Dear AURORA

Dear AURORA
Manusia Aneh


__ADS_3

Setelah satu minggu di London untuk menjalankan bisnis, Akhirnya Daren kembali pulang bersama Hana. Tapi sebelum itu, Daren meminta untuk berbelanja terlebih dahulu karena ingin memberikan hadiah pada Aurora.


"Tumben kamu mau belanja oleh-oleh dulu mas, Biasanya kan selalu aku yang maksa kamu. Tapi sekarang malah kebalik" Celetuk Hana dengan terkekeh.


"Aku ingin memberikan oleh-oleh ini untuk Aurora Hana" Jawab Daren dengan mengambil cokelat yang ada di supermarket tersebut.


Hana yang semula tersenyum seketika langsung terdiam, Mendengar ucapan Daren yang tiba-tiba ingin memberikan oleh-oleh itu untuk Aurora, Karena jika biasanya Daren akan meminta Hana untuk membelikan oleh-oleh itu hanya untuk Livy.


"Kenapa?" Tanya Daren yang melihat kediaman Hana.


"Gak papa, Aku cuma senang aja. Akhirnya kamu gak marah lagi sama Aurora" Ucap Hana dengan tersenyum tipis pada Daren.


"Aku ingin memperbaiki hubungan ku dengan dia Hana, Karena sudah lama aku mengabaikan anakku sendiri. Dan aku tidak ingin sampai menyesal nantinya" Jawab Daren.


"Kamu benar mas" Ucap Hana.


***


Di rumah kini Livy sedang menangis seorang diri, Ucapan Ares beberapa hari lalu yang akan menjauhinya ternyata benar. Sampai sekarang Ares tidak memperdulikannya lagi.


"Aurora lagi, Aurora lagi. Kamu jahat Aurora!, Kamu lihat saja. Aku akan mengambil kembali Ares pada ku lagi!" Gumam Livy yang melihat kaca jendela Ares dari sebrang balkon kamarnya.


"Nggak gua gak boleh lemah, Kalau gua cuman diam trus nangis. Yang ada si Putri salju bakalan senang, Gua harus buat cara supaya Ares kembali lagi sama gua" Ucap Livy dengan Mengepalkan kedua tangannya.


***


Disisi lain kini Aurora sedang duduk termenung di ruang tv seorang diri, Rasa sunyi dan sepi kini telah menjadi temannya sehari-hari.


Jika biasanya ruang tv akan terasa hangat, Karena adanya Lina yang suka menonton tv. Dan majalah-majalah yang selalu Lina gemari untuk dilihat, Kini hanya tergeletak tak tersentuh.


"Meskipun mamah udah gak di samping Ara, Tapi Ara merasa mamah selalu dekat sama Ara mah. Mamah tahu gak, Kalau selama ini Ara itu hidup penuh dengan kebohongan. Waktu itu Ara sempat cekcok sama Papah mah, Dan dia bilang. Kalau Ara itu anak haram, Anak yang tidak pernah di inginkan. Pantes aja Ara ngerasain kasih sayang mamah sama papah itu cuman Sebentar, Ternyata ini alasannya yah mah, Sampai mamah tega ninggalin Ara untuk ketemu sama Mira" Lirih Aurora dengan air mata yang mengalir deras.


Tatapan Aurora beralih pada foto keluarganya yang dulu, Dimana masih ada Mira kecil yang masih balita.


"Hai Mira, Kamu pasti bahagia yah disana. Kamu pasti gak kesepian kayak kakak kan disana udah ada mamah. Kakak titip mamah disana yah Mir, Sampai suatu saat nanti kakak akan menyusul kalian berdua" Ucap Aurora dengan mengusap lembut bingkai foto mereka berempat.


"Untuk papah, Ara gak ada harapan lagi buat meminta kasih sayang sama papah. Tapi, Ara akan membalaskan perbuatan kalian. Sampai kalian harus merasakan kehancuran yang sama Ara dan mamah rasakan, Segera lah pulang pah. Biar Ara bisa lebih leluasa untuk berbalas dendam pada keluarga papah, Termasuk papah juga" Ucap Aurora dengan tersenyum smirk, Senyuman yang begitu menakutkan jika dilihat.

__ADS_1


Sebenarnya Aurora sudah merancang rencana untuk menghancurkan keluarga baru Daren dan Hana. Aurora tidak dapat menerima jika ia harus menderita dan hidup penuh dengan kesepian.


Berbeda dengan Daren yang hidup dengan keluarga yang sempurna, Sampai Livy bukan anak kandung Daren pun sangat begitu di sayangi oleh Daren.


Sedangkan Aurora?, Hidup sendirian tanpa adanya sosok dan peran dari sang ayah. Bukan hanya sekarang, Tapi sudah dari 5 tahun yang lalu Daren menelantarkan Aurora. Hal itu pun membuat diri Aurora ingin sekali menghancurkan keluarga ayahnya, Yang bersenang-senang di atas kepedihannya.


Aurora tak terima jika mereka masih hidup bahagia, Dari hasil penghianatan terhadap ibunya Lina.


Tok


Tok


Tok


Mendengar suara ketukan pintu, Aurora langsung menoleh ke arah pintu dengan kening berkerut.


"Ck, Siapa yang datang malam-malam begini" Gumam Aurora dengan melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


Ceklek


Pintu terbuka, Dan ternyata yang datang bertamu di malam hari pada Aurora adalah Arka.


Aurora hanya menatap datar Arka tanpa membalas sapaannya.


"Ada apa?" Tanya Aurora datar.


"Gak papa, Cuman mau mampir aja" Jawab Arka dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Hm"


"Gak di ajak masuk ke dalam rumah gitu?" Tanya Arka yang langsung membuat Aurora menatapnya dengan satu alis terangkat.


"Yaudah gapapa, Di teras aja. Ayok duduk" Ucap Arka yang tanpa malunya menarik lengan Aurora untuk duduk di kursi yang berada di teras rumah Aurora.


Aurora hanya memutar bola matanya malas, Melihat tingkah Arka yang tidak ada rasa malunya.


"Udah makan?" Tanya Arka yang hanya di balas gelengan kepala saja oleh Aurora.

__ADS_1


"Kenapa?, Gak ada beras kah di rumah?" Tanya Arka dengan wajah polosnya menatap Aurora.


Aurora langsung menatap sinis Arka.


"Hehe, Jangan ngeliatinnya kayak gitu dong. Nih aku bawain ayam katsu dari kafe" Ucap Arka dengan menyodorkan satu kantong plastik berisi ayam katsu pada Aurora.


Aurora hanya melihat kantung kresek tersebut tanpa mengambilnya, Hal itupun membuat Arka gemas.


"Ambil, Atau mau aku suapin?" Tawar Arka dengan menaik turunkan alisnya menatap wajah Aurora.


"Gak!" Jawab Aurora dengan mengambil kresek tersebut.


Arka langsung terkekeh melihat tingkah Aurora yang menggemaskan menurutnya, Sampai tak terasa Arka mengusap kepala Aurora.


"Anak pintar" Ucap Arka dengan mengusap kepala Aurora, Membuat Aurora langsung kaget melihat sikap Arka.


"Maaf reflek, Kurang ajar banget yah ini tangan"


"Ya kurang ajar, Minta di amputasi" Celetuk Aurora yang langsung membuat Arka membulatkan matanya kaget.


"Jangan dong, Kalo tangan ini di amputasi. Gimana nanti aku elus kepala kamu lagi" Jawab Arka dengan memeluk tanganya sendiri.


Melihat tingkah Arka yang seperti anak kecil, Aurora langsung tersenyum. Senyuman yang jarang di tampilkan pada siapapun, Membuat Arka terpesona ketika melihat senyuman Aurora.


"Cantik banget anak orang" Gumam Arka tanpa sadar.


Aurora seketika terkekeh melihat sikap Arka yang random bila bersamanya.


"Aneh" Ucap Aurora dengan geleng-geleng kepala melihat Arka yang masih bengong.


Pletak


Aurora sengaja memetik jarinya di depan wajah Arka untuk menyadarkan Arka yang sedari tadi menatap wajahnya dengan bengong.


"Kenapa?" Tanya Arka yang baru sadar.


"Jangan bengong, Nanti kesurupan jin kepret" Celetuk Aurora yang pergi meninggalkan Arka seorang diri di teras rumahnya.

__ADS_1


"Ih amit-amit deh, Eh kalau mau masuk rumah ajak-ajak dong Ra" Seru Arka yang langsung ikut berlari mengejar Aurora yang sudah masuk ke dalam rumah.


"Manusia aneh" Gumam Aurora dengan tersenyum, Melihat tingkah Arka yang menurutnya lucu.


__ADS_2