
Mata Reiga memincing saat melihat Aurora berdiri di samping motornya sambil celingukan seolah sedang menunggu orang lain.
"Ngapain lo di sini? Di deket motor gue?" Reiga bertanya setelah jaraknya terpaut tiga langkah dari gadis itu.
Aurora sontak melongo dengan kedua alis terangkat. "Lo yang minta gue ke sini. Di chat, lo bilang 'parkiran'"
"Emang di chat gue bilang nyuruh lo kesini?" Reiga memiringkan kepala ke kanan dengan tangan menggaruk rahangnya bingung.
"Lo ...." Aurora menghela napas kemudian berbalik. "Tau ah, gue pulang sendiri aja."
Di belakang, Reiga tak terlalu ambil pusing dengan sikap Aurora. Justru wajah datar tergambar di sana. Lalu, sedetik kemudian ia melempar tas punggung Aurora yang ia bawa hingga mengenai punggung gadis itu. "Tasnya jangan lupa," ujarnya tanpa merasa bersalah.
Aurora membalikkan badan, wajahnya bersungut marah dengan kedua tangan terkepal di samping badan. Tanpa berucap apapun, Aurora meraih tas yang tersandar pada lututnya dan kembali berjalan cepat dengan kaki menghentak. Reiga pintar sekali membuat dirinya merasa kesal.
Tapi, baru lima langkah tercipta. Aurora harus rela tubuhnya ditarik paksa oleh Reiga kembali ke samping motor pemuda itu dengan posisi saling berhadapan.
"Lo mau ngapain?! Mau bikin gue naik darah lagi?" Aurora menyalak. Tangannya meronta minta dilepaskan dalam cekalan Reiga.
Reiga tidak mejawab. Tangan pemuda itu terjulur ke belakang tubuh Aurora untuk mengambil helm yang tergantung di sana.
"Gue anter pulang," ucap Reiga setelah berhasil memasangkan helm pada kepala besar Aurora.
Mulut Aurora terbuka hendak melayangkan protes dan seisi kebun binatang untuk menyerang Reiga. Tapi, belum satu kata terucap, Reiga berbicara mendahului.
"Gue gak nerima penolakan," tegasnya.
Aurora tidak berkata apa-apa lagi. Bahkan perjalanan mereka hanya berteman deru mesin motorlr, klakson kendaran lain dan teriakan kernet angkot serta bis. Sepi perbincangan dan mereka nyaman dengan keadaan seperti itu.
---🌟🌟🌟🌟🌟---
Senja menyapa saat Reiga sampai di rumah Aurora. Bukan karena mereka pergi berkencan atau apa, tapi salahkah saja Cloudie—nama motor Reiga—yang tiba-tiba kehabisan bensin dan minta di dorong. Sialnya lagi, Reiga justru menyuruh Aurora mendorong motor dengan alasan sebagai bayaran mengantar sampai rumah.
Dan setelah memarkirkan motor di depan rumah Aurora, Reiga segera menyuruh Aurora turun dengan gerakan kepala. Aurora pun langsung turun begitu saja, kekesalannya masih menumpuk di ubun-ubun.
Desisan sebal meluncur begitu saja dari bibir Aurora, kesal dengan helm yang tak kunjung lepas dari kepalanya. Apalagi fakta bahwa helm ini yang sering dipakai Wulan—Aurora sering melihat Reiga mengatar Wulan dan helm ini dipakai gadis itu—membuat suasana hatinya semakin kacau.
"Sini gue bantu." Reiga menarik lengan Aurora mendekat.
Aurora kembali membatu saat tangan besar Reiga menyetuh kaitan helm, menyikirkan tangannya dan tangan pemuda itu cekatan membuka kaitan. Aurora bahkan tak berkedip, apalagi bernapas. Kejadian tadi dan sekarang seolah membuat sarafnya mati rasa. Seperti cerita klise dalam ftv kesukaan Pak Herman. Dengan latar senja yang tampak indah. Bahkan matahari seolah ingin mengudara kembali demi melihat dua makhluk Tuhan ini.
"Gue tau kalau gue ganteng, tapi ngeliatnya biasa aja." Reiga berucap penuh percaya diri. Lantas menyatukan jari telujuk dan jari tengahnya untuk mendorong kening Aurora, membuat tubuh gadis itu sedikit terhuyung ke belakang
__ADS_1
"Hah?" Aurora mengerjapkan mata lalu setelah paham dengan kalimat Reiga, raut wajahnya berubah sengit. "Dih, PD-nya dikondisikan," cibir Aurora sebelum masuk ke rumah.
"Gue gak ditawarin buat mampir."
Aurora berbalik. Menampilkam senyum manis namun terlihat menyeramkan. "Masuk aja. Masih ada sekerajang mangga yang siap lo kupas," ancamnya yang ampuh membuat Reiga menelan ludah kasar.
"Gak deh, makasih. Gue pulang aja."
Demi mendengar ancaman Aurora, Reiga menggeleng dan segera menghidupkan motor. Bisa mati rasa tangannya jika harus mengupas mangga sebanyak itu. Jadi, instingnya mengatakan pergi atau mati. Dan dengan senang hati Reiga memilih pergi, meninggalkan Aurora yang tak bergeming di posisinya dengan tersenyum kemenangan.
"Ara! Mangganya jangan lupa dikupas! Selainya kurang nih!"
Teriakan Bu Mirna dari dalam membuat senyuman Aurora berganti dengusan sebal. Sekarang ia menyesal sudah mengusir Reiga, seharusnya ia mengajak Reiga masuk tadi. Berbagi kesusahan dengan musuh bisa menjadi salah satu kebaikannya hari ini, bukan?
"Mama kok tau Ara udah pulang?" Aurora bertanya seraya meletakan sepatu di tempatnya.
"Bau keringet kamu kecium sampai dalam, mandi gih. Kecut banget!"
"Mama ih, Ara wangi, Ma!" seru Aurora tidak terima.
---🌟🌟🌟🌟🌟---
Saat tiba di sekolah Aurora dikagetkan dengan terparkirnya satu mobil pick up di dekat gerbang. Tapi bukan itu yang membuat Aurora menghentikan langkahnya, tapi orang-orang yang berkumpul di sekitar pick up. Bintang, Surya, Diego, Amanda, Alya, Wulan, Angga dan Agam yang sedang menaikan barang dan mencentang sesuatu di kertas. Tambahkan, mereka menggunakan baju serta sepatu olahraga. Berbeda dengannya yang memakai baju hijau tosca seragam hari itu.
"Kamu kok gak pakai baju olahraga, Ra?"
Daripada menjawab, Bintang justru ikut melempar pertanyaan melihat penampilan Aurora.
"Jangan bilang—"
"Kita bakal mulai kerjain di lokasi. Aku kemarin udah bilang di grup, jangan bilang kamu gak buka hp kemarin."
Aurora segera menghidupkan daya ponselnya. Mencari grup panitia kemah dan benar saja, di sana Bintang memberi informasi jika akan mulai melakukan pekerjaan di lokasi.
"Kebiasaan." Bintang menggeleng, memaklumi sifat Aurora yang memang jarang membuka ponsel. "Nih,pakai sana." Bintang melempar baju olahraga pada Aurora.
"Kak—"
Aurora hendak bertanya, namun Bintang memotong kalimatnya. Mengusak puncak kepala Aurora lantas pergi.
"Punya sepupu gue. Sengaja gue pinjem buat lo."
__ADS_1
"Makasih Kak Bintang!" seru Aurora dan Bintang menanggapi dengan lambaian tangan.
---🌟🌟🌟🌟🌟---
Reiga menjadi yang paling terakhir datang, namun beruntung hal tersebut tidak menghambat terlaksananya kegiatan pagi tu. Bahkan pemuda itu masih sempat berganti baju olahraga dan sarapan nasi uduk di kantin. Benar-benar seenaknya sendiri dan Wulan justru ikut menemani.
Pukul tujuh lewat lima belas, semua anggota segera naik ke bak pick up, kecuali Bintang. Rencananya, pemuda itu yang akan duduk di depan sambil mengarahkan sopir ke tempat tujuan, namun urung saat melihat Aurora naik ke bak pick up di bantu Alya.
Pemuda itu melangkah mendekati Aurora dan menepuk pundak gadis itu pelan. "Lo yang duduk depan ya, udaranya dingin banget. Apalagi kemarin habis hujan, pasti tambah dingin."
"Eh, gak usah, Kak. Kak Bintang aja yang di depan, gue udah pakai jaket sama baju olahraga juga udah anget, gak bakal kambuh, tenang."
"Gak nerima penolakan. Lo yang duduk depan," paksa Bintang.
Aurora menggeleng lagi. "Gak apa-apa, Kak."
"Ra."
"Aku aja deh, Kak, yang duduk depan," celetuk Wulan bangkit dari duduk dan segera turun. "Aku juga gak kuat dingin," katanya pelan.
Bintang menatap Wulan dengan pandangan tidak bisa diartikan, ada sedikit rasa tidak suka dan kecewa. Bintang menginginkan Aurora yang duduk di depan, bukan Wulan atau siapapun.
Bintang mengembuskan napas. "Minggiran dikit Ra, gue mau duduk."
Aurora segera menggeser badanya mendekati Alya. "Padahal di deket Reiga masih ada tempat. Ngapain harus di sini sih, Kak?"
"Deket." Bintang menjawab singkat. Lantas menurunkan tas di punggungnya dan meletakkan di pangkuan Aurora. "Di dalem ada jaket, syal, sama sarung tangan plus tambahan lima susu stroberi. Kalau dingin langsung pakai aja."
Aurora mengangguk.
Sementara di sebelahnya, Alya terkikik geli melihat interaksi dua orang itu.
"Aurora doang nih yang diperhatiin? Gue juga kedinginan kali, Bin," celetuk Alya menggoda.
Bintang sedikit menggeser duduknya menjauhi Aurora dan menatap Alya dengan delikan tajam. "Lo kalau kedinginan bisa pakai juga, Al."
"Gak usah deh, makasih. Gue tau siapinnya buat Aurora."
Bintang mengulurkan tangannya ke kening Alya, menjitak pelan tapi tetap menyakitkan. "Gak usah aneh-aneh kalau ngomong!"
"Iya-iya, nih gue diem." Alya mendengus, membuat gerakan horizotal pada mulut seolah menguncinya lantas membuang kunci pada jalanan yang masih basah.
__ADS_1
Aurora tertawa. Begitu juga yang lain, lucu memang melihat interaksi mereka berdua.
---🌟🌟🌟🌟🌟---