Dear AURORA

Dear AURORA
Jangan Rebut Semuanya


__ADS_3

Keesokan paginya Aurora sudah bersiap akan ke sekolah, Ia turun ke lantai bawah untuk sarapan. Tapi, tiba-tiba saja langkahnya terhenti karena dia melihat Daren yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.


"Papah...?" Ucap Aurora yang masih terkejut dan tak percaya dengan apa yang Daren lakukan pagi ini.


"Selamat pagi putri cantik papah" Sapa Daren dengan tersenyum manis pada Aurora.


"Pa-gi pah" Jawab Aurora terbata karena ia merasa canggung kali ini dengan perubahan sikap Daren.


"Sarapan dulu Ra" Ajak Daren dengan menggeser kursi meja makan untuk Aurora duduk.


"Mbok Mina mana pah?, Kok gak keliatan?" Tanya Aurora dengan celingukan mencari Mbok Mina.


"Ada lagi cuci piring di dapur" Jawab Daren yang langsung di angguki Aurora.


"Nih papah udah buatin sandwich untuk kamu sarapan" Ucap Daren dengan menyodorkan roti yang telah ia buat untuk Aurora.


Aurora menatap tak percaya Daren, Yang benar-benar berubah 180 derajat kali ini padanya.


"Papah yang buat?" Ucap Aurora karena masih tidak percaya.


Pertanyaan Aurora pun langsung membuat Daren tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kalau gak enak, Minta di ganti aja. Trus buat lagi sama Mbok Mina yah Ra"


Aurora pun sontak menggelengkan kepalanya, Seolah menjawab tidak mau di ganti.


Aurora langsung mengambil Sandwich yang sudah Daren buat dengan ragu-ragu, Setelah satu suapan. Mata Aurora pun langsung membulat sempurna.


Daren yang melihat reaksi Aurora memakan sandwich yang ia buat pun, Langsung tak karuan. Takut Aurora tidak suka dengan yang sandwich yang ia buat.


"Gak enak yah Ra?" Tanya Daren.


Aurora pun menggelengkan kepalanya, Lalu menelan roti yang ia makan.


"Ini enak pah, Ternyata papah jago juga yah buat sandwich seenak ini" Puji Aurora.


Daren yang awalnya terdiam pun sontak tersenyum senang, Karena Aurora menyukai sandwich yang ia buatkan.


"Habiskan yah, Nanti papah buatin lagi untuk bekal kamu" Ucap Daren dengan beranjak dari duduknya.


"Papah gak sarapan?" Tanya Aurora yang langsung menghentikan langkah Daren.

__ADS_1


"Papah udah sarapan, Tadi sebelum kamu turun" Jawab Daren dengan berlalu pergi menuju dapur.


Di meja makan, Aurora kini sedang senang. Karena apa yang ia mau sudah terwujudkan, Kasih sayang dari Lina yang sudah ia dapatkan. Meskipun hanya sebentar tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Aurora.


Dan kini Daren, Perubahannya pada Aurora membuat hati Aurora kini menghangat. Rasa kesepiannya kini telah terisi dengan adanya Daren yang menyayanginya seperti dulu kembali.


"Semoga Papah gak berubah lagi untuk abaikan Ara yah pah, Sudah lama Ara menantikan waktu yang sekarang ini. Sampai akhirnya papah luluh juga sama Ara, Ara harap papah selalu seperti ini pah.." Batin Aurora yang tak terasa air matanya mengalir begitu saja.


"Ini kotak bekalnya Ra, Sekalian kamu minum susu dulu yah. Barusan papah buatin untuk kamu biar makin pintar sekolahnya Ka.." Ucap Daren yang berjalan dari dapur menuju meja makan.


Saat sampai di meja makan, Daren langsung berhenti bicara. Karena melihat Aurora yang sedang melamun dengan berderai air mata, memegang sandwich yang telah ia buat.


"Ra..?, Kamu kenapa nangis?" Tanya Daren dengan menepuk pundak Aurora.


Aurora pun langsung tersentak kaget, Dan buru-buru menghapus air matanya.


"Gapapa pah, Ara cuman lagi rindu mamah aja" Alibi Aurora dengan tersenyum ke arah Daren.


"Sudahlah Ra, Mamah udah tenang di alam sana. Sekarang kan ada papah, Ayo cepat minum susunya. Nanti kamu terlambat ke sekolah" Ucap Daren yang langsung di angguki Aurora.


"Makasih pah" Ucap Aurora dengan beranjak dari duduknya untuk berpamitan pergi ke sekolah.


"Papah antar kamu ke sekolah yah" Ucap Daren yang langsung membuat Aurora lagi-lagi terkejut.


"Papah antar kamu ke sekolah yah Ra, Gimana kamu mau?" Tanya Daren.


Bukannya menjawab Aurora malah diam mematung, Karena baru kali ini Daren ingin mengantarkan Aurora untuk pergi sekolah.


"Ra..?" Ucap Daren dengan menepuk kembali pundak Aurora.


"Gimana ?" Tanya Daren kembali pada Aurora.


Aurora hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apapun.


Setelah beberapa menit perjalanan menuju ke sekolah, Aurora dan Daren pun sampai.


"Ternyata begini rasanya di antar sekolah sama orang tua" Batin Aurora dengan tersenyum tipis.


"Udah sampai Ra, Belajar yang rajin yah. Nanti kalau sempat papah jemput kamu pulang yah" Ucap Daren yang langsung menyadarkan Aurora dari lamunannya.


Aurora hanya menganggukkan kepalanya, Lalu turun dari mobil Daren.

__ADS_1


"Papah pergi dulu yah Ra.." Pamit Daren dengan menutup kaca mobilnya dan pergi.


Tanpa Aurora tahu, Livy melihat Aurora yang di antarkan ke sekolah oleh Daren, Membuat Livy kembali marah.


"Sialan!, Ternyata ini alasan papah gak pulang?. Gara-gara si putri salju, Pake segala di anter lagi. Gua juga yang serumah gak pernah di anterin sama papah" Gumam Livy dengan Mengepalkan kedua tangannya.


"Gak bisa di biarin" Ucap Livy dengan berjalan menghampiri Aurora.


"Aurora!" Panggil Livy dengan lantangnya.


Aurora yang sedang berjalan di koridor sekolah pun langsung berhenti, Dan berbalik badan menghadap ke arah Livy yang sedang berjalan menghampirinya.


"Papah anterin kamu?" Basa-basi Livy pada Aurora.


Aurora hanya diam dengan menatap datar Livy.


"Kalau sudah lihat, Kenapa harus bertanya?" Ucap Aurora yang langsung membuat Livy mati kuku.


"Jadi papah gak pulang ke rumah, Cuman gara-gara nemuin kamu?" Tanya Livy.


Aurora hanya diam menatap Livy dengan menaikkan satu alisnya, Lalu mengedikkan bahunya acuh seolah tak peduli.


"Gara-gara kamu juga Ra, Mamah aku kesepian karena papah gak pulang" Ucap Livy yang langsung di tatap tajam Aurora.


"Ngomong sekali lagi!" Ucap Aurora datar.


"Kamu tahu Ra?, Papah jadi berubah sikap sama mamah dan aku. Itu cuman gara-gara kamu!"


"Dia ayah saya, Ayah kandung saya. Dan saya anaknya, Sudah seharusnya saya di pedulikan oleh ayah saya sendiri. Karena saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah saya" Jawab Aurora yang langsung membuat Livy bungkam.


"Baru di tinggal sehari sudah kesepian, Bagaimana jika ibu kamu merasakan apa yang ibu saya rasakan dulu. Kehilangan suami karena ada yang merebutnya"


"RA..." Teriak Livy di depan wajah Aurora.


"Diam!, Jangan Sesekali kamu berani meninggikan suara kamu di depan wajah saya!" Ucap Aurora dengan menunjuk wajah Livy.


Livy langsung menepis jari telunjuk Aurora yang tepat di depan wajahnya.


"Tapi Ra, Kamu sadar gak sih. Kamu udah rebut semuanya, Mulai dari Ares yang sekarang jauhi aku, Trus sekarang papah berubah sikap sama mamah dan aku. Itu semua gara-gara kamu Ra!"


"Bukan saya yang merebut semuanya, Tapi saya hanya ingin mengambil hak saya. Dan saya sangat ingin kamu dan ibu kamu merasakan apa yang sudah saya rasakan!. Arti dari kehilangan" Ucap Aurora dengan tersenyum smirk ke rah Livy.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Aurora pun langsung pergi dari hadapan Livy.


"Brengsek!" Umpat Livy dengan mengepalkan tangannya menatap Aurora yang sudah pergi.


__ADS_2