_1


"Gila,  lo mau gue mati Ra?!"


"Pengennya sih gitu, tapi ngeliat hidup lo sengsara lebih seru."


"Dasar temen laknat." Udin beringsut ke tempat duduknya lagi. Takut Aurora kumat dan mencekiknya seperti tadi.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Taman samping rumah Aurora terasa lenggang setelah kepulangan teman-temannya dua puluh menit lalu. Menyisakan dirinya dan Reiga yang justru terdampar di atas karpet yang disusun tiga lapis dengan mangga di tangan.


Ini semua gara-gara Bu Mirna, wanita paruh baya itu tiba-tiba  memanggil Reiga sesaat sebelum pemda itu mengeluarkan sepeda motornya. Merelakan Wulan untuk pulang naik taksi karena tidak mungkin menolak permintaan teman mamanya untuk tinggal lebih lama. Dan sialnya, ia harus terjebak bersama Aurora dengan lima puluh buah mangga yang harus  dikupas.


"Lo kupas gih, gue capek." Reiga melemparkan pisaunya ke dalam wadah besar tempat mangga sudah selesai dikupas.


"Lo baru ngupas tiga mangga, Kelinci! Apanya  yang capek?!" Aurora mencoba bersabar.


"Yang nyuruh kan mama lo, kenapa gue kena juga?" Reiga mulai memposisikan tubuhnya untuk berbaring di sebelah Aurora dengan kedua tangan tertaut, sebagai bantal.


"Lo juga disuruh!" Aurora menggeram. Membalik badan dan mengarahkan pisau yang ia pegang pada Reiga. Sontak saja pemuda itu beringsut mundur  dan bangun perlahan.


"Hehe,Ra, pisaunya bisa diturunin kagak? Serem gue liatnya," pinta Reiga sambil tertawa kaku. Jujur saja, bulu kuduknya itu sudah meremang hanya  karena kilatan pisau yang ditimpa matahari sore.


"Gue turunin di lambung lo gimana?" ancam Aurora sambil menunjuk perut Reiga menggunakan pisaunya.


Reiga menggeleng cepat, tangannya bergemetar ringan dan berkeringat. wajahnya pias dengan jantung yang berpacur tak normal karena membayangkan kejadian berikutnya. "Lo—lo gak ba—bakal berani," ucapnya terbata sambil meneguk ludah kasar.


"Oh ya?" Aurora tersenyum miring, menelengkan kepala ke samping kanan dengan tatapan yang sulit diartikan.


Reiga memundurkan tubuhnya kembali. Netra kelamnya berputar acak ke sekeliling, tangannya mencengkeram karpet lebih kuat sementara otaknya terus menayangkan kejadian-kejadian dalam film ber-genre  thriller yang pernah ia lihat.


Tangan kiri Aurora yang bebas bergerak cepat. Merangkum dua tangan Reiga yang digunakan untuk menahan bobot tubuhnya. Seketika saja pemuda itu jatuh ke belakang dengan tangan di atas kepala.


"Ra, gue tau kalau gue banyak salah sama lo. Tapi, ya janhan bunuh gue sekarang. Gebetan gue banyak yang belum gue tembak. Anak sholeh ini belum punya banyak pahala." Suara Reiga bergetar, ketakutan.. "Kalau pahala dilihat dari seberapa banyak manta pacar,  gue  berangkat ke rahmatullah sekarang juga gak papa," imbuhnya dengan mata terpejam.


Aurora menyeringai. Mendekatkan tubuhnya pada Reiga. "Tapi sayangnya gue gak sesadis itu," akunya ringan.


Aurora menjauhkan tubuh dan mengusak rambut Reiga. Lantas bangkit dan melemparkan pisau ke dalam wadah. "Gue mau ke dalem. Lo lanjutin ya ubab."


Reiga yang masih terpenjara dalam kekagetannya tak merespon apapun. Melongo menatap semburat sore di langit. Menyentuh kedua pipi menggunakan kedua tangannya dengan mulut menganga.


"Sialan, gue dikerjain," desis Reiga seraya bangkit dari tidurnya, menatap punggung kecil Aurora yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu. "Woi! Bantuin gue! Ini masih banyak, Singa! Hei! Cewek bar-bar! Singa lepas! Galak!" Reiga memekik saat menyadari arti kalimat terakhir Aurora. Sial sekali nasibnya sore ini.


Sadar seruannya  tidak direspon sama sekali, Reiga mengacak rambut frustasi. Seharusnya ia tidak termakan ancaman Aurora tadi—meski itu menakutkan dan menantang mental. Dan tentu ia tidak akan ditinggal di sini sendiri untuk mengupas semua mangga.


Karena lelah menggerutu dan menyesali kejadian tadi, Reiga meraih pisau dengan gagang warna merah muda di dalam wadah. Lantas melanjutkan mengupas mangga yang entah untuk apa.


---🌟🌟🌟🌟🌟---

__ADS_1


__ADS_2