Dear AURORA

Dear AURORA
23 : Gadis yang Ceroboh


__ADS_3

Aurora melengos begitu saja saat berpapasan dengan Reiga yang-mungkin-sengaja menunggunya di depan kelas. Reiga sendiri seperti biasa, tak terlalu menganggap serius dan mengikuti Aurora hingga ke bangku gadis itu. Lantas duduk di meja sambil menatap lekat pemiliknya.


"Pergi!" usir Aurora. Entah kenapa, hawa sekitarnya berubah panas saat Reiga justru membungkuk mendekatkan diri. Sensasi yang hampir sama saat Bintang bersamanya.


Reiga menarik diri dan menulikan pendengaran. "Ngomong-ngomong, lo bakal tanding sama gue hari minggu."


Aurora sedikit tersentak, hidung dan matanya mengerut tak percaya. Otaknya menggali informasi yang mungkin saja tenggelam di alam bawah sadarnya.


Melihat Aurora terdiam selama beberapa saat, Reiga menyunggingkan senyum miring. "Jangan bilang lo lupa," ejek Reiga.


Aurora menggeleng kuat. Menampik fakta bahwa ia memang lupa dengan tantangan itu. "Gue gak lupa!" jawabnya mantap.


Alis Reiga terangkat tak percaya. Mencari-cari kebohongan di manik indah milik Aurora. "Lo gak-"


"Good morning everybody! Do you miss me?! I miss you too!"


Sapaan kelewat ceria milik Sellena meruntuhkan suasana serius antara Reiga dan Aurora. Membuat beberapa siswa kelas XI-5 menyapa balik, mendengus kesal juga menggerutu karenanya. Seperti Udin, Doni dan Edo yang masih asik dengan cacing peliharan mereka-secara harfiah, iyu hanya permainan.


"Berisik, Sel! Cacing gue nabrak lo gue tuntut!" Udin bersungut. Dua temnannya-Eeo dan Doni-mengangguk sepakat.


"Bodo amat!" Sellena balas tak peduli. Dengan tenang melangkah ke bangku sambil mengamati pemuda yang duduk membelakaginya.


"Siapa, Ra? Kak-"


Pertanyaan Sellena terhenti kala yang dimaksud menoleh. Memperlihatkan wajah tak suka karena ganguan yang ia dapat tadi.


"Diem." Reiga memperingati.


Sellena mengangguk kaku, duduk di samping Aurora. "Kenapa dia kesini?" bisiknya pada Aurora.


"Gak tau," bisik Aurora menanggapi sementara tatapannya masih terkunci pada pemuda di depannya


"Minggu pagi kita tanding sesuai tantangan lo di kantin waktu itu." Reiga memperjelas masksudnya. "Kalau nolak, berarti lo takut sama gue."


"Heh! Lo bilang apa tadi?! Udah, Ra, gak usah diladeni!" sergah Sellena. Ia bahkan sampai setengah bangkit dari kursi jika Aurora tak menariknya duduk lagi.


Terlambat bagi Sellena untuk memperingati, Aurora yang memang keras kepala sudah tersulut kalimat terakhir Reiga. Maka tidak ada kata mundur dalam kamus gadis itu. Apalagi mengingat bahwa Reiga mengoloknya penkut juga fakta ia yang memberi tantangan. Yang benar saja, ia bahkan bernai menaiki wahana halilintar di Dufan saat berumur sepuluh tahun. Pemberani, bukan?


"Gak usah dituruti, Ra. Dia cuma mau mancing lo aja," bisik Sellena menghentikan.

__ADS_1


Aurora menggeleng tegas. Memandang Reiga yang menjulang tinggi di hadapannya. "Cih, lo pikir gue takut?" tanya Aurora tegas. Sepagi ini, emosinya sudah dibakar sampai ubun-ubun. Jadi, jika memang sudah tersulut, sekalian saja dibakar sampai menjadi arang. Ia akan membuktikan pada Reiga, tidak ada yang ia takutkan. Kecuali satu, menyatakan perasaan pada Bintang.


"Ra," tegur Sellena.


Reiga memandang remeh pada Aurora. Menatap seperti mengatakan kita-semua-tahu-itu. Lantas mengangkat bahu tak acuh. "Menurut lo?"


"Gue gak takut!" Aurora membentak. Ia tak suka wajah Reiga yang meremehkannya, ia tak tatapan Reiga yang mengejeknya dan ia memang tak suka Reiga dalam segala aspek kehidupan.


Senyum miring tercetak di bibir Reiga. Tipis saja, sangat tipis hingga terlihat tak ada ekspresi di sana. Detik berikutnya, Reiga turun dari meja dan melangkah keluar. Sebelum kakinya benar-benar keluar, Reiga berbalik. "Gue tunggu lo hari minggu pagi, di ruang ekskul taekwondo Siapin diri, karena yang gue undang bukan orang main-main. Saga, Bang Bayu dan ... well, Master B, mungkin?" jelas Reiga sambil mengakat bahu di kalimat terakhirnya. "Wah, gue gak sabar ngalahin lo," lanjutnya sambil menyeringai.


Aurora menyumpahi Reiga yang berjalan masih berdiri tenang di ambang pintu. Bukan karena takut kalah, kemampuannya jauh di atas Reiga. Kemenangan telak berpihak padanya. Namun Master B, kehadiran pria paruh baya itu akan menjadi tekanan tersendiri baginya.


"Dan gue gak nerima penolakan. Dateng atau reputasi lo berubah jadi Aurora si pecundang." Reiga tertawa mengejek di akhir, kemudian melanjutkan langkah sambil bersiul-siul aneh.


Baiklah, kedengarannya sangat mengancam bagi Aurora.


Sellena langsung menyikut lengan Aurora setelah Reiga meninggalkan kelas. "Lo tuli apa budek? Gue panggil dari tadi gak nyahut!" pekiknya kesal.


Aurora mengerang kesakitan. Ujung siku Sellena yang tajam terasa menyakitkan di lengannya. "Lo apa-apaan sih? Sakit, Sel!"


"Biarin!" ketusnya. "Lo sih, gue panggil gak nyahut!"


"Hari Minggu, Ra!" teriaknya kesal. "Lo nerima tantangan bodoh Reiga di hari Minggu pagi. Lo gak inget apa yang bakal lo lakuin di minggu pagi?"


Aurora mengerutkan dahi. Masih belum mengerti arti kalimat Sellena.


"Terus? Demi harga diri gue, Sel. Emang hari Minggu pagi ada apa sih?"


"Ya ampun, Ra!" Sellena mengerang. "Lo beneran gak inget?"


Aurora mengangguk. Ia benar-benar tidak ingat apa yang akan ia lakukan di hari Minggu pagi. Memang ada apa? Apa ada hal penting? Lebih penting dari harga dirinya?


Sebelum Aurora sempat menjawab pertanyaan Sellena. Gadis kristen itu menyela lebih dulu. "Dear Aurora yang hari ini bersikap ***** bin ceroboh, lo lupa kalau ada janji sama kak Bintang di Minggu pagi buat CFD-an?"


Aurora yang tadi hendak protes karena ejekkan Sellena segera menutup mulut. Bola matanya melotot tak percaya. Mengeluarkan ponsel dan menghidupkannya, melihat bahwa di sana ada memo yang bertuliskan 'Hari Penting! Kencan Sama Kak Bintang!'.


Sekarang Aurora hanya bisa merutuki diri sendiri. Ia benar-benar lupa akan hal itu. Sungguh, ia tidak berniat melupakannya.


Ucapan Sellena serasa petir di siang hari. Menyambar Aurora hingga ulu hati dan mematikan segala saraf tubuh. Bagaimana ia bisa lupa? Padahal baru kemarin ia bercerita dengan penuh semangat kepada Sellena. Jingkrak-jingkrak di rumah hingga hampir di ruqyah sang mama. Papa bahkan sampai bertanya apa ada yang memukul kepalanya. Karena sungguh, ia kelewat senang hingga kebahagiaannya meluber ke mana-mana.

__ADS_1


Aurora menyesal karena terperangkap dalam kata-kata Reiga yang penuh jebakan Batman. Sekarang, ia hanya bisa merutuki kebodohannya. Senyum kemenangan Reiga beberapa menit lalu menginvasi otaknya. Dan tak berselang lama, senyum manis Bintang menggantikan. Ia harus bagaimana?


"Nah, sekarang Aurora sedang kehilangan kesadaran dan menyalahkan diri sendiri," cibir Sellena. "Andai ko dengerin gue, gak bakal kayak gini kejadiannya."


Demi Tuan Krab si penggila uang yabg selamanya berwarna merah. Ini bencana!


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Sekarang ini, Aurora berharap supaya Bintang tidak menemuinya ke kelas dan mengajak pulang bersama. Sungguh, gadis itu akan merasa sangat bersalah pada Bintang. Melupakan kencan, ah bukan, tapi acara car free day di minggu pagi.


Namun dilihat dari sisi manapun, Dewi Fortuna jelas lebih memilih memihak pada orang tampan ketimbang gadis apa adanya seperti dirinya ini. Bintang terlalu luar biasa untuk dilewatkan.


Bintang, pemuda itu telah berdiri di depan dengan tangan kanan menyandang tali tas yang di sampirkan di bahu kanan. Sedang tangan kirinya masuk ke dalam saku hingga setenga. Sangat keren di mata Aurora.


"Ra, ayo pulang," ajak Bintang.


Di tempat duduk, Aurora menggigit bibir gusar. Matanya melirik ke segala arah sementara otaknya memikirkan alasan yang masuk akal. Untuk hari ini saja, Aurora tidak ingin pulang bersama Bintang.


"Emm .. a-aku ada pi-piket, Kak. Ah iya, aku harus piket." Aurora beranjak ke sudut kelas. Meyelipkan diri di sela lemari untuk menggapai sapu yang diletakan di sana.


Bintang mengernyit. Padahal banner di yang terpaku di tengah dinding belakang kelas menuliskan bahwa Aurora piket hari senin. Artinya, jadwal piket gadis itu kemarin.


"Kami piket hari senin, Ra." Bintang mengingatkan.


"Eh, i-iya bener. Aku piket hari senin." Aurora tertawa canggung, sedikit melirik banner yang menjadi perhatian Bintang sesaat. Bodoh sekali, ia bahkan lupa jika kemarin Udin menyeretnya untuk piket. Dan sekarang apa yang akan ia gunakan sebagai alasan. Kerja kelompok? Aurora tak ingin menjadi lebih bodoh saat ini. Di kelas hanya tersisa dirinya sendiri.


Maka, dengan segala rasa bersalah yang menyerang hati dan pikiran, Aurora mengikuti Bintang di belakang. Bukan berjalan berisisan seperti biasanya. Bintang pun tak banyak bicara juga tidak menawarkan susu stroberi seperti biasa. Entah, pemuda itu hanya berusaha tidak menganggau Aurora yang sepertinya sedang ada masalah.


"Lo aneh, Ra!" ujar Bintang saat mereka sampai di parkiran.


Gadis itu gelagapan menerima helm dari Bintang. "A-apanya yang aneh, Kak? Biasa aja tuh."


"Gak tau, gak kayak biasanya aja." Bintang menimpali. "Ada yang ganggu pikiran?"


Aurora menggeleng kuat. "Enggak. Tadi habis ulangan biologinya pak Sungeng. Susah banget, materinya apa, soalnya apa. Nalar semua jawabannya."


Bintang mengangguk pasrah. Ia sudah hafal cara mengajar guru itu yang mejadi keluhan utama muridnya. Soal ulangan yang diharuskan menalar lebih dalam untuk mendapat jawaban. Tak ingin memaksa jika Aurora memang tidak ingin bercerita. Ia cukup tahu batasan, privasi Aurora biarlah gadis itu sendiri yang mengurusnya.


Sementara di belakang, Aurora masih merutuki kebodohannya pagi tadi. Tidak mungkin jika ia menceritakan hal ini pada Bintang. Bisa-bisa pemuda itu menganggap dirinya main-main. Tapi jika dipikirkan lagi, apa yang perlu mereka berdua seriuskan? Mereka hanya sepasang kakak kelas dan adik kelas, bukan sepasang sejoli yang dimabuk asmara. Dan juga, acara car free day, kan, memang untuk bersenang-senang.

__ADS_1


__ADS_2