Dear AURORA

Dear AURORA
9 : Teringat Tantangan Aurora


__ADS_3

Entah angin apa yang membawa Saga datang berkunjung ke rumah Reiga. Padahal, setelah dipikir ribuan kali, Saga sudah sangat muak melihat wajah Reiga dari TK sampai SMA. Selalu satu sekolah, satu kelas dan satu bangku. Intinya mereka selalu bersama melebihi seorang saudara kembar.


Fakta  lain yang membuat Saga mudah mendatangi rumah Reiga adalah karena  rumah mereka  berdua  tepat berdampingan. Dengan kamar berhadapan, membuat mereka semakin mudah untuk saling mengunjungi. Tak perlu lagi turun tangga, berjalan, mengetuk pintu dan barulah mereka sampai. Tidak, etika itu tidak berlaku bagi mereka. Dua pemuda  itu hanya perlu melompat seperti monyet dari jendela masing-masing dan sampai.


Tenang, kegiatan itu bukanlah hal yang berbahaya, jendela kamar mereka  hanya  berjarak dua jengkal tangan kecil Bu Ira. Walaupun jika memang mereka sedikit ceroboh, jatuh adalah opsi paling menyakitkan.


"Lo ngapain di sini, Sag!" Reiga berseru marah saat menemukan Saga sedang berbaring seperti bintang laut di ranjangnya. "Balik ke habitat lo sana!" usirnya tegas.


Saga menggeliat, menepis tangan Reiga yang menariknya paksa. "Apaan sih Ga? Orang udah biasa begini, gue lagi mager!"


Reiga mendengus kasar. Ikut berbaring sambil menendang pinggang Saga ke kanan. "Minggir, gue  mau rebahan juga."


Saga mengumpat merasakan ngilu pada tulangnya. Lantas menggeser tubuhnya kasar ke kanan, memberikan cukup tempat untuk Reiga  berbaring. "Biasa aja kali, gak usah nendang-nendang!"


Reiga tidak peduli, menyamankan posisi sambil memeluk guling bersarung Manchaster United. "Lo pikir gue peduli?" tanyanya remeh.


Saga mengelus dada, menahan keinginan untuk mencekik leher Reiga sekarang juga. "Sabar Saga, sabar. Diemin dulu aja, biar Aurora yang nampol," gumamnya pada diri sendiri.


Alis Reiga tertaut saat mendengar Saga menyebut nama Aurora. Posisinya yang tadi membelakangi Saga kini berbalik menghadap pemuda itu. "Ngapain juga Aurora nampol gue?" sahutnya.


"Lah, bukannya sebulan lagi lo tanding sama Aurora? Kan enak tuh buat ajang balas dendam gue ke lo."


Reiga melotot. "Tanding?" tanyanya tak yakin.


Saga balas  menganguk. "Kan dia nantangin dan lo setuju."


Reiga semakin terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Saga. "Kapan dia ngasih tantangan? Dan kapan gue setuju?"


Saga menepuk dahi. Lantas mengaduh mendapati sahabat karibnya ini lupa dengan tantangan yang diberikan Aurora. "Lo gak inget? Kejadian di kantin waktu itu?"


Reiga menggeleng. Kepalanya tertunduk beberapa saat, mencoba mengingatnya. Lantas Menatap Saga yang belum bergeming dari posisinya.


"MATI GUE!" pekik Reiga.


Saga terperanjat dari tidurnya. Melempar bantal pada Reiga. "Gue kaget ****!"


Reiga bersungut. Mendelik tajam kemudian balas melempar. "Mati beneran gue kalau nekat lawan Aurora."


Saga mendecih. "Kemarin yang sok-sok-an nantang Aurora siapa? Kok lupa gue," sindirnya.


"Sialan lo," desis Reiga.


"Sag," panggil Reiga dan ditanggapi deheman ringan oleh Saga. "Lo ada kenalan orang yang jago bela diri?"


Saga menggeleng. "Gak ada," jawabnya singkat. "Mau apa lo? Nyuruh gantiin lo lawan Aurora?"


"Ya enggak lah! Hancur harga diri gue kalau lawan cewek aja perlu di wakilin!" sungutnya.


Mulut Saga sedikit terbuka dengan suara kikikan, menutup mulut agar tidak kelepasan tertawa. "Padahal harga diri lo udah hancur, Ga. Lo udah dua kali dikalahin Aurora. Apalagi cara main lo jambak-jambakan, pftt .... hahaha! Persis anak cewek," ejeknya.


Reiga tidak peduli dengan ejekkan Saga. Menutup wajah pemuda itu menggunakan bantal hingga kehabisan napas. "Mati aja lo!" kesalnya.


"Gila! Gue mati beneran, heh!" sungut Saga setah berhasil lepas dari bekapan Reiga.


"Lo beneran gak ada kenalan?" tanya Reiga kembali ke topik.


Saga mendengus. "Bang Bayu bisa kali," ujarnya setengah kesal. "Entar gue tanyain."


Senyum cerah terbit di bibir Reiga. Sontak saja pemuda itu melompat ke arah Saga, merangkul pundak pemuda itu untuk berbaring lagi bersamanya. "Thanks, Sag."


"Lepasin, Ga! Ambigu oi!" Saga berusaha melepaskan diri dari pelukan Reiga, risih dengan posisi mereka saat ini yang sedikit ambigu jika di lihat dari samping. Dasar temannya satu ini memang bisa bersikap aneh sekaligus keren dalam satu waktu.

__ADS_1


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Pagi ini Aurora menemukan keadaan kelas yang jauh lebih ramai ketimbang saat menerima berita pulang pagi—secara harfiah tidak mungkin terjadi. Sorakan senang dari tiga sekawan, yaitu Udin, Edo dan Doni yang paling keras diantara gelak tawa teman sekelasnya. Mereka bertiga baris sejajar dan saling memegang pundak satu sama lain, mengelilingi kelas sambil bernyanyi yel-yel menggunakan  nada lagu 'Naik Delman' dengan lirik yang telah diubah.


Pada hari jum'at aku pergi ke lab bio


Bawa buku binder, pakai jas lab kududuk di depan


Kududuk di belakang PSG yang sedang mengajar


Menjelaskan biologi yang tak pernah ku paham


OI


Lo telo telo telo telo telo telo


Lo telo telo telo telo telo itu kata pak sugeng


"Ra," sapa Sellena dari balik meja guru, membereskan isi laci dan tempat spidol.


"Hai Sel." Aurora berjalan mendekat ke arah Sellena. "Kenapa sama tiga curut itu?"


"Belum tau Ra?" Sellena balik bertanya.


Aurora menggeleng.


"Kebiasaan." Sellena mendecak. "Dibuka gih HP-nya. Pak Sugeng gak bisa ngajar sekarang, istrinya lagi lairan."


"Lagi?" tanya Aurora tak percaya. "Sumpah demi apa, anak udah empat juga masih nambah lagi," imbuh seraya tertawa kecil.


"Percaya sama pepatah lama kali, Ra. Banyak anak banyak rezeki," jawab Sellena asal.


"Banyak anak banyak pengeluaran, sama ajalah kalau gitu. Gak nambah gak ngurang," sanggah Aurora.


Aurora balik kanan. Meletakkan tas di bangku dan segera mengambil sapu di sudut kelas—jadwalnya piket.


"Eh, Sel. Pak Sugeng ngasih tugas gak?" Aurora menghentikan kegiatannya sebentar, setengah berteriak bertanya pada Sellena yang masih berkutat dengan meja guru.


"Ya kali nggak ngasih. Merdeka dunia akhirat gue."


Jadi, lupakan sebentar tentang kesenangan yang menghampiri kelas.XI-5. Nyatanya lima belas menit setelah bel tanda pelajaran pertama, petugas resepsionis memanggil Hajar untuk mengambil tugas di meja resepsionis. Tugas yang membuat tiga sekawan XI-5 menangis tergugu setelah senang menyanyikan yel-yel dadakan mereka.


---🌟🌟🌟🌟🌟---


Hari Jum'at memang menjadi yang paling dinanti. Selain karena pelajaran berakhir dua jam lebih cepat, kegiatan ekstrakurikuler sepulang sekolah menjadi alasan tersendiri. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian murid lebih memilih membolos dan pulang.


Tapi bagi Aurora, ekstrakurikuler adalah kegiatan yang paling ia tunggu sejak tiga hari lalu, tepatnya  sejak Bayu berhasil menjatuhkannya tanpa perlawanan berarti.


Maka dari itu, hari ini Aurora akan membalas kekalahannya  dan membuktikan bahwa ia memang pantas mewakili sekolah dalam turnamen itu.


Setelah mengganti pakaian, Aurora segera melangkah masuk ke ruang ekstrakurikuler taekwondo. Di sana ia bisa melihat Master B yang berdiri gagah bahkan saat usianya sudah menginjak kepala lima, juga Bintang yang duduk di pinggir arena sambil tersenyum padanya—mungkin—dan jangan lupakan Bayu yang sudah berdiri angkuh di tengah arena. Menunjukkan wajah bosan karena menunggu Aurora yang terlalu lama.


"Cepat masuk ke arena Aurora! Saya tidak punya waktu sepanjang sore untuk menunggumu ganti baju." Master B berseru tegas di tempatnya.


Aurora membungkukan tubuhnya, meminta maaf. "Baik Master, maaf karena membuang waktu anda percuma."


Master B tidak membalas lebih lanjut. Memasang wajah sedatar mungkin hingga siapapun dibuat takut karenanya.


"Lo lama." Bayu berbisik tajam.


"Ya karena gue denger Kak Bayu orang yang hebat. Jadi, persiapannya  harus lebih dari kata yakin bisa ngalahin." Aurora membalas sarkas.

__ADS_1


Bayu tersenyum tipis, lebih mirip seringai meremehkan daripada senyum kesenangan. Pemuda itu jelas tahu jika kalimat Aurora tidak bermaksud memuji. Justru  merendahkan.


Seperti pertandingan lainnya, kedua petarung segera mengatur jarak, membungkuk sebagai tanda hormat dan segera memasang kuda-kuda kokoh.


Pertarungan kali ini Bayu menjadi lebih ganas dan agresif. Sesaat setelah memasang kuda-kuda, pemuda  itu sudah merangsek lebih dulu. Tangannya teracung, siap memukul. Tapi, dengan segala kesiapannya, Aurora berhasil menghindar. Melompat ke belakang dan bergeser ke kanan.


Bayu kembali melancarkan serangan, meju dengan lompatan dan tendangan ke depan. Aurora menghindar sekali lagi. Bayu memukul dari kanan, Aurora bergeser setengah langkah ke kanan. Bayu menyerang sebelah kiri, Aurora melompat dua kali ke  belakang.  Serangan demi serangan dari Bayu hanya dihindari oleh Aurora tanpa melancarkan serangan balasan.


Sesaat berhenti, keduanya terpisah jarak dua meter, posisi siaga.


Aurora bersiap menghindar karena Bayu sudah kembali maju. Lagi-lagi kepalan tangan Bayu mengudara, mengincar bagian perut dan saat Aurora hendak menghindar, Bayu berkelit ke samping kanan gadis itu. Menjegal kaki Aurora hingga sang empunya jatuh berdebum.


Skor di papan menunjukkan angka 1-0 untuk Bayu.


Pemuda itu jelas menampilkan  senyum angkuhnya dan menatap Aurora remeh. "Khas petarung amatir, gitu aja terkecoh. Dasar anak-anak."


Deg


Aurora membeku, kalimat itu sama persis seperti kalimat yang ia ucapkan pada Bintang dulu. Dengan posisi yang hampir sama.


Sekejap ruangan menjadi lenggang, Aurora tak kunjung bangun dan Bayu masih tidak bergeming. Beberapa diantaranya berbisik mengenai kalimat yang dilontarkan Bayu sambil melirik Bintang yang juga terdiam.


"Jangan kepancing Ra! Fokus kalahin Bayu aja!" Bintang, pemuda itu berdiri dari duduknya. Meneriakkan kalimat penuh semangat yang manjur membuat Aurora kembali berdiri.


"Sekali lagi kamu dijatuhkan, pertarungan selesai!" Master B berseru.


Aurora memgangguk—tidak perlu diingatkan, ia sudah tahu aturan pertarungan ini


Empat puluh detik menjadi waktu yang sangat cepat untuk mengalahkan Bayu. Sadar atau tidak, Aurora mulai bisa memahami pola serangan Bayu. Jika tadii menggunakan gerak tipuan dua kali, berarti sekarang strategi pemuda  itu adalah gerak tipuan tiga kali. Setelah menghindari serangan pertama yang datang ke arah kaki kiri, serangan kedua yang mengarah pada perut, maka Aurora menebak bahwa serangan ketiga yang tepat akan mengujam wajahnya adalah serangan sesunghuhnya.


Segera saja gadis itu menahan laju tinjuan Bayu dengan tangannya, lalu membantig tubun besar Bayu ke matras dan segera menguncinya.


"Tipuan-tipuan itu udah gak berlaku buat gue," bisik Aurora tajam sesaat sebelum kembali ke tempat dan memasang kuda-kuda.


Bayu mendesis marah.


Dari hasil pertarungan kedua, maka bisa dipastikan Bayu yang sudah terbakar emosi karena ucapan Aurora kalah telak dengan pukulan yang bersarang pada rahang bawah pemuda itu.


"Kan, udah gue bilang lo itu gak lemah. Bayu cuma mau mancing emosi lo aja." Bintang dengan segala kebanggaan karena tebakkannya benar merangkul pundak Aurora. Berjalan melewati koridor sekolah yang masih ramai karena ekstrakurikuler belum selesai.


Jika kalian bertanya kenapa Aurora dan Bintang bisa pulang lebih dulu, jawabannya adalah karena Master B langsung pergi begitu saja setelah melihat Bayu terkapar. Sedikit kecewa karena murid nomor satunya setelah Bintang kalah oleh seorang perempuan, tapi juga ada setitik rasa bangga yang menyembul ke permukaan saat melihat Aurora menang. Setidaknya kemampuan anak didik perempuannya itu sudah meningkat.


Aurora tersenyum lebar seraya mengguk. Membenarkan ucapan Bintang.


"Makasih tadi semangatnya, Kak," ucap Aurora.


Bintang mengangguk. "Gak masalah," sahutnya. "Mau susu stroberi?" tanyanya.


Aurora menoleh. "Lagi? Emang Kak Bintang bawa."


Bintang menunjukkan cengiran khas. Lalu mengusak rambut Aurora dan segera mengatur jarak dengan gadis itu. "Enggak," katanya setengah berteriak.


"Ih, rese ya." Aurora berlari kecil ke arah Bintang sambil bersungut.


"Dih, ngambek." Bintang terkekeh. "Mau beli gak? Gue mau mampir ke indomaret dulu."


"Traktir."


Bintang mengangguk. Setuju saja daripada suasana hati Aurora berubah buruk.


"Ayo cepet," ajak Aurora sambil menarik Bintang agar berjalan lebih cepat.

__ADS_1


Di belakang, Bintang hanya bisa tersenyum sambil melihat ke arah tangannya yang di genggam Aurora. Tangan kecil yang entah terasa sangat hangat. Dan Bintang menyukainya.


__ADS_2